GONG2018
GONG2018 Kenek dan Supir Angkot Cinta NKRI. Save KPK Save Indonesia.

Kenek dan Supir Angkot Cinta NKRI. Save KPK Save Indonesia. Peace.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bejana Geo-Humanisme

13 Maret 2018   17:35 Diperbarui: 19 Maret 2018   16:18 446 19 11
Bejana Geo-Humanisme
Kompasiana image by Gong 2018

Konsep, ide dalam etika suatu negara. Menuju pada satu suara komitmen idealisme kenegaraan. Awal dari pemikiran negara dalam teori sangat luas. Melihat negara dari batas horizon pemikiran Plato, Montesquieu, Niccol Machiavelli, sampai dengan Immanuel Kant, saja. Esensial, bahwa negara adalah rakyat. Rakyat adalah negara.

Deskripsi pemikiran tentang negara terus bergulir, dipelajari oleh zaman. Manifestasi sejarah itu menjadi teori dasar berfikir. Menemukan momentum negara ideal dalam struktur azas hukum lampau hingga terkini. Proses argumentasi dicatat sejarah, untuk diketahui generasi diwaktu dan zaman berbeda-beda.

Perayaan demokrasi menuju angkasa dikumandangkan Cleisthenes pada era 508-507 SM, di kurun waktu zaman sejak era sejarah negara tradisi-monarki, menuju negara republik-demokrasi. Intelegensi berkembang dalam etos politik strategis. Pola perdagangan tak perlu rasisme politik dagang. Barangkali sekarang sudah terkikis, si rasisme itu. Meski cuaca perang masih menggema di jazirah jauh.

Transkrip sosialisme dari batas langit. Mungkin menjadi salah satu elemen demokrasi, muncul dari aklamasi kultur geo-budaya, di barat jauh sana. Menjadi senjata ampuh anti-ketakutan bagi mazhab kapitalis-pada sosok si sosialisme sekaligus dihantui oleh si marxisme, barangkali loh, lantas paradoksal menuju langit dunia.

Jika menilik pada seni perdagangan kapitalistik, tak peduli demi edukasi publik atau apapun, jika tak menguntungkan majikan korporasi, maka ditutuplah sebuah perseroan usaha dagang itu, tak peduli apakah itu media atau toko swalayan, dengan catatan kaki tak memenuhi standar kelayakan keuntungan.

Kini sebut saja era geo-kultur global. Kadang-kadang demokrasi diselewengkan oleh negara otoriter-diktator, kalau masih ada. Lantas fungsi rakyat sangat fundamental di isme-demokrasi, diremehkan, dianggap sudah diwakili oleh parlemen. Apakah keputusan parlemen selalu seratus persen mewakili keinginan rakyat.

Wacana etika politik partisan memberi isyarat asap indian, meski di titik tertentu dapat dikebiri oleh rakyat, semisal runtuhnya kepercayaan rakyat, akibat korupsi masih menjadi primadona. Memicu bara menggesek konflik, terjadi pada Hosni Mubarak, mantan presiden Mesir, dilengserkan rakyat oleh pola demokrasi.

Muncul pola politik baru strategis digelar. Guna mengembalikan kepercayaan rakyat. Konsep pola politik baru berjalan sebagaimana mestinya menumbuhkan iklim perdagangan untuk ekonomi rakyat, setelah gundah gulana sejenak akibat trauma konflik-invasi militer, misalnya, kepentingan politik atas nama negara demokrasi.

Masih ada pertikaian, diantara bangsa-bangsa, perang panas dingin di benua sana, berlomba unjuk senjata modern. Apa sesungguhnya kehendak kekuasaan, dari suatu pemerintahan. Perdamaian bagi bangsa atau pembunuhan pada hak-hak kemanusiaan. Jika konflik, antar bangsa-bangsa memicu tragedi kemanusiaan di benua manapun.

Kemana arah, tujuan hidup telah disepakati. Ketika pemimpin sebuah bangsa telah terpilih, sebagai pemegang mandat rakyat di era isme-demokrasi. Barangkali pertanyaan saja tidak cukup. Jika melihat kurun waktu sejarah bangsa-bangsa dari abad di masa kekuasaan imperium monarki Roma, dicatat sejarah. Mampu memperbudak, membunuh manusia dalam kedok istilah keren-Gladiator.

Seakan-akan kekuasaan manusia lebih hebat dari Sang Pencipta, maka penampakan diktum kekuasaan terlihat melewati batas hukum humanisme dari langit. Maka kekuasaan monorel manusia sebagai diktator-isme, monarki absolut duduk di singgasana, penentu hidup dan mati nasib manusia, di kala masa sejarah lampau.

Bagaimana dengan demokrasi modern kini, lahir dari geo-budaya dunia. Mampukah menciptakan perdamaian dunia. Disisi lain di antara negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terus berlomba menciptakan senjata modern nuklir, demi satu alasan kemajuan ilmu dan tekno persenjataan modern, demi keamanan kemanusiaan.

Hampir setiap waktu. Dari masa kecil hingga dewasa, pada umumnya, manusia diberi ajaran oleh moral lingkungan untuk senantiasa berbuat baik. Seperti tertulis di kitab-kitab suci kemaslahatan akal budi manusia, sebagai ilmu pengetahuan untuk hidup bersama di planet dunia, memberi tolok ukur kebaktian pada hakikat kebaikan dan kebenaran.

Kadang-kadang ada pertanyaan kepada alam raya. Untuk apa kehadiran makhluk manusia di planet bumi. Jika masih ada pertikaian atas nama sebuah isme. Apakah karena manusia tak mampu, mengendalikan kehendak negatif, berbanding lurus dengan positif. Meski akhirnya pilihan kembali pada nurani bening.

Naif memang diperlukan, barangkali hal itu mampu menjadi kontrol sosial ketika kehendak damai bagi jiwa individu dan publik menempuh cita-cita kemaslahatan hidup.

Tampaknya pelajaran berdamai dengan nurani, sebuah pencarian pengetahuan tanpa henti, setidaknya, mungkin mampu meredam konflik kepentingan, di tengah proses belajar bersama menuju perdamaian dunia ke-eskalasi humanisme. Menuju kesetaraan kehidupan demokrasi. Meski tampaknya masih terus sebagai sebuah pelajaran. Salam Indonesia Unit.

Jakarta, Indonesia, Maret 13, 2018.

*) Terima kasih. Anda telah membaca artikel ini. Salam bahagia.