GONG2018
GONG2018 Kenek dan Supir Angkot Cinta NKRI. Save KPK Save Indonesia.

Kenek dan Supir Angkot Cinta NKRI. Save KPK Save Indonesia. Peace.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Bagai Eufoni Interlud

6 Juni 2018   16:34 Diperbarui: 6 Juni 2018   16:38 400 23 15
Bagai Eufoni Interlud
Kompasiana image by Gong 2018

Ya. Mencintai atau dicintai. Dua hal sinonim dalam kalbu. Barangkali salah satu bagian dari keinginan. Lantas mengapa William Shakespeare (1564-1616) menyelesaikan hidup kedua tokoh dalam kisah, Romeo and Juliet. Sastra drama tragik-romantik, mendunia. Repertoar adaptif di zaman sejak dituliskan hingga kini, mengilhami kisah susastra para pemilik pena dihati.

Demikian pula, Khalil Gibran (1883-1931) pemilik susastra cinta kasih dalam akal budi humanis. Begitu banyak syair-syair bagai hujan dari langit menyembuhkan kemarau. Susastra Gibran bagai penyembuh harapan tak tergapai, seakan pengobat luka-luka cinta di antara episode, hidup, humanis, membentangkan harapan. Bagai pembawa kabar dari langit.  

Lantas, apakah karena luka-luka cinta, jiwa harus menyelesaikan hidup. Bagai kisah-kisah seribu satu malam dalam misteri waktu. Membuang jiwa dicipta bagi tubuh menjadi rohani kasih sayang. Barangkali pula, langit akan bersedih jika jiwa melukai tubuh atau sebaliknya.

Mungkin, Bumi pun akan menangis melihat tubuh terkubur oleh luka-luka cinta. Konon, para malaikat kasih sayang pun enggan mencatat di buku langit kehadiran tanpa ikhlas sebelum waktunya tiba di depan pintu langit.

Lalu pilihan barangkali akan tak ada, sekalipun ingin menjadi kunang-kunang sekalipun.  Konon, pintu langit masih tertutup. Belum waktunya tiba dibuka, mungkin, entah sampai kapan menunggu kabar dari langit, melayang-layang di antara Bumi, planet-planet di semesta. Terbang kian kemari bagai tanpa tujuan.

Menulis harapan, cinta ataupun kasih sayang di secarik kertas barangkali jauh lebih baik seperti, Khalil Gibran atau Shakespeare. Lantas waktu menguji karya-karya mereka menjadi susastra dunia. Tanpa menyakiti rohani sesungguhnya pemilik kasih sayang. Meski putus cinta kadang tak terperi pedih, amarah, kesumat hati menyala merah.

Kata peradaban tak ada luka tak bisa disembuhkan. Tak ada malam jika tak ada siang. Tak ada cinta jika tak ada kasih sayang atau sebaliknya. Tak ada prosa atau puisi jika tak ada alur akal budi, mengendalikan, sensibilitas perasaan-perasaan, penyerapan empiris norma-norma kehidupan filosofis alam raya, pemberi oksigen kesegaran pikiran.  

Cinta, kasih sayang, mungkin, bagai niskala eufoni asmarandana, menumbuhkan harapan-harapan. Mungkin juga bagai menunggu kabar dari langit.

Artikel ini sekadar catatan untuk teman, sahabat, juga diri sendiri. Sebab kata hati wajib berbagi, meskipun hanya satu kata. Salam cinta dalam Indonesia Unit.

Jakarta, Indonesia, June 6, 2018.

*) Terima kasih anda telah membaca artikel ini. Salam bahagia.