Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Esai dari Pinggiran: Syair di Antara "Ego" Peradaban

17 Oktober 2019   12:21 Diperbarui: 17 Oktober 2019   12:25 0 10 6 Mohon Tunggu...
Esai dari Pinggiran: Syair di Antara "Ego" Peradaban
Foto Dok: Tasch 2019 Kompasiana

Pencuri nasib, tetap menjadi pasir bernyanyi di hempas ombak pantai kian kemari, oleh sekadar angin sepoi sekalipun. Tak perlu badai, sebab badai telah menjadi kepura-puraan pada satu kepentingan tersirat, sekalipun tersurat, seakan-akan sang syair dalam wacana lagu sendu atawa seolah-olah, alih-alih sedih amat.

Mendayu, semakin ragu kata sang syair, ketika mencurigai persahabatan, takut jatuh menjadi cinta tersia-sia, tersirat, sekali lagi sekalipun tetap alih-alih tersurat. Apakah itu merupakan sekadar kisah, kata sang syair, bagai sebuah supergrup nyanyian sumbang berlabel palsu berteriak dari balik jendela-jendela.

Kebenaran, kata pepatah, kokoh di kebaikan. Relativitas, tetap menimbang pikiran terjaga, mengawasi aklamasi, menimbang nasihat bayang-bayang. Perlu kehati-hatian. Perlu tetap meningkatkan kewaspadaan, senantiasa.

Mewaspadai, krisis identitas, tiruan, di menara-menara angkasa, tiruan, di keping-keping nurani abu-abu, mungkin, akibat pola ketamakan, hingga sudi memelihara kecurigaan, sebab dikecewakan oleh 'ego' di dalam peradaban tubuh sendiri.

Kadang keinginan tak sesuai harapan, barangkali istilah itu anomali klise dari perumpamaan bimsalabim. Ketakutan terhadap perubahan. Ketakutan terhadap pikiran cemerlang, terang hati, benderang, terbuka langit, tanpa pretensi. Sebuah harapan.

Perubahan melahirkan banyak hal positif berjalan dalam rancangan desain sebagaimana mestinya, baik dalam laku teks, riset, maupun pemikiran. Jika nalar dapat menerima sebagai aturan kritik, akan menjadi stimulus menuju pola kesepadanan, kebersamaan, di kesetaraan kemanusiaan, menuju peradaban baru.

Pada pola asuh istilah kini, bisa juga, kritik, disebut mendekati demokratisasi pendapat dalam teks-pikiran, barangkali. Meski ada juga, melihat perubahan, hanya, pada sisi melulu negatif tak habis di kayuh.

Sebuah pandangan mampu menjadi inspirasi, keseimbangan, bisa estetis bisa juga absolut keren, jika berani melihat, pandangan, sebagai pemikiran 'akal budi' menuju suatu perubahan positif.

Menyongsong pagi nan indah, sore nan adem, menggelar tikar kebahagiaan melihat perubahan, pencerahan, menuju publik Indonesia Bersatu. Lantas malam gemintang bersyair rembulan peraduan mesra kasih sayang.

Interlude, menjadi aksara panjang ketika keinginan telah dinyatakan. Konsonan tak tepat, mungkin, akan masuk tong sampah, akibat takut pada kritik? Tidak dong. Hai! Halo!

Tidak boleh takut pada kritik bijaksana, demi kemaslahatan bersama, menyambut esai perubahan positif hasil dari mufakat, makrifat, akurat, paripurna, legal dari rakyat untuk rakyat, telah ditetapkan oleh pilihan publik, dilindungi hukum positif, formal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2