Mohon tunggu...
Glen S Djelata
Glen S Djelata Mohon Tunggu... Dayak Wehea. Kutai Timur, Kalimantan Timur | Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta | PMKRI Cab. Yogyakarta.

KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menjaga Tradisi Menggapai Harmoni Bersama Semesta

1 Juni 2019   06:00 Diperbarui: 1 Juni 2019   06:37 0 3 0 Mohon Tunggu...
Menjaga Tradisi Menggapai Harmoni Bersama Semesta
sumber: flores-borneo.blogspot.com

Dayak Wehea adalah satu dari 405 sub-rumpun suku Dayak di Kalimantan. Bila ditarik garis ke atas, ratusan sub-rumpun itu mengerucut menjadi enam rumpun besar, yaitu Kenyah-Kayan-Bahau, Ot Danum, Iban, Murut, Klemantan, dan Punan. Walau memakai nama dan bahasa berbeda-beda, semua sub-rumpun itu punya kesamaan budaya. Yaitu: rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kapak Dayak); menjaga alam, menganut sistem perladangan, dan tradisi tari.

Sub-rumpun Dayak Wehea tinggal dan tersebar di enam desa di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Desa Nehas Liah Bing (Desa Tertua), Long Wehea, Diaq Leway, Dea Beq, Dia Lay, Bea Nehas. 

Enam desa Dayak Wehea ini merupakan bagian dari desa-desa yang ada di Kecamatan Muara Wahau, atau sebelumnya bernama Lebeng Wehea. Selanjutnya berubah menjadi Muara Wahau. 

Sebutan tersebut di karenakan orang (di luar suku Dayak Wehea) kesulitan menyebut kata "Lebeng Wehea", akhirnya diubah menjadi Muara Wahau. Lebeng artinya Muara, sedang Wahau artinya Wehea.

Wilayah adat Dayak Wehea sangat luas. Di bagian utara berbatasan dengan Gunung Meratus, Kabupaten Berau, dan Kutai Timur. Di sebelah selatan sampai Kelang, bagian hulu Batu Ampar, Kutai Timur. Di sebelah timur sampai Sungai Kelay, yang sekarang masuk Kabupaten Berau. Terakhir, di sebelah barat hingga Sungai Telen, Kutai Timur. 

Desa Nehas Liah Bing adalah desa tertua yang di diami Dayak Wehea. Desa berpenduduk kurang-lebih 2.613 jiwa itu berjarak 387 kilometer dari kota Samarinda. Sedangkan dari kota Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur sendiri, desa yang ada di sepanjang Sungai Wehea itu bisa dicapai dalam waktu lima jam (187 kilometer).

Selain Dayak Wehea, suku lain yang mendiami Nehas Liah Bing adalah Jawa, Bugis-Makassar, Kutai, dan Timor. Di Desa Nehas Liah Bing, warga Dayak Wehea yang memeluk Islam hanya sekitar 10% dari jumlah anggota suku Dayak Wehea. Mayoritas lainnya menganut Katolik dan Protestan. 

Masyarakat suku Dayak Wehea rata-rata masih menjalankan adat istiadat warisan leluhur. Meskipun warga Dayak Wehea menganut agama berbeda, mereka tetap hidup harmonis. Sebab nilai-nilai adat mereka dari dulu sangat kental dan ketat mengatur relasi antar-sesama. 

Relasi sosial ini terlihat ketika di kampung itu ada warga yang meninggal. Dengan kesadaran yang tinggi, mereka saling membantu meringankan penderitaan keluarga yang ditinggalkan. Mereka memberikan santunan dalam bentuk beras. Sama halnya dengan pesta pernikahan, dan kelahiran. 

Biasanya dalam upacara perayaan adat, babi selalu disajikan sebagai menu makanan. Untuk menghormati penganut Islam, keluarga yang menggelar acara juga menyediakan menu ayam potong. 

Apabila ada konflik masyarakat suku Dayak Wehea selalu menyelesaikannya dengan cara hukum adat. Adapun mekanisme adat itu untuk menghindari politisasi agama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2