Giri Lumakto
Giri Lumakto Dosen

Pensadora, a thinker | Pemerhati pendidikan literasi digital, teknologi, bahasa, dan budaya | Solo - Wollongong | Personal blog: lumakto.blogspot.co.id | tweet: @lumaktonian |email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tekno Artikel Utama FEATURED

Nokia 3310, antara Memori dan Revolusi Bergawai

17 Maret 2015   21:45 Diperbarui: 2 Maret 2017   06:01 1690 30 23
Nokia 3310, antara Memori dan Revolusi Bergawai
14266118601942956605

[caption id="attachment_403639" align="aligncenter" width="560" caption="(foto: techradar.com)"][/caption]

 

Sejak peluncuran pertama kali tanggal 1 September 2000, pada akhir tahun 2003 Nokia 3310 sudah laku terjual 126 juta unit. Dengan diawali lahirnya 3210 di tahun 1999, karir 3310 lebih mentereng daripada pendahulunya. Dengan bentuk yang cukup nyaman digenggam. Bentuk bar phone dengan antena dalam dan lekuk yang pas, membuat Nokia 3310 adalah handphone yang hand-friendly. Berat yang juga cukup ringan dibanding pendahulunya, Nokia 3310 lebih ringan 20 gram (133 gram). Dengan dimensi yang juga compact, 113 x 48 x 22 mm, Nokia 3310 sangat pas di saku celana. Belum lagi casing bawaan pabrik yang kuat, Nokia 3310 menjadi handphone petualang untuk kaum urban.

Layar berlatar hijau 84 x 48 pixel memang bukan secanggih layar 4K smartphone saat ini. Pada jamannya, layar mini sudah termasuk canggih dan mudah terbaca. Berkat teknologi yang berbeda dari kebanyakan handphone masa itu, UI dari Nokia 3310 cukup baik. Dengan keypad yang juga responsif saat tangan menekan tombolnya, Nokia 3310 miliki segala kemudahan smartphone saat ini. Di kanan bawah layar, tombol navigasi yang cukup baik. Dengan tombol C sebagai tombol back dan hapus SMS sistem navigasi keypad memang cenderung untuk orang bertangan kanan. Namun, orang kidal tidak sulit untuk menyesuaikan. [caption id="" align="aligncenter" width="527" caption="(foto: techradar.com)"]

(foto: techradar.com)
(foto: techradar.com)
[/caption]

Dengan fitur tambahan lain Nokia 3310 mengantongi keunggulan. Kontak dapat menyimpan nama sampai 250 nama. Dengan 35 ring-tone preloaded, orang akan tidak pernah lupa jingle khas Nokia. Ditambah fitur program jam, stopwatch, kalkulator, dan konverter mata uang menambah 'cerdas' Nokia 3310. Tidak lupa, game legendaris Snake yang sampai saat ini menjadi ikon sebuah handphone. Tidak lupa, daya tahan standby baterai yang mencapai 260 jam membuat penggunanya tidak sadar kapan terkahir me-recharge handphonenya.

Dan, yang menjadikan Nokia 3310 monumental adalah tren ber-gadget dan awal mula jaman berkomunikasi via handphone. Siapa yang dulu tidak bangga memiliki Nokia 3310. Pada masanya, harga Nokia 3310 tidak mahal, juga tidaklah murah. Karena membeli gadgetnya, Nokia 3310, saja sudah mahal. Belum membeli SIM card perdana yang harganya di kisaran ratusan ribu. Belum lagi isi ulang pulsa yang juga cukup mahal di awal tahun 2000-an. Ber-gadget pada masa ini adalah soal status dan melek teknologi.

Juga pada masa Nokia 3310, dengan juga diiringi produk saingan seperti Ericsson, Siemens dan Samsung era ber-SMS booming. Walau harga pulsa dan SMS masih dikisaran Rp. 350 dan mahal pada waktu itu. Era SMS adalah serupa era sosmed pada era sekarang. Disebabkan pula, menelepon bahkan satu operator juga masih mahal, SMS adalah jawabannya. Era dimana nostalgia berkirim pesan adalah pesan sesungguhnya. Bukan seperti era medsos berbasis data saat ini. Berkirim pesan adalah menghabiskan data dan tenggang waktu semata. [caption id="" align="aligncenter" width="487" caption="(ilustrasi: independet.md)"]

(ilustrasi: independet.md)
(ilustrasi: independet.md)
[/caption]

Nokia 3310 adalah penjelmaan slogan Nokia, yaitu Connecting People. Dengannya dan pada masanya, orang terhubung satu sama lain. Orang melihat pentingnya memendekkan jarak antar mereka dengan gadget kecil ini. Berbeda dengan saat, ini teknologi komunikasi yang ada sekadar Connecting Accounts. Dengan kata lain, gadget dan sosmednya menghubungkan antar akun di dunia maya. Dengan kebebasan sebuah akun menjadi siapa saja dan apapun. Berhubungan dengan gadget, seolah hilang ruh connecting-nya. Sebaliknya, berkomunikasi via gadget, sekadar mengisi waktu luang dan menghabiskan paket data.

Referensi: techradar.com

Salam,

Bandung 17 Maret 2015

09: 46 pm