Giri Lumakto
Giri Lumakto Dosen

Pensadora, a thinker | Pemerhati pendidikan literasi digital, teknologi, bahasa, dan budaya | Solo - Wollongong | Personal blog: lumakto.blogspot.co.id | tweet: @lumaktonian |email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Media highlight headline

Para Pengabdi Kompasiana

13 Oktober 2017   10:51 Diperbarui: 13 Oktober 2017   17:11 1302 39 30
Para Pengabdi Kompasiana
Just Write - ilustrasi: asthebirdfliesblog.com

Karena kata 'pengabdi' sedang trending, kata ini sengaja saya ambil. Jikalau terdengar hiperbolis, maafkanlah saya yang sekadar menulis. Artikel ini hanya gurauan isi hati pada Kompasiana yang kita cinta. Mungkin beberapa artikel saya juga telah membahas 'evolusi' Kompasiana. Sejak bergabung menjadi si sunyi (alias silent reader). Lalu menjadi tukang komporin (alias penulis kolom politik). Sampai sekarang menjadi penulis yang rada serius (alias pura-pura keren), saya bisa dibilang 'pengabdi' Kompasiana (please  jangan disingkat inisialnya saja).

Bergabung medio 2013 lalu, saya sendiri kagum dengan dinamika kepenulisan Kompasiana. Beragam macam tulisan dan walk of life  penulis ada disini. Segala macam artikel soal riuh rendah isu nasional dan internasional ada disini. Sesampai isu-isu teknis ala server, interface, verifikasi, sampai nanti katanya ada kepangkatan sudah saya lalui. Dan saya bersyukur bisa menjadi keluarga Kompasiana.

Mulai dari aktfitas onsite dan offsite Kompasiana juga sudah saya lalui. Nangkring di Jakarta, Jogja dan Solo juga pernah saya hadiri. Bertemu muka kawan-kawan Kompasianer pun menjadi momen tak terlupakan. Wajahnya yang mungkin selama ini tertutup foto anonim (seperti saya), ternyata lebih menarik. Yang tulisannya serius dan njlimet ternyata pribadinya hangat dan supel, bahkan humoris. Saya pun pernah masuk TV gegara Kompasiana. Kalau masih ingat KompasianaTV tahun lalu itu, saya pernah nongol sebentar. Ya lumayan buat nyeneng-nyenengin  orang satu kampung.

Kompasiana pun menjadi organisme sosial serupa lingkungan tempat kita tinggal. Beberapa persona datang dan pergi (tapi tidak sesuka hati). Ada yang konsisten menulis dan berkarya. Banyak juga penulis yang turun-naik seperti joget yang terkenal dari Indonesia Timur itu. Serupa tetangga yang kadang ngontrak rumah disamping kita. Orangnya bersahabat dan santun, tapi mereka tidak bertahan lama di RT kita. Ada pula tetangga yang judes dan anti-sosial, tapi ia warga tetap di RT ini. Dinamika organisme sosial ini yang tidak ditemui di platform digital manapun yang saya tahu.

Dan dengan Kompasiana pun ada manfaat dan juga marabahaya yang saya alami. Saya bisa menulis buku horor adalah salah satu berkah tersendiri. Karena ada rekan Kompasianer yang konsisten dan ringan tangan menuntun saya menyusun buku tadi. Saya pun dikenal sebagai 'penulis' di kampung saya. Beberapa ekses buruk juga terjadi dengan saya. Gara-gara unggahan tulisan satire saya soal suasana akademis di kampus, saya ditanyakan beberapa hal. Ada sinisme yang saya terima mengungkap fakta. Dan benar adanya Pramudya yang menyingungg kekuatan kata lebih mematikan daripada peluru.

Jejak-jejak saya menulis pun sudah saya bisa lihat. Baru tadi pagi saya lihat ada berita di media nasional yang mengangkat masalah Dwi Hartanto dan mythomania. Saya dengarkan baik-baik kalimat yang diucapkan voice over. Isi dan diksinya hampir serupa artikel yang saya buat beberapa waktu lalu. Saya tidak bangga, karena toh acara ini tidak menyebut sumber tulisan dari saya. Beberapa skripsi pun memuat artikel saya sebagai bagian karya tulis mahasiswa. Beberapa situs pun ada yang meng-kopas artikel saya tanpa memberi kredit nama saya. Biarkan tulisan dan isi artikel saya berguna bagi orang lain. Dan dengan ini, saya cukup senang.

Jadi bagi para 'pengabdi' Kompasiana, teruslah menulis. Saya tidak mau menjustifikasi secara artifisial menulis itu mudah atau sulit. Karena saya yakin tiap penulis hebat pun pernah menjadi penulis amatir alias kroco. Saya sendiri adalah salah satu penulis apa-adanya soal tulisan. Tidak bisa dibanggakan di tingkat Kabupaten. Tapi setidaknya anak-anak saya lihat dan membaca tulisan saya, nanti.

Artikel saya tentang Kompasiana:

Salam,
Wollongong, 13 Oktober 2015
02:50 pm