Giri Lumakto
Giri Lumakto Dosen

Pensadora, a thinker | Pemerhati pendidikan literasi digital, teknologi, bahasa, dan budaya | Solo - Wollongong | Personal blog: lumakto.blogspot.co.id | tweet: @lumaktonian |email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Tidak Perlu Berlebihan saat Telegram Diblokir!

16 Juli 2017   17:24 Diperbarui: 17 Juli 2017   15:36 455 26 14
Tidak Perlu Berlebihan saat Telegram Diblokir!
Telegram - ilustrasi: starltrl.com

Mari berandai media sosial (medsos) adalah jalan-jalan di sebuah kota. Arus komunikasi kita pengguna medsos adalah lalulintasnya. Maka Telegram adalah salah satu jalan 'baru' untuk menuju satu tujuan. Namun tetiba jalan Telegram diblokir. Sedang ada perbaikan, ditinjau, bahkan mungkin ditutup selamanya. Apa yang terjadi dengan arus lalu lintas di medsos? Logisnya, pakai saja jalan lain yang lancar. Dan jalan-jalan di dunia medsos ini beragam dan banyak.

Pemblokiran Telegram sebagai medium instant messaging memang 'mencengangkan'. Karena medsos yang cenderung baru ini sedang gandrung digunakan. Yang namanya kebaruan (novelty) tentu ada intuisi eksplorasi dari penggunanya. Namun sayang, penelusuran dan utak-atik medsos baru ini harus berakhir, entah temporal atau permanen. 

Banyak yang lebay saat Telegram diblokir. Ada yang membuat petisi dan media mainstream terus menyoroti isu ini. Logika Kemenkominfo tentu benar dilogikan. Telegram adalah medsos yang aman untuk pesan yang terenskripi. Pesan yang ada begitu rahasia dan tinggi dengan privasi. Berbeda dengan Messenger FB, WhatsApp, BBM, Instgram, Twitter dll. yang cenderung masih bisa 'diintip' (baca: dimonitor) arus komunikasinya. Ditambah fenomena terorisme yang semakin sering dan berbahaya, tentu alasan ini semakin logis. 

Pencipta Telegram pun, Pavel Durov, menyebutkan privasi sebagai hal krusial. Terlepas dari isu privasi bagi banyak users, beberapa artikel ini menjelaskan mengapa Telegram menjadi 'sahabat' para teroris: Terrorist Love for Telegram, Explained dan Telegram, the Secret App Choice for Terrorists.

Jika terkait bahaya terorisme, maka saya pribadi lebih berbahaya Facebook. Lihat saja di timeline video, post, bahkan foto yang 'bernuansa' satu agama ditindas oleh konspirasi dunia Barat. Bahkan bukan hanya terorisme, hate speech, cyberbully, human trafficking, penipuan arisan, sampai grup pornografi anak ada di FB. Lebih bahaya mana dengan Telegram? Namun nyatanya FB tetap ada dan aman-aman saja. 

Terlepas dari alasan yang tersebut, apakah patut kita begitu berlebihan saat Telegram diblokir? 

Akui saja, aplikasi instant messaging di HP kita apa cuma satu? Minimal FB Messenger dan WA pasti berjibun notifikasinya. Ditambah Instagram, Snapchat, atau Tumblr. Belum lagi medsos yang spesifik seperti musical.ly, Tinder, Quora, dsb yang beberapa dari kita juga install. Telegram hanya satu dari beberapa aplikasi media sosial yang populer. Lalu apa dengan diblokir kita tidak lagi bisa ber-medsos?

Saya pribadi berpikir, pemblokiran ini lebih kepada 'nggubah omah tikus' (mengusik rumah tikus). Saat tikus-tikus yang ada keluar karena sarangnya diusik, maka menangkapnya pun mudah. Pemerintah dengan Kemenkominfo, Kepolisian, dan pihak terkait melakukan hal serupa perandaian ini. Jika para teroris yang selama ini aman berkomunikasi via Telegram, maka kini mereka resah. Mau tak mau, harus ada komunikasi yang lebih 'terbuka'. Para penegak hukum negara kita pun sudah mengepung sarang mereka. Jalur-jalur yang spesifik dan umum pun sudah dimonitor sedemikian rupa.

Maka kali ini isu utamanya adalah, mau tidak kita memerangi terorisme. Dan salah satu jalannya adalah memblokir Telegram. Sebagai orang awam, media sosmed yang kita pasang di HP tentu tidak cuma satu bukan. Biar pemerintah mencari jalannya menumpas terorisme yang kian ganas. Kita sedang diuji rasa nasionalisme kita tentang isu pemblokiran ini. Jangan sampai perlawanan kita pada terorisme menjadikan kit takut. Baca artikel saya #KamiTidakTakut, Tapi Kami Tak Mau Mati!

Salam,

Wollongong, 16 Juli 2017

08:24 pm