Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Analisis Jungkir Balik

21 Juli 2018   12:10 Diperbarui: 21 Juli 2018   12:35 0 31 13 Mohon Tunggu...
Analisis Jungkir Balik
Kompasiana image by Gong 2018

Kalau cinta memburu mu simpan saja di ruang hatimu, jika malas titipkan saja pada tetangga sebelah, atau pada kucing kebetulan lewat. Kau kira cuma di hatimu ada hal macam itu. Cinta membuat manusia kadang mabuk kepayang, katanya karena menyangkut persoalan hati. Binatang pun punya hati juga punya cinta. Lihat saja singa si raja hutan menciumi anak-anaknya dengan penuh kasih.

Alegori kadang mampu memberi keyakinan membawa manusia mengalun nina bobo bersama mimpi malamnya atau ketika terbangun tentang suatu hal mendekati semacam keadaan perasaan seolah-olah baru saja mengalami suatu realitas, entah seperti atau semirip cerita nina bobo sebelum tidur, terasa seakan-akan pernah ada di suatu tempat, semacam Dj vu mungkin.

Apakah itu akibat pencerapan sistem metabolisme oksigen menuju otak atau akibat rekaman peristiwa semacam angan barangkali terserap perasaan mengkristal di hati lantas jadi mimpi-mimpi, apapun mimpi itu. bisa membuat kesal, nyaman atau geram sekalipun, semirip membaca cerita tentang suatu hal, meski sebenarnya sulit menebak makna di balik secuil pun kata dari sebuah peristiwa dalam sebuah cerita apapun itu.

Serupa suatu keheranan ketika tebak-tebakan soal nasib manusia atau hukum penentu sehubungan dengan hal semacam. Itu sebabnya diperlukan diagnosa suatu perkiraan barangkali, agar tebak menebak tentang gejala suatu hal tak terlalu meleset jauh. Barangkali juga itu bedanya strategi politik dengan kesehatan atau kebudayaan atau penciptaan kuliner sedap. Namun katanya diagnosis diperlukan untuk deteksi awalan.

Baiklah apapun itu manusia wajib baik-baik saja. Tak ada pertanyaan atau pesan mengatakan, semoga jahat-jahat saja. Soal basi-basi atau tidak itu soal lain lagi, barangkali serupa senyum atau melotot ketika memberi sekantong cinta atau segenggam cinta meski entah, mungkin waktu tertentu bisa saja cinta segenggam atau sekantong molos-menyelinap, waktu akan menjadi saksi, bisu tentu saja.

Lantas muncul persoalan baru lagi, kalau saksi oleh waktu, bisu, cinta mungkin akan terus menyelinap di ruang-ruang hati justru konon malah beradaptasi dengan waktu. Apa harus dilakukan manusia ketika persoalan justru beradaptasi dengan waktu. Lagi, kesalahan pada waktu, mungkin, seperti ketika janji jadi terlambat datang, oleh sebab kemacetan. Lantas muncul tuduhan, beralasan.

Maka sulit menjadi akal menuju kesimpulan seperti mitos telur dan ayam, itu sebabnya pula Christopher Columbus (1451-1506), meretas sedikit dengan tekanan ketika meletakan telur agar bisa berdiri di tempat datar. Sejarah, konon, menjadikan hal itu serupa tapi tak sama dengan alegori, atau cerita itu mitos pula, barangkali. Salam bahagia hari ini.

Jakarta, Indonesia, July 21, 2018.

*)Terima kasih telah membaca artikel ini. Salam bahagia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x