Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Seputih Putih

21 Juni 2018   15:17 Diperbarui: 21 Juni 2018   15:47 0 27 21 Mohon Tunggu...
Cerpen | Seputih Putih
Kompasiana image by Gong 2018

"Belum pula ku bayar utang rokok di warung depan itu. Alamak lupa. Tidur dululah, kantuk tak mau berdamai. Semoga ketemu bidadari dalam mimpi pun okelah." Gumam imaji di benaknya.[]

"Supar! Kau tak rindu kampung halaman. Tak rindu pada tetua rumah adat." Itu suara si Lolipop, sial mengapa pula dia hadir di kota jauh ini. Dia itu perempuan baik tapi gemar cantik, meski bukan pesolek, hobi lagu-lagu berlanggam cinta zaman ku lampau sembari mengulum-ngulum permen lolipop, sobat di kampung halaman sejak sekolah menengah pertama hingga menengah atas. Mengapa pula dia muncul disini. Nama sebenarnya adalah... Tak perlu lah! Biar saja kalian kenal dia dengan nama itu.

Tak lama aku dengar suara lain memanggil namaku dengan lengkap. "Supartuji." Tak ada lain, pasti si Domo, tunangan si Lolipop, itu kabar terakhir. Hanya Emak dan Bapak ku memanggil dengan nama selengkap itu. Bapak seringkali menegur Emak kalau memanggil namaku tak lengkap. Oh! Cinta nian aku dengan sepasang kekasih jiwa tetua adat rumah ku, sangat aku hormati, cinta selengkap sayang lebih dalam dari Samudera Hindia, aku, pada keduanya.

Benarkan, muncullah tampang seperti kotak sabun, tapi paling kaya di desa. Domo, dari keluarga bersosial tinggi, banyak menolong masyarakat desanya juga sekitar desa lain. Bapaknya juragan beras dengan subak hektaran, lumbung padinya pun bercabang-cabang, termasuk juga pabrik pengemas beras untuk di ekspor, melayani pesanan usaha dagang di Ibu Kota. Cakap lah hidupnya, sudah bergelar pula dia, tamat kuliahnya.

"Supartuji!" Pelukan hangat seorang sobat.

"Hahaha! Domokus! Tampak keren kau." Kami saling berpeluk erat.

Saling menyapa, segala kelakar hal ihwal, kami, berkopi oleh-oleh tersedap dari kaki-kaki gunung sebelum pendakian, kenangan. Lolipop, asyik bersenandung di atas pohon Jambu, itu memang kebiasaannya kalau kami para lelaki sedang ngobrol di kebun belakang rumah, entah itu di rumah ku atau di rumah kerabat lain. Sesekali si Lolipop berkicau. Tak jauh dari pertanyaan, atau, kabar pacarku kini telah jadi arsitek beken sekaligus dosen di perguruan tinggi.

"...Sebab itu pula kau ditinggal. Jadilah kaya! Berhentilah ngobrol dengan Aristoteles mu. Sekarang zaman tekno, modern arsitektur... Peradaban telah maju Supar!" Suara lantangnya bak membaca sajak-sajak semangat mahasiswa. Akh! Masa almamater teramat indah itu.

"Hahaha! Kakak. Filsafat itu hidupku..."

"Ngopi pun kau bahas pula, dari ampas sampai tata cara bernegara..."

"Hehehe. Biarlah Adik, induk madu si Supartuji itu kan Plato dan Socrates... Hingga si Aristoteles, murid si Plato. Hehehe." Tukas Domo pada Lolipop.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x