Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

3 Tips Aman untuk "Left Group" WhatsApp

8 September 2018   07:46 Diperbarui: 8 September 2018   17:03 1859 24 11
3 Tips Aman untuk "Left Group" WhatsApp
Ilustrasi (Pixabay)

Sudah berapa banyak WhatsApp Groups (WAG) yang Anda punya? Kira-kira puluhan atau ratusan mungkin. Dari jejeran WAG tadi, berapa yang grup yang masih aktif? Mungkin sepersekian dari puluhan atau ratusan grup tadi.

Mau left group mungkin ada rasa sungkan. Dulu yang memasukkan grup adalah senior/atasan. Dan atasan tersebut masih menjadi admin di grup. Atau karena merasa grup A penuh wejangan rohani jadi tidak enak untuk keluar.

Diam-diam meninggalkan grup pun serasa aneh. Bagaimana jika seorang anggota WAG mencari kita? Lalu keluarnya kita diam-diam menjadi bahan ghibah WAG di belakang kita. Lalu teman/rekan kita menyampaikan ghibah tadi via japri. Sakitnya tuh...

Karena tiba-tiba left group pun akan meninggalkan notifikasi. Orang-orang pun akan bertanya sebab kita keluar. Bisa jadi dalam hati mereka berburuk sangka. Tentunya kita tidak ingin berkesan demikian bukan.

Sebelum meninggalkan WAG, kiranya ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

  1. Apakah tujuan awal sebuah WAG dibentuk? Apakah grup itu temporal atau sementara saja. Contohnya untuk keperluan kepanitiaan/projek tertentu. Atau karena menetap di satu tempat cukup lama, seperti kost, PPL, atau pekerjaan.
  2. Apakah grup masih aktif atau tidak? Aktifnya WAG tentu terlihat dari interaksi chat antar anggota. Semakin banyak percakapan berarti anggota grupnya memang peduli akan satu tujuan dan aktif berkomunikasi mencapainya.
  3. Apakah kehadiran saya masih diperlukan atau tidak? Menakar sendiri prioritas kita untuk diperlukan tentu sungkan kita lakukan. Tetapi di tips berikut akan dijabarkan mengukur prioritas ini.

Left Group Notification - ilustarsi: thedailyedge.com
Left Group Notification - ilustarsi: thedailyedge.com
Setelah memperhatikan dan menimbang hal-hal di atas. Maka tips-tips berikut bisa dilakukan.

1. Menakar tingkat keterlibatan kita pada WAG. Coba bertanya dalam hati dahulu, pentingkah grup ini? Lalu konsultasikan sejenak dengan men-japri rekan/teman di grup. 

Jika beberapa orang juga mungkin merasa sebuah WAG tidak aktif/berprioritas lebih. Maka hal ini bisa jadi alasan kita meninggalkan grup. Terutama untuk tips ketiga di bawah. 

2. Meninggalkan atau pamit dari grup langsung di dalam WAG. Gunakan cara ini untuk grup yang bersifat temporal. Karena acara/projek/pekerjaan sudah usai plus laporan diserahkan. Atau karena memang sudah tidak lagi menetap di satu tempat.  

Tentu tidak asal slonong boy 'left group'. Baiknya ucapkan 'Saya ijin meninggalkan grup rekan/teman. Silahkan japri saya untuk menjalin silahturahim kita'. Lalu left group setelah itu.

3. Berkonsultasi dengan admin atau orang yang meng-invite kita ke WAG. Gunakan cara ini untuk grup yang kurang aktif. Untuk keluar dari grup kita pun sungkan karena ada senior, atasan, atau rekan yang menggabungkan kita ke WAG. 

Pertama japri admin/senior/orang bersangkutan untuk berbicara alasan kita ingin keluar dari grup. Alasannya bisa; karena terlalu banyak WAG atau alasan tips pertama. Lalu lakukan langkah dalam tips kedua di atas.

Dengan melakukan tips-tips diatas akan diperoleh. Ikatan persahabatan/profesional yang tidak terputus. Komunikasi bisa tetap dilakukan via japri. Dan tentunya, meminimalisir rasa heran dan syak wasangka orang lain dalam WAG pada kita.

Salam,

Solo, 8 September 2018

07:45 am