Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen |Rembulan Ilalang

14 Juli 2017   04:38 Diperbarui: 14 Juli 2017   11:22 0 10 7 Mohon Tunggu...
Cerpen |Rembulan Ilalang
Kompasiana image by Gong 2017

Benar jika itu terjadi. Tapi apa mungkin. Akh nasib selalu ditulis manusia untuk dirinya sendiri. Itu kata kisah-kisah susastra, kata kisah dalam tutur tradisi indah nan elok senantiasa. Kangen aku ingin segera melihat wajah mu seperti apa. Kenduri baru saja lewat. Tujuh bulan sudah dengan rujak warna-warni buah-buahan, maaf jika tadi terlalu pedas untuk mu.

Besok aku belikan buah semangka segar untuk mu ya, jangan menendang perut Ibu terlalu keras dan dengkul kakimu kuat menekan jika kau rindu, ingin juga bertemu kan. Besok ya menjenguk, kita bawa apa, mungkin sigaret kretek, jangan, dia sudah berhenti merokok katanya. Persiapan untuk pulang kangen Ibu dan kamu. Cinta, indah nian kata sebuah cerita, tak mengharu biru semirip kelamnya malam.

Aku tak ingin hadir di persidangan itu. Tak pedih, hanya ada bahagia sesungguhnya jika melihat mu, tapi tidak untuk melangkah melihat mu di persidangan. Aku menunggu saja kabar tentang keputusan pengadilan. Tuhan yakin kau bukan bermaksud melukai orang itu, mencoba merampas milik kita, sejumlah uang akan ditabung meski tidak banyak dari hasil jual kiloan botol plastik bekas air minum.

Waktu telah lewat seperti biasanya. Mata air mengalir dari sumber ke permukaan, cericit burung di antara pepohonan deretan rumah kontrakan masih terasa ada kehidupan di antara gedung-gedung pencakar langit metropolis, bayang-bayang gedung-gedung berpindah memberi adem pada lingkungan rumah kontrakan petakan, suara anak-anak berlarian sekadar rebutan layangan.

Girang rasanya, usai memulung botol bekas bersamamu, kolong jembatan biasa tempat kita berteduh melepas cinta, kasih sayang, meski sekadar beralas tikar dan penganan sederhana gorengan Pak Santri, orang baik dan suka menolong sesama. "Bawa saja untuk si kecil dalam kandungan mu. Kapan saja ada rezeki sila, kalau tidak, lupakan ya Surti, salam untuk nak Surta."

Suara Pak Santri, selalu terasa sejuk. Nak Surta biasa Pak Santri memanggil begitu sehari-hari untuk lelaki ku, orang santun dari tanah seberang, kata dia cerita begitu, aku percaya saja, tak ada soal buatku, amat cinta lelaki dengan segenap musim tersimpan di nurani ku ini. "Kau melihat alam dan bintang-bintang indah seperti di desaku Surti." Suatu kali setelah beberapa waktu mengenalnya, aku semakin dekat.

"Surti, besok aku di panggil Ibu kepala sekolah, beliau meminta bantuan membersihkan halaman, sebab Pak Samin petugas kebun sekolah sedang berhalangan hadir, kau mau ikut."
"Ya." Jawab ku pendek, dalam dekapan tangan kekarnya, hangat dan nyaman.

Gugusan awan-awan selalu berganti warna siang, sore ataupun malam, kadang jingga, kadang biru membiru, kadang ungu menuju kuning kelam, berganti tergantung indahnya cuaca cahaya matahari meski kadang terang ataupun mendung gelap, tetap indah bagiku di sukma ini, tak ada hari-hari tanpa cahaya mensyukuri karunia hidup segelap apapun atau seterang apapun hal itu.

"Mengaapa aku mual-mual ya Bang."
"Kalau begitu ayo kita mencari kunang-kunang, biar kau terhibur ya. Mau?"
"Mau. Itu mainanku waktu kecil di desa Bang." Suara Surti selalu girang.
"Ayolah kalau begitu."
"Ayo, sambil menunggu senja menjadi gelap, kita ke rumah Tuhan dulu ya Bang."
"Setuju."

Senja telah menuju biru malam, gema Ilahiah mengangkasa dari rumah-rumah Tuhan. "Tak ada kata lain ya Surti. Selain bersyukur atas semua berkat terjadi pada kita" Suara lelaki tulus itu menggetarkan sukma Surti. Ingin jatuh air matanya. Segala hal tentang masa lalu hingga ia sampai di kota bagai film di putar ulang dengan cepat dari atas ketinggian jembatan layang.

"Iya Bang." Suara Surti lirih, melingkarkan tangannya pada bahu Abang. Di sandarkan perlahan kepalanya bagai film lambat menggerakkan gambar. Kilas balik semua kejadian muncul bertubi-tubi, perih dan pedih sebelas tahun lalu, Ayah dan Ibundanya di bunuh dengan kejam oleh perampok misterius, karena Ayahnya, tidak mau mengubah jenis tanaman padi di sawah dan kebun kelapa hijau berserat merah miliknya dengan tanaman khianat atas nama tengkulak itu.

Ia di selamatkan oleh satu-satunya kakak lelaki, di sembunyikan di ladang buah salak tak jauh di belakang rumahnya. Kakak lelaki harapan keluarga juga mati dibantai para begal itu, setelah menyembunyikan Surti dan mencoba menyelamatkan Ayah dan Ibunda mereka. Rumah pun di bakar habis oleh perampok itu. Hingga ia siuman berada di pos kesehatan desa.

"Kau ingin pulang ke kampung, menjenguk Ibu angkat mu?" Surti tak menjawab, kepalanya tetap sandaran, melekat di bahu kokoh dengan suara bijaksana, kembali seperti sembilu mengiris nurani Surti, lelaki ini teramat baik bagi hidupnya.
"Nah! Itu Abang! Para kunang-kunang mulai kerlap-kerlip keluar dari ilalang di tepi sungai. Itu, lihat Abang indah sekali."
"Tajam matamu Surti. Ayo! Kita turun ke sana."
"Sebentar. Perlahan ya Abang, aku mual lagi."
"Baik lah Adik, Abang jaga Adik sepenuh hati."
"Akh Abang, bikin hatiku menjadi bersegi tiga." Berderai tawa keduanya, teramat girang dalam mesra biru malam ungu tua.

Surta, sabar memeluk pundak Surti erat melebihi mesra, ada rasa takut kehilangan satu-satunya perempuan berhati indah ini, ia tak ingin kehilangan apapun di dalam hidupnya. Cukup sudah. Ikhlas, apapun kini bagi Surta hanya ada ikhlas dan melupakan semua masa lalu, meski ia tak akan sanggup mengisahkan apapun ke Surti perkara luka-luka hidupnya, mungkin semirip Surti.

Entahlah, keduanya tidak pernah saling berkisah masa lalu, hanya saling menghela nafas dalam-dalam, mensyukuri karunia hidup mereka kini. Keduanya hanya memiliki rasa saling mencintai dan mengasihi setulus embun bening metropolis mungkin atau seputih awan-awan milik Ilahi barangkali atau pedih sepanas bara api atau mungkin saja keduanya telah ikhlas menerima apapun berkat Ilahi.

"Ayo! Abang. Kita dekati ya. Ssst Abang Tahan nafas ya. Mereka akan berterbangan jika mendengar nafasmu, ssst..."
"Iya. Aku paham sayang." Suara Sutar berat dan bergetar.
"Hih! Pelankan suaramu, nanti mereka takut."
"Iya. Ssst sudah. Suara kamu lebih nyaring dari suara ku."

Keduanya berjingkat-jingkat perlahan memasuki huma-huma ilalang, pelan sekali. Keduanya duduk di antara Ilalang, di antara kerlipan kunang-kunang. Surta memeluk erat bahu Surti penuh suka cita keduanya duduk bersisian. "Abang indah sekali..." Bisik Surti, dekat di telinga Abang.
"Iya, secantik kerlap-kerlip matamu ditangkap rembulan. Kau bisa melihat kedua bola matamu." Surta lirih berisik.
"Tidak. Aku bisa melihat rembulan itu dari mata Abang, coklat tajam, bening..."

"Ssst... Ada kunang-kunang hinggap di rambut mu dan beberapa lagi berterbangan di atas kepala mu, tuh..." Suara Surta bagai air terjun mengalun melambat nyaris tanpa bunyi.
"Ssst... pelankan suaramu... Tuh di atas kepala mu juga mereka berterbangan Abang. Tuh! Ssst ada tiga hinggap di rambutmu... Gemas aku, indah sekali cahayanya Abang, kehijauan terang memutih kerlap-kerlip..."

"Tengadahkan telapak tangan mu." Surta meminta dengan suara berat namun bernada lembut.
"Iya." Surti membuka kedua telapak tangan. Surta menumpu tangan Surti dengan telapak tangannya, kokoh, persis dibawah telapak tangan Surti.

Keduanya saling memandang cekikikan perlahan, melihat para kunang-kunang berterbangan di telapak tangan mereka. Keduanya mendekatkan wajah ke kunang-kunang, keduanya meniupkan nafas perlahan-lahan, para kunang-kunang itu bergerak kian kemari, bagai peri kupu-kupu di bawah rembulan.

Tak apa. Kalau memang telah berakhir seperti ini. Aku tidak menangis di pusara mu Abang. Aku bangga padamu lelaki kuat. Ketika kabar itu datang bahwa kau telah bebas sebebas-bebasnya, kau dilindas bus kota langsung wafat bersama Kodrat sobat mu, ketika menuju pulang selepas kau di nyatakan bebas dari segala tuntutan, karena Kodrat sobat mu si baik hati, ingin cepat membawa kamu pulang kepada ku.

Jakarta, Indonesia, July 14, 2017.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x