Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pengalaman Diajar Dosen Asing dan Tantangan Mereka di Indonesia

16 April 2018   10:57 Diperbarui: 16 April 2018   20:23 1823 12 2
Pengalaman Diajar Dosen Asing dan Tantangan Mereka di Indonesia
Lecturer - ilustrasi: worldofbuzz.com

Wacana Kemenristekdikti mengundang 200 dosen asing menimbulkan 'kegaduhan'. Ada kegaduhan yang mengabarkan sisi positif dosen asing tadi selama setahun lebih mengajar. Ada juga kubu negatif yang meragukan hal ini bisa membuat kegaduhan di kalangan dosen lokal.

Sebelum jauh membahas wacana ini, saya coba berbagi pengalaman diajar dosen asing. Studi yang saya lakukan di Australia dulu.

Mungkin tidak serta-merta pengalaman ini menjadi generalisir. Tetapi apa yang saya alami saat diajar doktor atau professor asing, ada enaknya dan tidak enaknya. Namun, semua masih relatif bagi lain orang.

Enaknya tentu bisa bercakap langsung dengan ahlinya. Saya pernah menelusur seberapa banyak salah satu dosen saya menulis. Dan wow! Memang beliau banyak sekali menulis buku, jurnal dan proceeding. Keahlian beliau langsung 'diturunkan' dari seorang ahli bidang pronunciation asal US. Bahkan slide-slide yang beliau tampilkan di kelas, banyak memajang foto si ahli. 

Dalam hal pedagogis di kelas, saya akui mereka membuka pemahaman baru. Selain itu, pembahasan pun nampak interaktif dan terstruktur.

Terbantunya teknologi kelas yang memadai serta penguasaannya yang baik, mengajar menjadi menyenangkan. Baik model ceramah atau praktik, ada saja cara dosen asing ini memandu saya untuk faham dan kritis pada materi. Beragam pertanyaan dari teman silih berganti muncul di kelas.

Tentu ada juga tidak enaknya diajar dosen asing. Kadang cara mereka monoton serupa dosen negri sendiri. Tugasnya pun banyak sampai kadang bingung sendiri. Tidak masuk kelas/izin absen dari kelas tidak berarti tidak ada materi/tugas. Bagi beberapa hal ini tidak jadi soal.

Namun menjadi masalah buat sebagian. Materi model online terkadang menyulitkan untuk bisa difahami. Karena sudah terbiasa tatap muka langsung.

Terlepas dari perspektif pribadi yang pernah mengalami diajar dosen asing. Ada beberapa isu yang mungkin akan timbul jika benar dosen asing mengajar/meneliti/pengabdian publik disini. Walau tak dapat dipungkiri, dosen asing saat ini sudah mengajar di beberapa PTN/PTS di Indonesia.

Pertama, kesiapan learning culture mahasiswa kita. Sejak SD siswa kita dikondisikan dengan pola teacher-centered. Walau pola ini bergeser, namun kiranya tidak holistik. Ada kelas bermahasiswa kritis, banyak pula yang tidak demikian.

Kelas didominasi ceramah/presentasi dosen. Saat sesi diskusi diluncurkan, keheningan menyeruak. Satu atau dua pertanyaan selama dosen presentasi mungkin ada. 

Jika ada dosen asing mengajar, mungkin akan terjadi pola student-centered. Namun saya yakin pola ini ada di kelas 'khusus', dengan siswa berprestasi. Bagaimana jika dosen asing dihadapkan pada realita, keheningan mahasiswa adalah cara mereka memahami materi. Gaya belajar ini bisa menjadi shock-therapy  bagi dosen asing tanpa culture-awareness  yang baik.

Kedua, kesiapan sarana-prasarana yang menunjang. Jika saja dosen asing diminta mengajar di PTN/PTS yang jauh dari perkotaan, apa yang terjadi? Fasilitas mungkin ada, namun mungkin tidak memadai. Bak tuan rumah, PTN/PTS tentu menganggap dosen asing sebagai tamu, kehormatan. Akses internet minim, subskripsi jurnal internasional terbatas, atau kelas yang tidak nyaman, bisa jadi menghambat KBM. 

Ketiga, 'kecemburuan' di kalangan dosen PTN/PTS itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri, dosen asing adalah istimewa. Dalam hal fasilitas dan gaji bisa jadi tidak sama dengan dosen lokal. Entah bagaimana renumerasi dosen asing ini nantinya.

Namun jika dilogika, dosen asing mana yang mau digaji sesuai nilai Rupiah kita yang dibawah Dollar US, misalnya. Walau di satu sisi, dosen lokal pun bisa belajar/meneliti bersama dosen asing tersebut.

Keempat, perilaku minta foto dan mengartiskan dosen asing. Pengalaman saya pribadi, dulu ada relawan dari US yang mengajar di PTS. Setiap selasai mengajar/ berjalan keluar/menuju kelas ada saja yang meminta foto. Bisa itu mahasiswa/orang non-civitas, seolah mengartiskan relawan US ini. Bagaimana jika dosen asing menghadapi hal ini. Sedang privasi penyebaran foto mereka bisa jadi biggest concern mereka di dunia digital.

Terakhir, wacana atau realisasi dosen asing mengajar di PTN/PTS kita tetap baik. Walau lika-liku sosial, pedagogis, dan kebudayaan mungkin menjadi pengalaman baru atau tidak mengenakkan buat dosen asing.

Ditambah isu-isu teknis dalam pengajaran. Pada satu sisi terjadi penguatan akadems pada tridarma perguruan tinggi. Namun di sisi lain, ada isu yang juga membuat wacana ini agak diragukan.

Baiknya, kita tunggu realisasi dan dampak positif dari kebijakan Kemenristekdikti ini.

Salam,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2