Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Musim Cinta Pendakian Rentang Waktu

16 Juli 2017   18:15 Diperbarui: 16 Juli 2017   18:22 0 9 7 Mohon Tunggu...
Cerpen | Musim Cinta Pendakian Rentang Waktu
Kompasiana image by GONG 2017

"Aku tak ingin melihat awan itu berpindah dari tempatnya. Cantiknya."

"Tak seperti kamu."

"Biarin, kau kesal karena kitab itu ada padaku."

"Aku bisa bikin kitab sendiri."

Lengang waktu ini. Gemersik dedaunan seperti membisik tentang panorama di atas ketinggian ini. Bukit pelangi, kami berdua memberi nama itu. Indah tak terbantahkan. Di kejauhan benar kata mu, akupun tak ingin awan itu berpindah dari tempatnya. Dari mana warna-warni itu hadir. Apakah benar akibat oksigen dan ultraviolet matahari sepagi ini, sunrise bagai mengatur sukma bumi.

Ia masih bersandar di bahuku. "Kok jadi terbalik sih. Seharusnya aku bersandar di bahu kamu."

"Bolehkan sesekali aku jadi perempuan, seakan bersandar di bahu lelaki."

"...xixixi. Lihat tuh burung-burung camar sedang sibuk mengejar waktu sebelum sore."

"Ya. Seperti awan mengejar langit."

Hening pagi. Aura hutan lindung menuju langit warna-warni. Setiap pohon terasa memiliki warna aura berbeda, berkelompok-kelompok, tak ingin rasanya mengakhiri pendakian ini. Ya alam raya, terima kasih atas segala hal ihwal ini, segala hal tentang kehidupan telah tercipta bagi semua makhluk. Segala cinta di antara kisah, kasih sayang para makhluk.

"Lihat! Dua camar itu. Sejak tadi berputar-putar di antara hutan tepian bebatuan tepi tebing, jurang bertaut laut di bawahnya. Ada apa. Mengapa mereka seperti itu?"

"Barangkali ada ilalang di tepi tebing itu. Mereka saling bercengkerama. Siapa akan turun memetik bunga ilalang di antara huma di tepi tebing itu."

"Cantiknya mereka. Terasa kesetiaan saling menjaga, keduanya seperti saling memberi, mengkhawatirkan nasib mereka jika salah satu dari mereka turun memetik bunga ilalang."

"Ya. Mungkin saja ada ular sedang sembunyi di antara ilalang itu." Mengangkat kepala sejenak, kembali bersandar di bahunya, ia menengok padaku, senyum itu tak seperti matahari tawar menawar kepada rembulan, tentang waktu lambat atau cepat. Senyum itu tak serupa apapun. Memang miliknya.

"Kalau ternyata ada ular bagaimana?" Seraya menengok lagi padaku, membuang lagi wajahnya kearah dua camar itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x