Mohon tunggu...
TASCH GONG2020
TASCH GONG2020 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Cerpen | Tenung Patogenesis

21 April 2020   13:58 Diperbarui: 21 April 2020   14:11 80 15 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Tenung Patogenesis
Kompasiana: Image by Tasch 2020

Dalang membuka perhelatan wayang dengan suluk kontemporer.

"Manusia baik akan tetap baik. Manusia jahat belum tentu bisa baik. Mawar berduri tumbuh di padang tandus. Bunga Anggrek Jingga, tumbuh di taman langit. Oi! Wong! Gong! Sahibulhikayat membuka kisah tersurat dan tersirat. Blank! Blank! Gong!"


Lampu sentir memainkan bayang-bayang wayang, bagai kelebatan imaji menenung penonton. Lantas tepuk tangan riuh mengangkasa. Suitan gembira-ria membahana.

Kisah wayang kontemporer, di buka dengan adegan:

"Biang keladinya wajib dicari dengan cara apapun. Tak boleh tinggal diam, jadi begog, bebal, jika terlalu lama berfikir. Sekarang ini kecepatan dengan ketepatan tindakan kita, menghentikan pertempuran 'biological weapon', tenung kontemporer buatan manusia biadab ini. Dam! Lakukan sesuatu!"

"Aku sedang berfikir cepat. Pelakunya pasti sudah dihapus tuntas, mati, oleh pihak mereka sendiri. Mau tidak mau kita kembali ke-kerajaan langit. Bertemu langsung dengan Raja Dewa, ngomong apa adanya, masalah sesungguhnya terjadi."

Lantas keduanya melesat menuju pintu istana langit. Semua terkunci rapat. Bahkan Dewa Narada, biasanya keluyuran patroli di taman langit pun tak ada. Dam, membuka suara.

"Sampurasun. Apakah ada makhluk dewa di dalam sana?"

"Wah! Wah! Wah!" Suara Narada dari kejauhan. "Social distancing. Enggak tau ya, lagi banyak penyakit kepo Bro! Walah kadalah piye toh, malah nyambangi kami. Bikin gaduh angkasa."

"Eyang! Jangan di-disinfektan ya ke kami bikin iritasi kulit tau. Mohon hampura Eyang. Mau ambil obat anti-rusuh, itu di planet bumi lagi pada rusuh."

"Wah! Hahaha. Dewa Narada Ngakak terpingkal-pingkal... Itu akibat, sinau ora do pinter-pinter. Mulane do pangerten, belajar menguji diri sendiri, sudjud syukur kepada Sang Hyang Jagad, pemberi hidup, apapun rizki telah di anugerahkan, terima sepenuh ikhlas. Jangan rebutan korupsi! Korbannya lagi-lagi sesama juga kan? Ciloko tenan toh...wek kek kek oalaa! Jreng! Gonjreng!" Dewa Narada, sembari terkekeh-kekeh, lanjutnya. "Oke tunggu di lereng Dieng, akan kami kirim bantuan maksimal langsung ke wilayah itu."

"Enggak bisa Eyang! Istana Amarta, lockdown, total, karena massal menderita sakit radang gigi bengkak gusi!" Suara cantik Linksi. "Eyang! Sekalian ganti ongkos jalan kami ya."

"Wak kak kak... Dasar cucu kontemporer... hadeuuuh! Ini lagi masa paceklik Nak! Ya wes! Aku ganti permen karet saja ya biar suaramu ora ceriwis! Hehehe... Ya wes... Hayo segera pulang. Segera dikirim, sebelum kalian tiba di lereng Dieng, kiriman sudah sampai, menantimu ya."

"Sip! Eyang!" Kedua cucu kontemporer itu, segera melesat terbang menuju lereng Dieng.

Alangkah terkagum-kagumnya Linksi dan Dam, ternyata Eyang Narada, membuatkan istana-kota steril, sebagai tempat singgah sementara evakuasi, termasuk pengganti istana Amarta. 

Terlihat hadir paman Bimasena, Gatotkaca, beserta para satria bening nurani lainnya, di dukung pula oleh pasukan elite negara kerajaan, mengawasi, mengatur evakuasi warga Hastinapura City Terpadu, tertib antrian. 

Rumah singgah steril itu lebih layak huni di banding sikon-tak kondusif di Hastinapura City Terpadu, tengah polusi massal penyakit radang gigi-gusi.

Para panakawan, menghibur pengungsi dengan nyanyian banyolan rame-rame, Mas Gareng membangun semangat agar anti-body publik Hastinapura City Terpadu, bangkit, kuat, berani, tenang, cerdas tangkas, terang hati, menang! Terlihat pula Mas Petruk, tengah sibuk menyiapkan makan massal di dapur umum bersama Mas Togog, membantu Bunda Kanastren, ibu dari anak-anak Semar.

Di Puncak Dieng, Semar tengah berdialog, meting jarak jauh dengan segenap anggota Parlemen Istana Langit, dipimpin oleh Raja Dewa, ditengah semarak euforia bisik-bisik isu profit kapital kepentingan personal. Semar, geram mengamati perilaku para personal tak senonoh itu, lantas dengan kesaktiannya, diam-diam Semar, menghembuskan kentutnya ketelinga peserta nakal, tak sembuh-sembuh itu.

Jakarta Indonesia, April 21, 2020.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x