Mohon tunggu...
GONG2019
GONG2019 Mohon Tunggu... Gong adalah Semangat

Kenek dan Supir Angkot.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Bodong

30 Juni 2017   05:12 Diperbarui: 30 Juni 2017   05:31 0 2 1 Mohon Tunggu...
Cerpen | Bodong
Kompasiana image by Gong 2017

Peristiwa. Bisa terjadi dimana pun, dia datang lalu pergi begitu saja, tanpa basa-basi atau pesan apapun. Pilihan ada pada hati, kalau masih punya hati. Kalau tak punya hati pakailah nalar positif, kalau tak juga punya nalar, terserah. Sebab hidup pilihan pasti kekiri atau pun kekanan atau sebaliknya.

"Tebas lehernya sekarang!" Suara membisik di telinga sosok itu, bagai desir angin. Pedang berkilat cepat. Kepala itu tetap di tempatnya. Tubuh itu tak bergeming. Potongan bekas tebasan pedang tergaris setipis benang, tak ada darah meluncur dari sela garis setipis benang. 

"Pedang malaikat asli." Gumam sosok itu. Suara bagai desir angin menjauh melantunkan tembang megatruh. Sosok itu duduk bersimpuh berhadapan. "Maafkan aku. Tak ada cara lain hentikan kelakuan durjana mu. Ini tugas dari guru membasmi para pengkhianat." Sosok itu pergi membiarkan jasad itu tetap dalam posisi duduk bersimpuh sebagaimana adanya.

"Itu kisah ratusan tahu lalu."
"Mengapa dia kau bunuh."
"Atas titah guru."
"Apa kau yakin begitu."
"Ya."
"Tak terpikir oleh mu bahwa guru mengujimu."
"Tidak."
"Kejadian itu dua hari lalu. Bukan ratusan tahun lalu."

Sosok tidak terkejut tampak secara kasat mata. Hanya jantungnya bergetar hebat. Bukan amarah, dia tengah mengendalikan kesabaran. "Baiklah jika itu benar terjadi." Jawab sosok itu.
"Lantas."
"Tak ada soal apapun."
"Jadi?"
"Ya sudah. Aku mau tidur di atas pohon kau boleh pergi sesuka hati."

Perempuan itu tak heran, dia tahu ilmu kesabaran sosok itu telah mencapai nirwana. "Jangan-jangan aku sedang di uji guru. Lalu siapa jasad itu, masih duduk bersimpuh?" Perempuan itu penasaran. Dia terbang menuju pohon mencari buah apa saja untuk dilemparkan pada sosok, begitu lelap tidur di dahan pohon. "Buk!" Sosok kena lempar buah keras itu tak bangun, malah mendengkur semakin keras.

Bulan nyengir di antara awan malam. "Cubit aja. Hih!"
"Wow!" Suara sosok kesakitan.
"Bangun! Cuma di cubit kesakitan. Katanya pendekar pedang malaikat sakti. Boong aja! Bangun! Cubit lagi nih!"
"Ya. Aku sudah bangun sebelum kau melempar buah kedondong itu."
"Aku mau tanya."
"Apa benar kau menebas leher sosok itu karena berkhianat pada kebenaran."
"Tidak!"
"Jadi siapa jasad dalam posisi duduk di kuil dekat sungai surgawi."
"Aku tidak pernah lakukan seperti dugaanmu."
"Jadi?"
"Tidak ada jadi. Karena tidak ada apapun terjadi." Lalu melesat terbang melayang di atas gugusan pepohonan. Perempuan itu menyusul penasaran.

Satu gempuran hebat menerjang diantara dua sosok sedang terbang. "Glar!" Keduanya bukan pendekar recehan. Meski gempuran itu cukup mengganggu perjalanan mereka. Keduanya spontan balik menyerang. Terjadi pertempuran dahsyat. Namun tampak indah jika sekadar menjadi tontonan bagai kembang api raksasa memecah warna warni.

Dua sosok terus memburu sosok lawan dengan kilatan pukulan maut tinju dewa, sebuah gerakan sulit di prediksi kemana arah pukulan tangan keduanya. Bagai ada banyak pukulan tangan berlipat ganda, namun dengan mudah lawan mereka mengendalikan pukulan keduanya, bagai memukul kapas terasa lembut seakan pukulan kedua sosok tak bertenaga.

Pada ketika itu ada serangan berikut dari sosok penyerang lagi dengan senjata kilatan menyilaukan amat super cepat. Keadaan menjadi tiga kelompok berseteru. Pertempuran semakin indah di lihat kasat mata di bawah rembulan romantis. "Pendekar bodong serahkan pedang malaikat itu!"

"Suaramu mengejutkan mawar racun. Baru turun gunung!" Terasa ada rasa cemburu dari suara perempuan itu.
"Oh! Si kenes dari tepi desa perdu. Si pencemburu!" Jawab mawar racun
"Pengkhianat cinta!" Suara sosok penyerang pertama, bertopeng perak.
"Oh! Jadi pengecut bertopeng ini mantan pacar mu ya!" Pedang malaikat kepada si kenes.
"Hahaha!" Mawar racun ngakak. Lanjutnya. "Maunya kau punya pacar si kenes itu! dia merebut kau dari ku!" Suara Mawar merah makin nyebelin hati si kenes.

Pertempuran saling silang itu semakin bersaing mengeluarkan ilmu tertinggi. Keadaan semakin ruwet. "Cuma memperebutkan pepesan kosong kalian saudara perguruan berseteru hehehe" Suara itu terkekeh-kekeh terasa bagai penyejuk ruangan di cuaca panas, keempat sosok-sosok berseteru bagai api meredup perlahan.

"Guru!" Keempat sosok memberi hormat. Hening. Rembulan semakin terang memberi senyuman pada bumi, terasa alam raya baik-baik saja.

Jakarta, Indonesia, June 30, 2017.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x