Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Semacam Solilokui

15 Juli 2017   20:19 Diperbarui: 15 Juli 2017   20:31 0 11 6 Mohon Tunggu...
Puisi | Semacam Solilokui
118-image-by-tasch-596a150942bc3a06d22947a2.jpg

Baru saja satu daun gugur dari tangkainya esok dan esok lagi akan berguguran daun-daun kering dari semua pepohonan di halaman, di hutan-hutan. Siklus, lingkaran daya hidup berkesinambungan daya mati. Seperti uban di rambut memutih lalu gugurlah kehidupan pada usia setelah muda. Menuju ruang-ruang hening.

Sebuah taman di halaman rumah, tetumbuhan tumbuh hilang berganti, setelah menggugurkan para daun juga bunga kering. Tunas tumbuh, terima dengan lapang dada, tapi tidak bagi para tunas pembusuk mencipta parodi hitam di tengah kemaslahatan kehidupan bersama.

Melaut pertanda kesehatan alam baik-baik saja. Mendarat milik para burung-burung di angkasa.  Ekologi ekosistem warisan riwayat penciptaan bagi bumi, juga bagi angkasa, bagi oksigen merawat ozon atau sebaliknya saling menjaga, bagi spesies pelaku peranan-peranan hidup.

Dalam tradisi-tradisi purba nenek moyang seperti tertulis di lontar sejarah, bahwa kita adalah merah dan putih bukan hitam kelabu ataupun nirmana gelap dalam lipatan kisah layar-layar tertutup, seakan prosa penuh warna kamuflase mencuci kaki langit.

Horizon, wawasan sebatas mata memandang keindahan realitas esensi curva melingkar equilibrium universal di antara batas alam raya dan bumi. Itu sebabnya tak ada warna lain selain Merah dan putih adalah komitmen. Bukan warna lain itu.

Jakarta, Indonesia, July 15, 2017.

VIDEO PILIHAN