Mohon tunggu...
Gita Rosani
Gita Rosani Mohon Tunggu... Yogyakarta

I am just a little girl.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Andieanira

23 Januari 2021   07:00 Diperbarui: 23 Januari 2021   07:01 124 0 0 Mohon Tunggu...

*brakkkk*
Ada suara seperti beling pecah di kamar Andien. Ya, Andien sedang membanting tasnya yang kemudian menyenggol hiasan lilin aromaterapi di rak hiasan. Andien sedang pusing sekali akan beberapa hal yang terjadi di hidupnya akhir-akhir ini. Mulai dari bahan kerjaan di kantor yang selalu disalahkan oleh bosnya, pengendara mobil menyebalkan yang mengusik emosinya, haid hari pertama, dan pacarnya yang katanya mencintainya sepenuh hati tetapi mendua (atau mungkin lebih, ia tak tahu).
Ia tak tahu dan tak mau tahu. Ia lebih memilih menonaktifkan handphone-nya atau men-settingnya menjadi airplane mode. Ia lebih memilih untuk memiliki emosi yang tenang daripada ia harus mencari tahu bagaimana perilaku pacarnya di belakangnya. Ia memiliki proyek menulis dengan 10.000 kata, itu hal baru baginya. Di kampus, ia hanya terbiasa menulis kurang lebih 500 kata. Ini hal baru yang menantang baginya, harus sukses dan membekas karena ia hanya punya waktu 30 hari. Waktu sepanjang itu termasuk dengan membaca bahan tulisan sebagai dasar yang berbahasa Inggris dan memiliki banyak kosakata baru. Ia pasti akan lelah, jadi ia tak mau semakin lelah dengan memikirkan atau mencari tahu hal-hal yang kurang penting dan hanya akan berujung merusak emosinya.

"Sya, lo di mana?" Andien menelpon sahabat perempuannya yang manis itu.
"Gue di rumah, ada apa?" ucapnya di balik layar handphone-nya.
"Gue mau cerita..."

*ting tong..ting tong..*

"Eh, Andien, udah sampe. Cepet banget sih lo. Sini masuk." kata Fresya sembari membuka gagang pintu rumahnya.
"Hai, makasih." ucap Andien dengan begitu dingin, lemah, dan pasrah.

Mereka berdua makan makaroni rebus dicampur susu yang direbus di ruang tengah. Fresya memang sengaja lebih memilih makan di ruang tengah daripada di dapur. Ruang tengah lebih memiliki suasana yang segar daripada di dapur yang agak gelap karena ventilasi yang sedikit. Tatanan di dapur juga belum dirapihkan, sehingga tidak cukup baik untuk mengembalikan mood sahabatnya.

"Gue mutusin El.."
Fresya hanya diam. Ia ikut merasa sesak karena Andien mencintai mantan pacarnya. Ia bingung, mengapa Andien memutuskan untuk memutus hubungan dengan mantan pacarnya itu. Fresya hanya diam. Ia memilih untuk diam dulu. Fresya tahu, Andien akan melanjutkan percakapan itu meskipun Fresya diam.

"Dia nakal di belakang gue."
Fresya masih diam. Ia memilih melanjutkan makan dan menenggak segelas sirup jeruk segar yang dingin karena es batu berbentuk huruf dari lemari pendingin kesayangannya.

"Bisa-bisanya..."
"Gue lagi belajar, mati-matian supaya gue punya penghasilan. Supaya gue bisa beli baju bagus, makan enak, punya badan sehat. Biar bisa pantes ada di samping dia, biar dia nggak malu kalau pas lagi sama gue. Gue nggak nyangka..."

Fresya makin ikut merasakan sakit. Fresya memang memiliki empati yang tinggi terhadap sahabatnya, Andien, tersebut. Fresya bingung ingin memanggapinya seperti apa. Menurut Fresya itu adalah persoalan yang berat. Ia tahu benar bagaimana perjuangan Andien dalam hidupnya. Entah kenapa ia ikut merasakan betapa getirnya kehidupan Andien.

"Ndien, abisin dulu makaroninya, ntar keburu dingin. Ngga enak." Fresya sengaja memakai kata-kata itu supaya Andien lupa akan kesedihannya. Andien memang memakan makaroni itu secara lambat, dan hal itu mengusik Fresya. Fresya telah membuatkan makanan itu sepenuh hati, ia tak rela kalau Andien melewatkannya.

Andien menangis.
"Andien...." Fresya memeluk Andien dan kemudian menepuk-nepuk pundak Andien dengan lembut. Andien merasa hangat oleh tepukan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x