Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Sembelit Melilit

20 Juni 2018   04:35 Diperbarui: 20 Juni 2018   05:29 0 21 11 Mohon Tunggu...
Cerpen | Sembelit Melilit
Kompasiana image by Gong 2018

Kutukan atau bukan terserah di hati. Menyebalkan sekali bagi Kohtru. Sejak pulang dari desa seberang sungai itu, dari rumah si Durkam, perutnya terasa melilit. Tak biasanya pula ia melewati pohon beringin, menaungi makam keramat anonim, pada hari-hari tertentu lumayan para pengunjung entah siapa, dari mana, ziarah, juga tak jelas benar bagaimana mereka sampai ke makam itu.

Hanya ada jalan setapak setelah sungai, mendadak naik meninggi sekira tujuh ratus meter diagonal kurang lebih mungkin sekitar perkiraan tiga puluh derajat kemiringan naik, meninggi. Nah! Di puncak bukit sebelum menurun itulah letak tiga beringin menaungi makam anonim itu. Jreng! Ramai pula para penjual beragam penyerta dahaga, buah-buah segar, juga kebutuhan pelengkap ziarah.

Namun pada jam tertentu di hari tertentu pula keadaan di atas bukit itu selalu tampak sepi, seakan tak pernah ada makhluk apapun pernah berkunjung. Kapan, juga bagaimana kejadiannya di tempat itu kemudian ada makam. Penduduk desa, Kohtru, pun tak jelas benar awal mula asal usulnya. Makam berikut pohon beringin itu tanpa terasa sejalan waktu seakan-akan muncul begitu saja.

Kohtru, ingat betul, di atas bukit itu dulunya semacam ada hutan kecil bersemak pekat, berhuma-huma, rapat pohon beronak berhimpitan belukar. Dia bersama Durkam sering berburu capung di sekitar pinggiran wilayah itu, untuk pakan burung murai batu milik masing-masing, mereka belum pernah berani masuk kedalam hutan itu. Entah mengapa hari ini, setelah pulang anjangsana dari rumah Durkam, sobat sejak kecil hingga kini, rasa penasaran membawa dia melewati area makam anonim itu.

Tak sedap terasa di bulu kuduk. Meski siang bolong seterik matahari hari itu, keadaan sekitar makam terasa asing, Kohtru, seperti, merasa masuk ke dimensi aneh, namun kepala bandelnya tak peduli, ogah berfikir hal tak masuk akal, sekaligus agak sombong, mungkin juga dia tetap seakan-akan jagoan berani pula, terus saja, melewati wilayah itu setenang mungkin. Meski Durkam, sebelum Kohtru pulang telah mengingatkan untuk tidak coba-coba, sombong-sombongan melewati wilayah makam itu. "Loh! Kenapa!" Suara Kohtru meninggi.

"Kau kalau diberi tahu! Sombongmu kambuh!" Jawab Durkam.
"Lah! Kan aku tanya. Kenapa pula, di kau malah ngomel!" Lanjut Kohtru.
"Tak berubah rupa mu sejak dulu ya. Sombong! Terserah! Lewat, kalau benar berani." Peringatan, terasa dari kalimat Durkam, meski dia sendiri juga penasaran.

"Kau lupa waktu kita di kejar jejadian siang bolong di ladang jagung petani di balik bukit itu. Siapa nama petani itu?"
"Hahaha Pak Doyom. Jejadian kambuhan hahaha." Durkam ngakak mengingat peristiwa itu. Lanjut Durkam. "Kau berusaha lari mendahului aku. Hahaha, lantas mendadak celana pangsi mu tersangkut dahan berduri putri malu. Hahaha melorot!"

"Hahaha." Kohtru, ketawa lebih ngakak. "Lantas aku disergap harimau jejadian! Topengnya lepas aku cabik sekuat tenaga. Muncullah wajah Pak Doyom dibalik topeng manusia harimau palsu. Kakek-kakek berotot kuat karena membedah lahan sendirian, akibat  terlalu kikir dia hahaha."
"Hal itu itu pula membuat aku lari lintang pukang, seperti di dorong angin dari belakang, terbirit-birit, lari meninggalkanmu."

"Sebab itu pula setekad penuh aku mendorong Pak Doyom sekuat-kuat tenagaku ketika itu, sampai dia jatuh tercelentang hahaha. Benjol! Malamnya datang mengadu ke Bapak ku. Habislah aku, kerja membalik tanah lahan seharian, hukuman setimpal kata Bapak ku."
"Tapi aku tetap teman setia, menemani mu. Meski bekal rebusan ubi talas dari Emak mu ludes aku lahap hahaha."

"Kau memang menyebalkan. Sekaligus mengasyikan sobat." Keduanya lantas bersalaman erat. Persahabat mereka hingga kini seerat tali temali, Durkam, telah menduda, tanpa anak, isteri Durkam telah wafat karena sakit tak jelas. Konon akibat melewati makam anonim itu, bersama isteri si Kohtru, juga wafat beberapa hari kemudian. Isteri Kohtru dan Durkam, juga bersahabat sejak kecil. Gosip akibat kena bala dunia aneh-aneh seperti itu telah lumrah di desa kami hingga ke kota terdekat.

Itu sebabnya pula kedua bujang duda itu masih suka usil kalau melihat hal aneh apapun seputar isu dunia antah berantah. Dimanapun, kapanpun, pasti keduanya menyatroni dengan seksama, sekadar ingin tahu. Mencoba hal tabu dari satu syarat apapun tentang larangan dunia aneh, seajaib apapun. Sebab keduanya tak pernah percaya.

Sampai suatu ketika keduanya benar-benar menjumpai ular piton sebesar batang pohon kelapa kira-kira ukuran sedang, tanpa disadari awalnya, ular itu mereka duduki, karena kelelahan dari perjalanan berburu burung belibis, sebab ular itu telah serupa pula dengan warna pohon tumbang, di hutan lindung dekat lahan kelapa sawit tak berapa jauh kilometernya dari desa mereka. Langitnya pun tampak.

Sejak peristiwa itu mereka berdua mulai jarang bertemu lagi. Kapok. Mungkin. Nyaris keduanya dimangsa ular piton. Sebab lain lagi, keduanya ternyata disibukkan membantu Emak, mengolah ladang. Emak keduanya pun telah pula lama menjanda. Ayah Durkam wafat di seruduk celeng alias babi hutan, mengamuk, membabi buta, akibat kena panah di bagian paha kaki belakang oleh Ayah si Kohtru.

Ketika itu pula, Ayah Kohtru, mencoba menolong Ayah Durkam, saat situasi serba cepat, tak tentu, tak sempat pula mengukur kekuatan lawan, keduanya terdorong jatuh masuk jurang sedalam dua puluh meter kurang lebih, wafat seketika, sekaligus tertimpa binatang celeng besar itu. Namun binatang celeng itu tak ada bekasnya. Menurut pantauan, kerabat desa penolong, kemungkinan celeng itu masih mampu melarikan diri.  

Kohtru, masih sembelit jungkir balik merasakan perutnya melilit kacau balau. Emak mencoba menenangkan Kohtru. "Tadi makan apa. Dari mana?"
"Dari anjangsana ke rumah si Durkam." Suara Kohtru, ragu, sudah menduga jawaban Emak.
"Alah! Kau kerumah Durkam teman usil mu."
"Belum lebaran pula dia kesini. Emak belum sempat menengok Emak si Durkam pula. Bagaimana kabar mereka. Sehat keadaannya."
"Sehat Mak, Aduh! Terasa melilit perutku Mak."
"Iya! Tadi makan apa di rumah si Durkam. Sebentar emak buatkan bawang merah campur minyak kelapa. Usapkan ke perut mu biar hangat, akan kurang nanti rasa sakitnya." Hening sesaat.

"Aku belum pernah lewat makam itu Mak."
"Oh! Jadi tadi kau lewat makam itu." Jawab Emak. Suaranya sabar sekali.
"Iya. Karena penasaran sebab si Durkam."
"Masih juga kalian bandel, usil pada hal-hal dunia aneh macam itu." Jawab emak seraya senyum pada Kohtru. Lanjut Emak. "Manusia, kalau telah wafat. Tak kan mengganggu manusia hidup Nak." Suara Emak terdengar lebih sejuk dari gemercik suara sungai di belakang rumah, di bawah ketinggian, tak seberapa jauh dari rumah kami.

Tak lama Durkam datang bersama Emaknya, juga Pak Mantri. Segera ramailah jalinan silaturahmi tetangga desa. "Tadi dia terlalu banyak makan kolak nangka, pisang plus duren Mak." Suara Durkam. Seraya mencium tangan Emak si Kohtru. Semakin ramailah suara derai silaturahmi persaudaraan, di hari fitri ini.

Jakarta, Indonesia, June 19, 2018.

*) Terima kasih anda telah membaca artikel ini. Salam bahagia.

Catatan Gong 2018:
"Lebaran setiap hari. Berbagi cinta dan kasih sayang."

VIDEO PILIHAN