Giri Lumakto
Giri Lumakto Guru

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | University of Wollongong, Australia | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: /girilumakto Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Jangan Korbankan Penglihatan Anak karena Gadget

4 April 2019   16:03 Diperbarui: 5 April 2019   13:10 549 24 7
Jangan Korbankan Penglihatan Anak karena Gadget
Children and Gadget - Foto: pixabay.com

Anak zaman sekarang tidak ada yang tidak kenal gadget atau gawai. Baik itu smartphone, tablet, atau phablet. Anak zaman now sering menjadikan bermain gawai sebagai aktivitasnya bermain. Dan tak jarang gawai menggantikan aktivitas fisik dan psikomotorik anak. 

Saat bermain dengan gawai tak dibatasi baik durasi dan frekuensi. Potensi gangguan penglihatan akibat gawai pada penglihatan bisa terjadi. Dan banyak orangtua tentu tak ingin anaknya memakai kacamata sejak kecil. 

Gangguan penglihatan pada anak sering terjadi pada usia 18 bulan sampai 4 tahun. Gangguan yang umum adalah mata juling dan mata tidak fokus. Namun potensi ancaman blue light dari gawai juga rentan pada penglihatan anak.

Layar gawai pada memancarkan sinar HEV (High-Energy Visible). Sinar HEV ini memiliki beragam sinar. Dan yang paling berbahaya adalah blue light. Blue light berada pada ambang batas antara sinar aman (visible light) dengan sinar UV (ultra violet). 

Saat mata terus terpapar blue light dari gawai atau alat elektronik lain. Dampaknya antara lain mata merah, mata kering, iritasi, pandangan kabur sampai kepala pusing. Gejala akibat blue light ini juga sering disebut digital eye strain.

Bayangkan dampaknya digital eye strain ini pada anak? Anak mungkin tidak paham men-setting pencahayaan gawai. Yang mereka tahu gawainya bisa untuk bermain. Apalagi saat pengawasan orangtua atau orang terdekat minim.

Dipetik dari majalah Nature edisi 2015. Penulis sekaligus peneliti Elie Dolgin melihat fenomena myopia boom. Di negara maju banyak anak-anak kini mengalami myopia atau rabun jauh. Peningkatan penderita myopia pada anak meningkat tajam di Taiwan, Hongkong, Singapore dan Korea Selatan.

Riset Rose, dkk di Sydney dengan partisipan 4000 siswa sekolah mendapat hasil mengejutkan. Anak sekolah yang jarang melakukan aktivitas outdoor, lebih rentan terkena myopia. Dalam hal ini aktivitas non-outdoor juga termasuk bermain gawai.

Lalu salahkah anak dengan bermain dengan gawai?

Tidak ada yang salah atau patut dipersalahkan dengan hal ini. Selama orangtua dan orang sekitar tahu dan paham prinsip-prinsip berikut.

  • Komunikasi dengan anak yang baik. Komunikasi adalah pondasi awal anak paham tentang larangan atau aturan. Jika komunikasi tidak terjalin baik, ada baiknya mulai membenahi. Tentunya dengan lebih banyak hadir, berbicara, dan mendengar anak.
  • Interaksi yang proporsional dengan gawai. Dalam hal ini orangtua atau orang sekitar harus menjadi contoh baik berinteraksi dengan gawai. Mereka harus tahu waktu, tempat, dan situasi yang tepat menggunakan gawai. Untuk apa memarahi anak bermain HP sambil makan jika orangtua melakukan demikian.
  • Konsisten melakukan kedua prinsip diatas. Jika anak sewaktu-waktu bermain gawai dan susah diatur. Bisa jadi anak mencontoh apa yang kita lakukan. Plus, cara komunikasi kita dalam mengatur interaksi anak dengan gawainya yang tidak selaras.

Pengalaman saya pribadi mengatur gawai untuk anak saya berdasarkan prinsip di atas. Anak saya hanya bisa melihat YouTube atau bermain game setelah pukul 7 malam. Dan hanya dibatasi selama 1 jam.

Anak pun tidak memegang gawai saat di meja makan, saat di tempat tidur, atau ketika bertamu. Akses internet gawai anak pun diatur sesuai persetujuan bersama. Karena untuk video YouTube saya sudah banyak unduhkan agar bisa dilihat offline. Dan setting-nya pun menggunakan Safe Mode.

Dan anak-anak saya tidak merasa keberatan dengan aturan tersebut. Karena saya sendiri melakukan hal yang juga saya terapkan kepada anak. 

Jangan mau kehadiran kita sebagai orangtua digantikan gawai. Apalagi kini banyak orangtua yang menyewa 'pengasuh digital'.

Referensi: eyesiteonwellness.com | Nature magazine | webmd.com

Salam,

Solo, 04 April 2019

04:03 pm