Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Esai dari Pinggiran: Indonesia Baik-baik Saja

22 Mei 2019   13:56 Diperbarui: 22 Mei 2019   17:15 0 64 27 Mohon Tunggu...
Esai dari Pinggiran: Indonesia Baik-baik Saja
Kompasiana Tasch 2019

Langit mendung hal biasa. Hujan deras, badai menggugat halilintar bukan fenomena luar biasa. Alam juga perlu merentangkan tubuh lelahnya, setelah jutaan tahun memberi senantiasa kebaikan bagi penghuni planet bumi, meski plastik merajalela di sungai-sungai, alam tidak marah, lautan telah menjalankan tugasnya, dengan seksama, menenggelamkan plastik hingga kedalaman seperti kehendak ketentuan sang lautan.

Namun, jika 'kaum plastik' itu berakibat pada polusi ekosistem toh bukan alam penyebabnya, makhluk hidup di planet ini, siapapun, akan menanggung akibat lakonnya, barangkali hal semacam itu disebut siklus hidup, sekali lagi mungkin dan barangkali. Sebab makhluk hidup, siapapun, bukan penentu, hidup-mati, diri sendiri, sekalipun, kecuali berani bunuh diri. Perilaku, menentukan, kaidah perubahan, baik negatif maupun positif, itupun sekali lagi, mungkin dan barangkali.

Takabur, bukan sebuah kalimat nasihat, meski tergantung pada rujukan kalimat itu, apakah akan berubah menjadi kata sifat atau kata kerja, atau kata berlari kian-kemari, semacam lempar batu sembunyi tangan, ataupun menjadi kalimat takkan lari gunung dikejar atau berubah menjadi kisah misteri hantu-hantu zaman romantisme kegelapan, lantas dilipat-lipat menjadi ujaran absurd tak terperi, melindas iman dalam saku, malu menjilat ludah sendiri.

Nasib makhluk hidup, kalau ada, sang nasib itu, tidak ditentukan algoritma, matematis, demikian pula sebaliknya, akan tetapi, algoritma hadir, dicipta sel otak makhluk hidup, sekadar alat bantu seperti sepasang sendok-garpu, tak akan bergerak jika tak digerakkan sistem kehidupan, memberi ruh hitungan matematis pada para partikel, misalnya. Namun, algoritma, bukan selalu penentu, hidup, bilangan dalam perkalian, angka-angka, alfabetis-rumus-rumus, diagonal sama-sebangun, x-y pangkat dua lantas dikali lima, sama dengan, nol, menjadi antah-berantah, praduga-praduga. 

Ilmu pengetahuan telah ada, hadir lengkap dengan segala bentuk rumus-rumus di sel otak makhluk hidup, salah satunya, manusia, misalnya. Hanya diperlukan pemantik edukasi. Benar atau salah menjadi relatif dalam keseimbangan ketentuan-ketentuan, hukum-hukum, telah berlaku di alam raya diserap tradisi-tradisi nenek moyang makhluk hidup-menuju kini.

Pasca-modern, atau katakanlah zaman millennial kini, bukan hal hebat, lantas segera mampu menghentikan garis lingkar putaran matahari. Oh! No. Hanya sebuah pola dari kehidupan berkesinambungan, itu sebabnya pula, ada tradisi baik, mumpuni, peninggalan leluhur purba, sederhana sekali: Hidup saling menghormati. Hal itupun, tidak dimaksudkan sebagai nasihat kebaikan saja. Sebab makrifat, mufakat, telah tertulis dalam ikhlas, dilogika-akal budi, di sel-sel otak makhluk hidup, manusia, misalnya.

Indonesia baik-baik saja. Perubahan, tidak, harus merubah garis lingkar putaran purnama ataupun menyulap alam dalam sekejap menjadi terang-benderang tanpa sentir, atau malam segera menjadi siang. Di alam raya ada hukum Science Ilahiah, antara lain, telah ditentukan garis edar matahari-rembulan, menjadi terang-gelap sebagaimana waktu telah memberi kepastian tanpa, mencurigai algoritma.

Selamat datang matahari. Selamat datang rembulan. Hari baru menuju perubahan, terang ataupun gelap-siklus penentu waktu, menyambut, rancangan pemikiran-desain; Ibu Kota Negara, baru, sebuah perencanaan iman, pengembangan, pemerataan tata laku hidup, masa depan Indonesia Unit. Semoga, sebuah harapan.

Jakarta, Indonesia, May 22, 2019.

*) Terima kasih anda telah membaca artikel ini. Salam baik.