Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Post-Truth dan Millenials yang Terpolarisasi Partisan

17 April 2018   13:39 Diperbarui: 18 April 2018   06:59 2065 16 5
Post-Truth dan Millenials yang Terpolarisasi Partisan
Stream - ilustrasi: www.nytimes.com

Era post-truth menjadi tantangan kita dan para millenials. Era ini adalah masa dimana kebenaran bukan lagi relatif, tetapi kolektif dan personal. Mempercayai sesuatu tergantung dari keyakinan pribadi dan golongan. Kebenaran difilter dengan echo-chambers media sosial pribadi mereka. Alih-alih mengkoneksi publik, medsos mengurung kita dalam filter bubble. Kebenaran yang tidak bersirkulasi di timeline Facebook, Twitter atau Instagram mereka adalah palsu.

Saat para milenials memanfaatkan medsos sebagai katarsis euforis dan ekonomis, agen-agen partisan turut campur. Berita bohong gorengan dengan bumbu SARA, partisan, dan kesehatan mempengaruhi.

Para milenials terpecah menjadi dua kubu. Ada agen reguler dan agen partisan. Agen regular adalah mereka yang menyaring informasi dengan validasi faktual. Sedang agen partisan mendeseminasi informasi sesuai ideologi dan kepentingan, apapun caranya.

Saat informasi menjadi sindrom obesitas di era digital. Agen reguler di medsos pun bisa terpengaruh. Sisi skeptis tergerus oleh pengaruh lingkar post-truth mereka di rumah, tempat kerja, atau tempat nongkrong. Ucapan si A dari sumber A1 lebih valid dari info dari web pemerintah. Mulailah lingkar ini berspekulasi dan mengakumulasinya menjadi teori konspirasi.

Bukankah teori konspirasi lebih menarik daripada berita aktual? Secrecy atau kerahasiaan selalu menggugah adrenaline dan imajinasi. Walau hanya fiksi pun, mereka percaya. Metamorfosis dari users socmed bijak menjadi penyebar berita bohong ala agen partisan terjadi. Echo-chambers pun semakin kuat dan mendalam di grup FB atau WA groups mereka. Ideologi partisan kotor pun meracuni pikiran.

Bukankah memilih partai menjadi hak politik warga negara? Benar adanya, namun yang dialami para milenials tidaklah sehat. Jika informasi menjadi rekayasa agen partisan lewat medsos, ada bias dalam preferensi politik. Saat pihak pemerintah kita sibuk membasmi misleading information. Ideologi partisan ala medsos menyimpang sudah kadung mengakar kuat.

Pendidikan literasi digital kita masih cenderung telat dan terlambat. Lebih dari 140 juta pengguna internet dibiarkan begitu saja di dunia maya. Efuoria mereka bisa menjadi teror saat politik kotor agen partisan membanjiri timeline mereka. Contohnya, ada anak-anak berpawai meneriakkan bunuh Ahok. Atau aksi besar massa meminta Ahok dipenjarakan. Sedang narasi kitab suci yang dianggap fiksi, tak mereka buat bombastis.

Isu SARA menjadi komoditas komodifikasi ala agen partisan. Sedang para agen reguler, yang kebanyakan para milenials, diminta menyaksikan saja. Isu agama terus menjadi trending saat Pilkada/Pilpres. Belum lagi keywords seperti Cina, asing-aseng, atau komunis. Kejenuhan pola berpolitik medsos semacam ini menjadikan medsos memuakkan. 

Bagi yang terjebak echo chambers, hal ini menjadi bahan haha hihi belaka. Sedang bagi yang milenials cerdas, hal ini tentunya mengkhawatirkan. Ditambah berita bohong yang dapat membuat gesekan di RL (Real Life). Polarisasi yang terjadi adalah ketidakmampuan pemerintah mengedukasi politik para milenials. Bukankah dari dulu pelajaran kewarganegaraan hanya formalitas mapel semata. Coba jadikan PkN menjadi mata uji UN, bayangkan nasionalisme milenials kita 5 tahun lagi?

Saat era post-truth menjadi endemi dunia digital, skeptisme hanya menjadi sebagian solusi. Karena gempuran filter bubble ala medsos menggempur runtuh pencarian fakta. Literasi digital yang otodidak difahami users reguler menjadi pegangan semata. Namun seberapa banyak dari 140 juta lebih users internet di Indonesia memahaminya?

Sementara itu, akal picik dan liar users partisan gencar membanjiri kolom komentar berita. Headline bombastis menjadi penarik klik dan share. Tanpa tahu isi dan konten yang menyesatkan. Asal berasal tadi dari situs yang ia sendiri percaya, masa bodoh saja. Pola klik-amin-share menjadi hiburan semata buat mereka. Tanpa melihat konsekuensi yang timbul dari sharing mereka.

Adalah tantang para amtenar kita saat ini. Para milenials dan gen-Alpha bukan sekadar pengguna dunia digital. Tapi merekalah yang menciptakan peradaban darinya. Dan merekalah juga yang berinovasi dalam dunia baru ini. Men-skip satu generasi akibat jahatnya polarisasi medsos bukan pula wacana solusi. Karena meninggalkan jejak sejarah digital tidak mudah direkayasa.

Artikel lain menyoal literasi digital dan milenials

Salam,

Solo, 17 Maret 2018

01:41 pm