Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Ibu Sitti dan Fenomena "Digital Mob Lynching"

25 Februari 2020   00:52 Diperbarui: 25 Februari 2020   15:23 2705 18 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ibu Sitti dan Fenomena "Digital Mob Lynching"
Hashtag oleh Irfan Ahmad - Ilustrasi: pixabay.com

"It is a world without much coherence or sense; a world that does not ask us, indeed, does not permit us to do anything; a world that is, like the child's game of peek-a-boo, entirely self-contained. But like peek-a-boo, it is also endlessly entertaining."  Amusing Ourselves to Death - Neil Postman (1985)

Ibu Sitti Hikmawatty memang bersalah. Ketika pernyataan seorang komisioner KPAI irasional. Maka yang dipertanyakan netizen begitu banyak. Dan yang umum terjadi ada digital mob lynching (DMLy).

Agak sulit menjelaskan DMLy. Namun secara umum, DMLy bisa dikatakan mengeroyok seorang tokoh dan sebuah akun beramai-ramai. Kejadian ibu Sitty adalah salah satunya. 

Fenomena lain seperti perilaku seorang karyawati yang memarahi driver ojol. Sehingga memberi rating jelek perusahaan si pelangggan. Ada juga aksi driver ojol yang memberi rating rendah aplikator sebagai bentuk protes. Atau memberi rating buruk aplikasi e-commerce gegara terpeleset isu politik.

DMLy ini dilakukan beramai-ramai netizen. Tidak perlu ditujukan untuk trending atau terstruktur. Tetapi yang penting masif dan memberi dampak yang jelek pada target individu atau akun. Bentuknya bisa berupa troll (caci maki), meme, tagar, atau keywords tertentu.

Seperti Neil Postman ungkap dalam ekosistem media saat ini. Peristiwa yang ada begitu cepat berlalu. Untuk kemudian berganti dengan tragedi, peristiwa, atau narasi lain. Jika Postman lebih dari 3 dasawarsa lain mengantisipasi ekosistem 'petak umpet' informasi pada media televisi. Apa yang terjadi di sosial media saat ini menjadi bentuk 'hyper' daripada media televisi.

DMLy adalah salah satu bentuk tragedi yang cepat populer. Namun juga akan terganti dengan cepat beberapa hari ke depan. Jika kita lihat Google Trend, komparasi kata kunci Sitti Hikmawatty dan Berenang Bisa Hamil seiring popularitasnya. 

Perbandingan Google Trend antara Keywords - Ilustrasi: Pribadi
Perbandingan Google Trend antara Keywords - Ilustrasi: Pribadi
Yang menjadi sorotan Postman pada model ekosistem seperti peristiwa di atas adalah, jurnalisme sebagai bentuk hiburan. Jurnalisme seperti yang mengglorifikasi DMLy sperma renang ibu Sitty, Nia Ramadani buka salak, atau jenis kelamin Lucinta Luna. Tak lain adalah jurnalisme hiburan belaka.

Demi klik dan visit, esensi jurnalisme sebagai pilar ke 4 demokrasi kadang dikorbankan. Baik media mainstream atau niche, tak jarang memunculkan berita clickbait dengan isu terbaru. Jurnalisme saat ini memberikan sensasi bukan esensi. Kewajarannya ini disetujui kusak-kusuk di linimasa.

Jika media arus utama lain melakukannya. Mengapa media yang dimilikinya tidak? Apalagi saat media jurnalistik bersaing ketat dengan users generated content. Dan sayangnya, media kini malah mengekor tragedi dan tubir (ribut) netizen. Yang tak jarang tanpa faedah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x