Mohon tunggu...
Taufan S. Chandranegara
Taufan S. Chandranegara Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Cerpen | Solilokui Renda-renda Niskala

23 Mei 2020   23:50 Diperbarui: 24 Mei 2020   07:44 134 36 9 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Solilokui Renda-renda Niskala
Image by Tasch 2020 Kompasiana


"Gill. Apa sekarang ini di pikiranmu?"

"Kosong. Tak ada apapun."

"Oh? Ya. Begitu ya."

"Ya." Hening membalut dua hati. Entah berpaut entah tidak.

Ada banyak peristiwa di sekitar kita. Juga mendunia, juga biasa-biasa saja, juga viral kata istilah kini, serupa gelegar populer barangkali. Entahlah. Ambiguitas istilah, sedang marak bermusim, kadang sekadar lewat jadi isu mencuat terbolak balik.

"Kangen...."

"Ya..."

"Nun jauh di sana."

"Semua cinta di antara waktu."

"Mosaik interlud nyanyian rindu."

"Ya..." Merebahkan perasaan jingga melebur pada hijau kesegaran alami. Lantas kita saling memeluk bahu. Saling mencium kening.

"Sedang apa ya mereka di sana..."

"Kau tak ingin membuka daring? Melabuhkan rindu pada mereka?"

"Pedih. Kangen... Biarlah seperti ini."

"Menjaga air mata..."

"Ya."

Keduanya duduk saling berpunggung. Keduanya serentak menghela nafas panjang, dalam, di hembuskan pelahan. Tak jua sirna rindu di antara waktu berlari. Tergaib pula nurani kangen memeluk.

"Sik? Bagaimana perasaanmu..."

"Berpola beragam rupa. Kau?"

"Seperti berputar di pusat episentrum segera menggelegak tawa di antara tangis." Keduanya lantas merubah posisi saling berhadapan, saling memandang, merasuk kedalam jiwa nan sunyi di rantau suaka kisah-kisah peristiwa ke peristiwa, terikat, saling mengikat.

"Karena kita manusia pemilik cinta kasih." Serentak keduanya mengucap lirih kalimat itu. Kedua tangan mereka saling mengusap pipi tanpa air mata.

"Kita harus mampu menjaga air mata." Suara keduanya lirih pada sunyi mengambang di awang-awang. Langit memberi berkat gemerlap kerlap-kerlip gemintang. Terasa keduanya dalam kudus nurani. Wajah-wajah terkasih tergambar di bola mata masing-masing oleh rindu sejiwa. Keduanya, saling memberi senyum di hening.

"Ucapkan saja Gill, agar kita lega..."

"Ya. Satu. Dua..."

"Sungkem..." Keduanya serentak, saling memandang bola mata, di sana, ya di dalam mata itu gambaran perasaan itu.

"Apa lagi mau mu?" Keduanya masih berhadapan, masih saling memegang pipi menjaga air mata. Alam memberi jawaban keinginan mereka.

Hujan ketupat dari langit di sertai aroma masakan Ibunda, aroma tembakau cangklong Ayahanda, berbaur dengan opor ayam, lodeh kacang merah pedas manis, suara adik-adik bercengkerama di sela-sela suara gembira menyambut kemenangan kakak-kakak, sanak famili, dalam aroma kolak ubi campursari kolang-kaling, es campur rasa duren, wangi ketan daun pandan diguyur saus buah kurma panas kesukaan kami, di antara kue nanas beterbangan.

Takbir menggema di langit. Para malaikat membawa mereka terbang keangkasa. Ganjaran pengabdian keduanya pada sesama tanpa pamrih ikhlas dalam khusyuk terpanjang tugas-tugas kemanusiaan.


Jakarta Indonesia, May 23, 2020




VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x