Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Kenapa Kita Gandrung Dengan Kata "Viral"?

13 Juli 2018   20:23 Diperbarui: 14 Juli 2018   17:45 2251 18 16
Kenapa Kita Gandrung Dengan Kata "Viral"?
VIRAL - Nils Gums Inspirational Typography - ilustrasi: youtube.com

* "Viral Video Polisi Tendang Pencuri di Minimarket Pangkal Pinang, Kapolri Marah Besar." (berita: kompas.com)
* "Viral, Pelajar SMA di Blitar Tampilkan Gerakan Porno Aksi" (berita: detik.com)
* "Viralkan dan #berhati-hatiHati2 penipuan baru, blum pernah belanja online di sini tp udh dpt hadiah dengan cara belanja dlu. Nm yah dpt hadiah gk hrs belanja dan embel2 lain yah. @DivHumas_Polri (tweet: @MumuAsix)

Membaca kata "viral", jari jadi ingin segera klik dan melihat. Begitupun dengan kata "viralkan", pengen segera men-share di WAG alumni/teman kerja. Kini, kata viral menjadi hook (bahkan clickbait) agar berita/posting diklik. 

Lalu mengapa kita begitu gandrung dengan kata "viral". Ada apa dengan kata viral? 

Kata viral secara etimologis berarti penyebaran penyakit disebabkan virus. Namun sejak era 90-an, kata viral masuk ke ranah marketing dan internet. Di tahun 1996 Jeffrey Rapport seorang profesor di Harvard Business 1996 mencetuskan konsep viral marketing. Sebuah fenomena viral marketing yang sukses terjadi pada film Blair Witch Project (1999). Film horor POV ini hanya berbudget 600 ribu USD. Namun mampu meraup untung 250 juta USD secara global.

Di ranah internet, video Dancing Baby (aka Baby Cha-Cha/Oogachaka) viral di tahun 1996. Animasi bayi joget lucu yang digarap dengan 3D Studio Max ini ditampilkan John Woodell di situsnya. Tak perlu waktu lama, Dancing Baby menjadi fenomena yang booming. Mulai dari lagu, iklan televisi sampai video gim memuat karakter Oogachaka Baby.

Seperti virus, kini berita, info kesehatan atau kecelakaan, sampai info gempa bumi cepat tersebar. Informasi yang kian berlimpah, mudah aksesnya, dan murah beban datanya bersliweran di internet via sosmed/grup chat. Guna mempercepat peredaran satu informasi, banyak pihak kini menggunakan kata viral. Mungkin berikut beberapa sebabnya.

Pertama, persepsi kita pada kata viral bersifat deterministik. Seperti judul berita viral di atas, kita meyakini berita ini baru, tersebar cepat dan aktual. Karena sudah banyak ternyata berita viral yang beredar, kontennya sesuai persepsi kita. Jikapun ada berita viral yang kita baca sudah lama atau tak lagi aktual. Persepsi kita pun memakluminya. Namun, kadang tidak dengan berita viral tapi bohong.

Kedua, dalam kata viral ada kebaruan/aktual atau novelty. Keaktualan berita adalah esensi penting produk jurnalistik selain faktual. Sehingga, kebaruan sebuah berita menjadi buruan banyak situs berita, bahkan untuk netizen. Situs pertama yang mengulas berita viral akan mendapat banyak klik. Netizen yang mendapat video/info viral pertama kali pun kadang bisa terkenal.

Ketiga, kadang dalam keviralan ada keanehan. Keanehan yang ditulis umumnya kontradiktif seperti contoh berita pertama. Bagaimana seorang polisi tega menganiaya seorang ibu yang diduga mencuri. Informasi viral pun kadang absurd seperti isi berita kedua dan ketiga. Kok pelajar bisa begitu senonoh menari. Atau seperti apa sih penipuan belanja online modus baru yang mungkin tidak terjadi secara langsung.

Keempat, situs berita dan sosmed nyatanya menyuguhkan informasi viral. Tak dapat disangkal, berita viral mendatangkan klik pada situs berita online. Beberapa situs malah menyediakan tab khusus berita-berita viral. Kadang, satu berita viral bisa disajikan menjadi 3-5 page yang berbeda demi jumlah klik. Begitupun dengan sosmed dengan penelesuran keyword viral. Ribuan post/tweet akan muncul jika kata viral dan berita terkait kita search di sana.

Mungkin secara umum, ada latensi FoMO dalam diri kita. FoMO atau Fear of Missing Out adalah kecemasan saat kita tidak bisa online. Jika habis data, ada gangguan provider, atau berada di daerah terpencil, kita pun merasakan FoMO. Kita butuh tahu update berita viral terbaru di situs berita. Kita begitu kepo status sosmed teman kita di Facebook/Twitter/IG. 

Secara linguistik, kata viral mengalami peyorasi. Maknanya yang dulu sempit dan spesifik untuk persebaran penyakit dari virus. Kini kata ini menjadi diksi penting dunia informasi teknologi untuk menarik minat klik. Dan perlu kita ketahui, tidak ada padanan kata viral dalam bahasa KBBI. Tidak seperti kata gadget dengan gawai, dan online dengan daring.

Semoga artikel ini viral.

Salam,

Solo, 13 Juli 2018

08:26 pm