Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Menjabarkan Pilar Digital 5R: Resilience

9 Oktober 2019   11:08 Diperbarui: 9 Oktober 2019   20:34 0 18 10 Mohon Tunggu...
Menjabarkan Pilar Digital 5R: Resilience
Superhero oleh Elias Sch - Foto: pixabay.com

Diadaptasi dari presentasi Andre Romano (2019)

Seusai 4 pilar yaitu, Rights, Respect, Responsibility, dan Reasoning. Pilar ke lima yang diajabarkan disini adalah Resilience atau ketangguhan kita menghadapi efek tak terduga dunia digital.

Resilience menawarkan strategi menghadapi dan menanggulangi dampak negatif dunia digital. Dampak yang terjadi antara lain mis/disinformasi, kritik, konfrontasi, dan provokasi. Karena ketangguhan dalam menghadapi hal-hal tersebut tidak semua bisa menghadapi.

Kabar bohong atau hoaks hampir menjadi 'makanan' sehari-hari netizen. Baik itu pada linimasa terbuka seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Ataupun pada platform yang tertutup seperti grup chat Telegram, WhatsApp, atau Messenger.

Dengan jumlah pengguna Facebook yang lebih dari 130 juta. Informasi dari tiap users sulit dibatasi baik konten dan distribusinya. Mulai dari informasi berkonten rasis, anarkis, misoginis, dan bigot. Sampai kabar bohong bermuatan kesehatan, keyakinan, dan politik. Hampir urung dibatasi.

Dampak moderasi longgar platform ini signifikan pada users. Kita sebagai users pun wajib dapat memilah, memilih, dan memahami informasi. Kadang dengan cara berfikir yang tidak cukup logis. Karena muatan emosi dalam berita bohong yang kadang begitu menjebak.

Menghadapi kritik di linimasa pun memerlukan keteguhan hati dan emosi. Banyak netizen sulit membedakan mana kritik dan caci maki. Dengan berlindung dibalik anonimitas, netizen lebih suka mencela daripada bertanya. Tak jarang dalam kerumunan (buzzer) mereka memborbardir caci-maki pada sebuah akun.

Kebebasan berpendapat adalah pondasi dunia digital. Namun, banyak yang kebablasan memahami hak bebas berpendapat. Tanpa tanggung jawab banyak yang malah memprovokasi, merisak, dan mempersekusi pribadi. Perbuatan men-doxing sampai meretas akun tak jarang sering dilakukan.

Konfrontasi seperti hal-hal di atas yang banyak orang tidak menduga. Konektivitas yang ditawarkan dunia digital memiliki efek tak terukur. Interaksi tidak sehat di atas dapat menjurus tindakan di dunia nyata. Persekusi langsung mungkin terjadi akibat debat kusir akibat preferensi politik di linimasa.

Polarisasi publik akibat intervensi preferensi pribadi dan algoritma mengekang kita. Banyak yang tidak menyadari. Tribalisme digital dengan merasa menang sendiri dan paling benar pun terjadi. Perspekti oposisi adalah kenihilan dalam mindset mereka.

Ketangguhan dunia digital hanya bisa muncul dengan literasi media dan digital. Karena pengetahuan adalah kekuatan. Maka kita perlu memahami, mempelajari, dan mempraktekkan cek fakta, melaporkan akun/konten negatif, sampai men-setting akun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2