Mohon tunggu...
Gita Rosani
Gita Rosani Mohon Tunggu... Seniman - Yogyakarta

Ibu-Ayah Menyayangiku

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Terima Kasih, Mama

5 Mei 2022   14:50 Diperbarui: 5 Mei 2022   14:52 68 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Di umur 23, ternyata aku masih sangat tidak menentu. Mulai dari A-Z semuanya terjadi, dengan banyak pengetahuan yang membuatku menjadi menjauhi hal-hal yang pernah salah dan meyakini hal-hal yang sesuai isi hati. 

Kemarin, aku sempat ngambek 'nggak mau nulis lagi' di sini. Dengan segala pertimbangan bahasa (aku kadang makai bahasa baku-tidak secara campur), dan dengan estimasi waktu (hari ini mau ngapain). Tetapi, yang kuingat lagi-lagi Kartini, Pramoedya Ananta Toer, dan Chairil Anwar. Mereka saja tidak lelah menulis, juga melalui tulisan, aku akan mengerti kecerdasan orang lain (melalui konteks lingkungan sosial-budaya). 

Akhirnya, aku kembali lagi pada 'menulis lagi' dan seterusnya. Hingga letih. 

Satu setengah bulan, aku sudah tidak berkomunikasi dengan orang favoritku. Aku masih merasai sakit karena kata-kata yang tajam darinya. Tetapi ada bagusnya, kata-katanya yang keras itu mampu meyakinkan diriku sendiri bahwa aku 'tidak sepenuhnya' demikian. Tidak sepenuhnya buruk. Jika saat itu aku pernah berkata padanya, “Tidak apa-apa kamu pergi.” tentunya itu hanyalah angin lalu yang bukan benar-benar dari hatiku. Aku hanya mencoba untuk merelakannya. 

Saat gap year (satu tahun tidak menempuh perkuliahan) aku sudah menjadi baik dengan segala keringat dan juga air mata, aku jarang marah. Tetapi aku lebih sering menangis. Karenanya, emosiku baik dan stabil. Aku tidak pernah benar-benar kecewa. Di satu tahun itu, ketika aku merasakan sedih akan pengumuman 'Anda tidak dinyatakan lolos' yang ada hanyalah kebangkitan. Saat itu, keyakinanku akan Tuhanku masih banyak. “Jangan sedih sebab Allah bersamamu.” atau “Sesungguhnya Allah lebih dekat dari nadimu.”

Saat itu, tak ada siapa-siapa. Meskipun ada temanku, Azhariyya Via, yang selalu ada (benar-benar selalu ada!) saat aku sedih, tetapi pasti ada suatu waktu saat aku membutuhkan seseorang namun tak ada siapa pun. Aku ingin menangis. Tetapi aku lebih memilih untuk menghadapi kenyataan itu. Aku sendirian saja. Meskipun tetap menetes, setidaknya aku menghadapinya. Sehingga, aku melewati masa-masa itu. Benar terasa, aku lebih kuat. Lagi, dan lagi. 

Menjadi lebih kuat atau melorot, keduanya sama-sama terasa di tubuh. Saat akan menguat, sakit, banyak  tekanan rasanya. Tetapi setelah itu jauh lebih baik. Proses ke 'menjadi lebih tangguh' juga tidak cepat. Ada waktu-waktu tertentu inginnya merebahkan tubuh dan bermalas-malasan. Aku pernah begini selama 2 tahun (yang parah). Makanya, gap year, perjuangan masuk perkuliahan selama 2 tahun dengan penantian itu adalah balasan yang kukira impas. 

Saat itu, saat putus asa. Mau tidak mau harus berharap. Meskipun, 'harapan akan membuatmu kecewa', nyatanya tidak. Aku berhasil. Harapanku setelah aku memperbaiki diri, menahan diri, ternyata terbayar tuntas. Tuhan memang tidak tidur. “Berdoalah maka akan Aku kabulkan.” ternyata benar. 

“Berharaplah.” suatu saat, saat kamu lelah berharap atau harapanmu sudah ada di ujung, saat itulah ternyata harapanku menyentuh langit. Kemudian turun lagi untuk kembali kepadaku. Ia sempurna. Menjadi realita. Terima kasih, Tuhanku. Lagi-lagi, engkau menerima doa-doaku. 

Sebenarnya aku tidak pernah membenci seseorang dengan sebenci-bencinya. Meskipun mungkin aku sangat marah, entah, amarah itu ada waktunta sirna. Tak berbekas. Mungkin tidak ada yang abadi. Lagi-lagi, Tuhanku bersamaku. Ia obatku. Tak hanya sembuh, aku juga segar. Sehingga aku mampu menjernihkan isi kepalaku dan juga penglihatanku. Hal yang sebelumnya 'terlihat' sederhana, kini terasa luar biasa. Aku sudah memaknai hal-hal kecil yang sebenarnya jelmaan dari hal baik dan luar biasa. (Terkadang, segala sesuatu hanya penjelmaan!)

Ibuku, Mama, menyukainya. Selalu menanyakannya. Ma, ia tidak mau denganku. Tetapi aku tidak mungkin bilang begitu. Ibuku yang jauh lebih kuat dariku, yang mampu kutiru, yang kukecewakan itu (tetapi ia tetap mengasihiku), itu menyukainya! Apakah aku tidak pusing sedang Ibu jarang memberikan restu untuk pilihanku. Hiking adalah pilihanku, tetapi Ibu tidak merestui. Ia pilihanku, Ibu merestui. Tetapi, lagi-lagi yang jadi takdir barangkali tidak bisa dipilih? Entahlah, ketika aku memutuskan untuk memilih sesuatu, lebih banyak hasilnya adalah ia lari dariku. Apakah aku monster?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan