GONG2018
GONG2018 Kenek dan Supir Angkot Cinta NKRI. Save KPK Save Indonesia.

Kenek dan Supir Angkot Cinta NKRI. Save KPK Save Indonesia. Peace.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Suatu Hari di Terminal

18 April 2017   11:32 Diperbarui: 18 April 2017   11:47 752 27 183
Cerpen | Suatu Hari di Terminal
Kompasiana image by GONG2017

Teganya meneror atas nama kemaslahatan humanis, itu fakta kamu pengecut alias bebal, tak pernah memahami diri di cermin, kemanapun berkostum komedi, orasi kiri kanan seakan menghipnotis. Jiah!

Kamu. Dewa ya? Kalau dewa, tak seharusnya ikut perilaku Sengkuni, penjual madu beracun merk Dorna, biang kerok kekacauan di bumi, hingga ke sudut keraknya. Sebab itu Semar marah.

Hidupmu netek di mafia calo moral, di pola laku catutan, sombong. Matang saja belum. Sudah membusukkan mentalmu. Coba lihat wajahmu di cermin, apa masih ada.

Buktikan kepada Dia. Berani? Tengok cermin mu, meledak “Glar!” Wajahmu ular mirip lintah. Oh! Lintah kan nggak punya wajah ya. Hih! Salah. Heran deh! Hidup masih netek di calo moral sombong amat. Dasar bebal komplit!

Mor bersuara. “Momentum! Cari perhatian.” Jawab Lor. “Hihihi.” Tanya Mor. "Alfabet." TegasMor lagi. "Jungkir balik?" Sahut Lor. “Ya.” Tanya Mor. “Seperti diorama?” Lor Tegas. “Tergantung kisahnya.” Kata Mor “Bisa di bolak-balik dong.” Jawab Lor. “Tergantung siapa menjadi biang kerok.”

“Jadi siapa.” Kata Mor. “Bisa siapa saja.” Jawab Lor. “Sistem di dalam hati.” Siasat Mor. Jawab Lor. “Nah! Terjawab kan.”  Mor Ngakak. “Xixixi lol.” Jawab Lor. “Muter-muter sih.” Jawab Mor “Komedi muter” Lor mengejek. “Berdiri di rel kereta. Don’t run!”

Bacalah dengan keras kamu ‘gagal’ total, runtuh. Bam!. Humanis, bukan kata bisa dijual di toko kelontong, obral besar paradigma. Obral besar euforia beracun meneror. Mana cinta seperti slogan mu. Tidak ada secercah pun cuma jadi kue bantal. Adili dirimu di hadapan Dia. Berani? Cintamu palsu. Jadi kodok all in one, all you can eat.

Ketika cinta palsu kembali lagi. Tidak ada perubahan di wajah fasis mu. Bahkan penyakit snobisme plus racun tipu daya, kamu tabur di tanah lahirmu. “Beauty and the Beast deh kamu!” Wahai kaum licik! Dia marah. Seharusnya tidak. Karena kamu tak paham, apa itu ‘humanis’ arti kata itu, kata per-kata di nurani mu.

Tanya Lor “Kamu makan Apa.” Jawab Mor. “Nyam! Nyam!.” Suara Lor. “Kue bantal?” Suara Mor. “Semacam daging.” Suara Lor. “Karnivor.” Suara Mor. “Jangan asal kritik seperti saos tomat?”

Sahut Lor. “Kritik wajar. Jangan asal.” Suara Mor. “Nggak jelas. Semakin absurd.” Sahut Lor. “Masih soal tadi.” Suara Mor “Ya.” Sahut Lor. “Jalan di tempat bikin gemuk.” Suara Mor. “Karnivor dong.” Saling menatap. Saling membuang muka.

Suara Lor. “Ini makanan ku.” Sahut Mor. “Iya.”  Suara Lor. “Makan sambil duduk.” Sahut Mor. “Jadi gembrot.” Suara Lor. “Jangan belok. Momentum karnivor deskripsinya?.” Sahut Mor. “Oh!.” Suara Lor. “Bukan. Diktum deskripsi?.” Sahut Mor. “Seperti trapesium terbalik.”

Suara Lor. “Itu jawabnya.” Sahut Mor. “ya.” Suara Lor. “Cuma itu.” Sahut Mor. “Yes!” Suara Lor. “Sok bahasa asing.” Sahut Mor. “Cuma Yes, enggak boleh.” Suara Lor. “No!” Sahut Mor “Haha.” Suara Lor. “Nyeplos!” Suara Mor. “Hobi meniru?.” Tersenyum seraya keduanya membuang muka.

Hancurkan hidup mu oleh ketidakmampuanmu. Mengapa? Kamu masih ijo. Masih bau kencur, masih bego alias masih bunglon alias masih lintah, nurani seperti balon. “Duar!”

Kamu dikejar Elang, di terjang badai gelegar petir di hantam gelombang panas. Elang memburu mu, menyergap mu, angin menderu, di tengah badai ganas, di mana pun. Pasti lari terbirit-birit, langsung di patok Elang, mati deh kamu. Kasihan deh.

Kamu bebek wek wek wek, kamu akan diadili oleh Elang! Cakarnya terbuka, menerkammu, mencabikmu, melemparmu kekawah Merapi. Wahai! Bebek, badut manipulator!

Jadi bebek panggang. Calo moral mengajarimu kepribadian arogansi kelicikan, seakan jagoan padahal kamu cuma tukang catut moral berkepala kosong. Yicha!

Suara Mor. “Jadi cuma itu.” Sahut Lor. “Ya.” Suara Mor. “Begitu mudahnya.”  Sahut Lor. “Ya”. Suara Mor. “Deskripsi itu.” Suara Lor. “Ya.” Sahut Mor “Membalik tangan.” Suara Lor. “Ya.” Sahut Mor “Kalau semudah itu…” Sahut Lor. “Tidak perlu lama kan.”

Sahut Mor. “Ada pola di balik pola.” Sahut Lor. “Persis seperti membuat baju.” Sahut Mor. “Serupa. ” Jawab Lor “Tak perlu deskripsi kan.” Sahut Mor. “Tergantung teori-materi” Jawab Lor. “Tinggal buat saja” Jawab Mor. “Siapa?” Suara Lor. “Siapa saja.”

Kamu bebek, lembek, bersuara wek wek kick, terengah-engah membawa badanmu. Mengapa? Kamu tak kenal dirimu lahir untuk apa mau kemana.

Dia, tak pernah meleset menciptakan alam raya dan segala isinya. Kamu? Bebal! Tak punya malu kepada tanah lahir mu, karena kamu netek pada calo moral berkepala medusa mengutuk diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2