Mohon tunggu...
Taufan S. Chandranegara
Taufan S. Chandranegara Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Setiap Hari Jadi Artikel

24 September 2020   10:43 Diperbarui: 24 September 2020   10:47 121 13 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Setiap Hari Jadi Artikel
Photography by Tasch 2020

Nah! Hamba mau berbagi cerita lagi ya. Ngobrol warung kopi yuk!

Kadang-kadang suntuk-galau enggak jelas. Mentok serasa buntu kale ya. Ide-ngambek, macet ogah diajak kompromi. Sebabnya bermacam hal, beragam keadaan masing-masing, bisa personal atau hal lain. Yaa, intinya ada gangguan penyebab, ide ogah mengalir seperti lazimnya deh, semisal begitu teman hehehe.

Gampang banget, kalau lagi buntu-ide ogah kompromi. Coba cari angin di halaman rumah, liat angkasa, ada langit lengkap isinya, sore indah-malam gelap, kelip-kelip bintang di langit. Kalau, tak musim pandemi 'iblis covid', tentu bisa ke berbagai ruang rekreasi sesuai kocek, pastinya dong.

Kalau sekiranya sobatku telah berkeluarga, bisa lebih murah tanpa biaya. Manggil ide biar nongol-ngobrol deh dengan si bungsu balita-lucunya dia, ngobrol dengan kakak, suami, sanak famili, sebagaimana kasih sayang mengalir di rumahku-istanaku.

Lagi-lagi, dibutuhkan santai but focused, mencari pemantik ide, caranya; Melihat-Mendengar-Menyimak. Bisa dari kelucuan adik tertawa terkekeh-kekeh, itu salah satu makna visual, 'Melihat', banyak rekaman peristiwa terdekat, jadi pemantik ide loh.

Dengan 'Melihat', visual adik tadi jadi ingat 'Ayah atau Ibu', lalu 'Mendengar', suara adik menjawab pertanyaan dari kakak, 'Menyimak', ingat ayah pidato di podium-kolaborasikan dengan pustaka pribadi di pikiranmu.

Blink! Kata 'Pidato', terekam dari masa lalu-jangan menunda, setelah dirasa nyaman, nulis deh. Dari kata 'Pidato', satu kata berjuta makna-jadi artikel, cerita pendek, esai politik, cerita musik, cerita fabel, lanjut sesuka pilihanmu. Jadi, tak ada istilah 'tak punya ide-ide padam', ide-ada, nempel di sekitar kita. Jadi dilarang males, iyauw!

Setiap insan punya sensibilitas. Yuk! Kilas balik ke dasar episentrum-nya 'seni adalah perasaan', inheren intelegensi, imajinasi, menyerap makna empiris bilah luar di cerna akal budi. Nah loh! Jadi cerpen nih. Gegara hamba cari-cari buku lama. Salam sehat! Masker jangan kendor. Salaman.

***

Cerita Opera Buku
Oleh: Taufan S. Chandranegara.

Apa betul kamu sedih? Jika tak ada cerita lagi di halamanmu. Bener nih? Peter Pan kisah peri itu kini lebih banyak di media daring, lantas kau sedih kau sobek sendiri halaman kisah itu, juga termasuk tentang Snow White and The Seven Dwarfs, juga kisah H.C. Anderson. Kenapa harus kau sobek? Marah, karena kau tak lagi diperhatikan. Benar begitu kah?

"Entahlah", desah itu menggema di frekuensi alam raya. Jring! Jring! Seumpama ada musiknya. Lantas terbukalah layar kisah-kisah.

Mencoba menarik perhatian para malaikat karena kau rindu keajaiban sebagaimana lampau menuliskan kisah-kisah tentang Timun Mas atau Si Buta Dari Gua Hantu-Ganes T.H, atau cerita komik Mahabharata-R.A. Kosasih, atau kisah tentang Lutung Kasarung, cerita dari susastra klasik Pasundan atau tentang cerita Seribu Satu Malam? Aladin, kini telah masuk ranah digital video, itu juga kan membuatmu sedih?

"Baiklah kalau begitu kita ngobrol tentang apa saja, hal ihwal membuatmu galau luar biasa. Bagaimana?"

Tak ada jawaban hanya diam. Lantas dengan serta merta dia merubah diri menjadi buku raksasa, menjelma menjadi Kaisar Nero, dalam kisah membakar kota imperium demi arogansi kekuasaannya. "Hah! Hua haha!" Lantas berubah rupa lagi, menjadi Romeo nan elok mengendarai mobil sport mencari Juliet-Shakespeare bingung tuh.


Terpana melihat adegan per-adegan. Piawai berperan sebagai-Christopher Columbus,  mampu meyakinkan para bangsawan bahwa telur bisa berdiri. Serentak dengan-staccato bunyi orkes "Dur! Dur! Dem!" Kau kembali merubah diri seiring orkes simfoni-Wolfgang Amadeus Mozart. Lalu kau kembali merubah diri dalam kisah-Rock Opera-Ken Arok, dari maestro musik kontemporer Harry Roesli.

Begitu banyak permintaanmu. Malaikat, sangat sabar memberi keajaiban seperti pintamu, lantas kau ingin pula seperti mereka, punya sepasang sayap bisa terbang mengarungi dunia, kau ingin singgah di planet-planet. Para malaikat menolak permintaanmu, tak ingin kau seperti mereka, punya dua sayap sama persis, bahkan bisa berganti-ganti warna sesuai kehendak perasaan pemiliknya.

"Tidak mungkin kami memenuhi permintaanmu. Maaf." Sabda para malaikat tegas.

Lantas kau penasaran kembali melompatkan dirimu di hadapan mereka, seolah-olah kau bisa terbang tanpa sayap, meski akhirnya kembali selalu jatuh bergedebam, mengguncang menggetarkan sekeliling, bahkan para malaikat terpental berlompatan, beterbangan, terkesiap terkaget-kaget.

"Stop! Jangan membuat gaduh alam semesta." Koor para malaikat, paduan suara indah namun terasa tumpang tindih, agak aneh dengan notasi seperti itu.

"Kalau begitu penuhi permintaanku. Hanya membuat dua sayap. Apa susahnya sih! Kalian para malaikat pemilik anugerah keajaiban. Baiklah, jika masih berkelit aku akan kembali melompat menerbangkan diri sesuka hatiku."

"Jangan!" Serentak koor para malaikat. "Baiklah, Begini penjelasannya, simak baik-baik. Kami tidak bisa memberi sayap kepadamu. Karena kau bukan makhluk hidup, engkau benda terbuat dari tumpukan kertas, di jilid lantas diberi nomor halaman", bersamaan dengan akhir kalimat itu. Kau menutup kembali halaman kisah-kisahmu.

Para malaikat, terbang ke tempat asalnya, tanpa menoleh untuk sedikit basa-basi. "Itu malaikat ngambek nggak ya", di benakmu. Tanpa sayap, tak bernomor halaman.

Jakarta Indonesia, September 24, 2020.


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x