Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Mempertimbangkan "Neo-Sensor"

18 Juni 2018   15:54 Diperbarui: 18 Juni 2018   16:29 0 16 8 Mohon Tunggu...
Mempertimbangkan "Neo-Sensor"
Foto Dok Kompas

Semisal "Dilarang Merokok" atau "Jangan Kencing Disembarang Tempat" atau "Dilarang Kencing Disini." Kalimat sederhana itu hampir ada disemua 'public space' seterusnya berkesinambungan, tertangkap oleh makna daya 'Sensor Akal Budi' menjadi "Neo-Sensor."

Teliti sebelum membeli. Teliti sebelum melanggar aturan di ruang publik, contoh lebih sederhana lagi, jangan melanggar aturan muatan artikel di Kompasiana, semisal.

Arus informasi, hal ihwal diatas itu, mungkin, semacam tolok ukur sederhana dari aturan-aturan sederhana sekali. Mengingatkan, betapa pentingnya filosofi tata laku sopan santun.

Namun tampaknya, mungkin, sedang, akan, mencapai pada hal ihwal diinginkan oleh aturan, pemberitahuan, moral baik-benar itu, merupakan salah satu unsur tata laku iman lingkungan untuk sesama insan penghuni planet Bumi. Ini barangkali loh.

Semisal, sederhana lagi, selama masih ada polisi tidur di jalan raya kelas dua atau kelas tiga, mungkin semacam pertanda bahwa tertib berlalu lintas, sedang, akan, sampai seperti diinginkan, tapi, mungkin belum mencapai seperti keinginan aturan-aturan moral tertib berlalu lintas.

Tidak ada hal ihwal salah dalam konteks larangan diatas itu, segala hal baik, benar, iman kembali kehati masing-masing makhluk hidup atau manusia di kolong langit ini.

Tak seberapa jauh berbeda dengan pilihan perang atau tidak, juga kembali pada nurani suatu pemahaman kekuasaan, entah itu di tingkat Rukun Tetangga (RT) ataupun di tingkat Rukun Warga (RW), hingga menyangkut bilateral maupun multilateral.

Semisal lagi, hal-hal masih terjadi hingga hari ini, peperangan, di nurani makhluk hidup, juga manusia, maupun di seberang jauh benua lain. Apa sih sebabnya.

Kadang hal naif itu seperti nongol di permukaan nurani bening. Menjadi pertanyaan ringan. "Mengapa ada perang." Namun, ada pula nyaris tak serupa atau mungkin, memang hampir jarang dipertanyakan, ini barangkali loh, oleh kenaifan. "Mengapa ada moral super baik-benar" mungkin, baik-benar kadang-kadang, konon, masih dilanggar. "Perselingkuhan..." misalnya.

Semisal lagi nih, kontekstual, barangkali loh, dengan kalimat hal ihwal larangan sederhana di atas itu, kalaupun mau ditarik benang merah lebih jauh, ada moral 'super baik-benar' larangan mencuri, namun masih ada saja pencuri.

Entah itu pencuri hak hidup (korupsi, misalnya) ataupun pencuri hak mati (bunuh diri, misalnya) padahal hal bunuh diri atau mencuri, jelas, benar-benar, dilarang oleh moral 'super baik-benar' dimanapun, kapanpun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x