Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pilpres 2019 Akan Memperuncing Era Post-Truth

12 Juli 2018   11:51 Diperbarui: 13 Juli 2018   17:37 1900 7 5
Pilpres 2019 Akan Memperuncing Era Post-Truth
Social Media Prison - ilustrasi: texastribune.org

[We] retreat into our own bubbles, ... especially our social media feeds, surrounded by people who look like us and share the same political outlook and never challenge our assumptions. ... And increasingly, we become so secure in our bubbles that we start accepting only information, whether it's true or not, that fits our opinions, instead of basing our opinions on the evidence that is out there. (Obama's Farewell Speech - fs.blog)

Ketar-ketir parpol oposisi mencari paslon melawan Jokowi, meriuhkan dunia nyata dan maya. Strategi oknum dan petinggi parpol meriuhkan media sosial akan semakin memanaskan Pilpres. Jelang pendaftaran paslon Pilpres, setiap kita dengan gadget akan beropini. Dari sekadar komentar di post, nge-tweet, sampai perang tagar bakal terjadi.

Pada setiap bubble kita sendiri, kita beropini berdasar apa yang kita anggap kebenaran. Era post-truth yang tercetus di masa Brexit dan Trump kini merambah kian ke mana. Saat setiap orang dengan medsos, chat group, dan milisnya merasa aman beropini. Opini homogen pun terus dipupuk. Dan tak jarang mengaburkan fakta atau kebenaran yang terjadi.

Sejak membludaknya kampanye negatif dan hitam di sosmed pada Jokowi, bubble Pilpres 2014 lalu belum tuntas. Partai oposisi dengan perspektifnya mengkritisi pemerintah di media dan sosial media. Hal ini menyuburkan perspektif kekalahan tak legowo paslon lain yang terjaga sampai saat ini. Hebatnya, hampir 5 tahun mindsetĀ konspiratif persepsi pihak oposisi ini bergeliat selalu.

Mindset ini terbangun dengan banyak bubble yang bersinggungan satu sama lain di dunia maya. Dengan kata lain, bubble yang ada menciptakan mother of bubble. Apalagi sejak bersliwerannya tagar #2019GantiPresiden. Terjadi optimisme di dalam mother of bubble ini. Namun jatuhnya, gempita itu kini sekadar psudeo-optimisme, atau optimisme semu.

Koalisi partai oposisi kini sibuk sendiri mencari paslon untuk Pilpres. Sengkarut pun kian nampak saat ada wacana poros tengah. Ada calon yang kian bingungnya sampai ia siap menjadi kutu loncat. Keriuhan pun menggema saat seorang yang dulu diandalkan menjadi pasangan salah satu capres, berpindah haluan dukungan. Semakin riuh dan keruh banyak oknum partai oposisi beropini bebas di media sosial.

Hate Speech - ilustrasi: en.mehrnews.com
Hate Speech - ilustrasi: en.mehrnews.com
Dampaknya, banyak dari kita dengan bubble Pilpres 2014 tersesat dalam kebingungan. Permainan politik ternyata tidak mudah difahami orang awam. Karena elit politik paham manuver mereka sendiri. Karena toh mereka makan siang dalam satu meja. Kita via medsos/group chat cuma bisa menggerutu dengan konflik politik yang terjadi. Bisa jadi, konflik dalam bubble kita inilah yang ingin disuburkan demi adagium vox populi vox dei.

Semakin personal konflik politik Pilpres dengan bubble yang dicipta via gadget kita masing-masing. Semakin persepsi kita membatu pada satu sudut pandang. Semakin ditentang dan dibeberkan fakta pun kadang percuma. Ada backfire effect yang malah menjadikan persepsi kita semakin homogen. Era post-truth paska Pilpres 2019 nanti, bisa jadi semakin runcing.

Baik calon petahana atau pesaing yang memenangkan kontestasi Pilpres 2019 nanti, bubble yang ada bisa tetap terjaga. Apalagi saat sosmed yang seharusnya menyajikan perspektif beragam, kini berfungsi sebaliknya. Sosmed kita akan bisa menciptakan echo chamber. Echo chamber ini menjadi "penjara" digital akibat preferensi algoritma yang kita tinggalkan.

Sebagai individu yang "bernafas" bersama dunia maya, ada baiknya memahami dunia digital ini. Sebuah dunia alternatif yang kian hari menjadi bagian tidak terpisahkan dari kita. Namun semakin lekat dunia digital ini, kadang ia menjadi parasit. Begitu banyak problematika malah yang bisa muncul, seperti ransomware, cyberbullying, hate-speech, dll. Walau sejatinya kita juga faham banyak kemanfaatan dunia digital.

Maka proposisi literasi digital sudah semakin mendesak buat kita kini. Memahami manfaat dan mudarat dunia digital sudah harus menjadi mapel di sekolah. Generasi mendatang bukan sekadar jago mengutak-atik komputer dan gadget. Tetapi mereka harus menjadi individu digital yang holistik. Merekalah yang menjadikan teknologi digital sebagai artefak kebudayaan kita nanti.

Pun jangan sampai bubble Pilpres terus meruncingkan polarisasi partisan. Bubble yang menjadikan suburnya era post-truth ada baiknya kita minimalisir. Karena saat ini, era post-truth masih menjadi wacana riset yang menyajikan banyak sisi negatifnya. Akumulasi negativitas ini bisa jadi mendisintegrasi bangsa Indonesia.

Salam,

Solo, 12 Juli 2018

11:45 am