Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup

Saya Hidup Diantara Spasi Kata-kata

8 Mei 2014   17:55 Diperbarui: 25 Februari 2016   09:27 266 8 4 Mohon Tunggu...
Saya Hidup Diantara Spasi Kata-kata
*ilustrasi: Death of The Author)

[caption id="" align="aligncenter" width="403" caption="*ilustrasi: Death of The Author)"][/caption]

Penulis. Sebuah kata yang memiliki pesona dan persona baik dalam setiap jenak fikir. Seorang yang disebut penulis memiliki sebuah nuansa penuh cita rasa intelektual. Kesan yang timbul dari kata, bahkan sosok seorang penulis adalah sosok pandai dan handai taulan. Sang penempa kata dan penggulir alur ide ke dalam tulisan. Sebuah profesi atau hobi yang menjadikan sosok dengan kata penulis melekat di dirinya, adalah individu dengan cakrawala luas dan pengalaman membentang. Mulai dari kehidupan nyata yang sehari mereka renungi. Sampai duni fiksi antah berantah yang penuh cerita dan roman kisah hidup manusia. Penulis adalah sosok besar.

Saya. Saya bukan penulis. Saya hanyalah pengumpul serpihan tanda dan makna yang terserak dan tersudut di sudut mata. Mengumpulkan semua persepsi yang beberapa orang saksikan, namun enggan mereka tuliskan. Arti dan tanda itu mereka tahu ada, namun keengganan untuk mematerialisasikannya menjadi penghalang. Saya hanya mencoba mengumpullkan dan merangkainya. Bukan menjadi sesuatu yang indah dan apik untuk dilihat. Namun menjadi apa yang saya anggap indah dan apik untuk dilihat. Seperti rumah pemulung di bantaran rel kereta api. Dengan gubuk kardus yang mereka sebut rumah.

Itulah tulisan saya. Gubuk ini indah, selama saya pandang dan rasa indah. Orang lain melihat seonggok sampah tak patut. Saya anggap rumah pelepas penat dan perenung harapan. Orang lain akan merasa risih dan jijik. Saya rasa damai dan tentram dalam gubuk buatan sendiri. Setidaknya mereka tahu, gubuk itu ada. Keberadaannyalah yang penting. Karena toh, saya yang tinggal di dalamnya. Dan gubuk itu adalah kaisan-kaisan makna dan arti yang orang lain malas mengumpulkan. Ia ada, tapi dibiarkan begitu saja. Dan saya. Saya adalah pemulung makna dan tanda dari tulisan hebat penulis warta dan pengumpul fakta.

Saya. Saya bukan penulis. Saya hanya sekadar penganyam tanda dan makna yang kadang tidak terfahamkan. Saya bermain di antara logosentrisme dan metafisika indahnya pemaknaan yang ada. Sebuah logos (makna) yang difahami secara umum dan konvesional. Yang saya sulam adalah pemaknaan yang biasa saja dan kadang lepas kendali. Saya sulam dan menyulam tanda dan makna yang disingkirkan pemaknaan metafisis yang ada. Sebuah pemaknaan dengan preposisi A+B = AB dan AB = A+B. Saya coba sulam dan selami A+B= nihil. Saya menyulam spasi-spasi diantara kata-kata yang penulis hebat tulis. Sebuah makna yang hanya orang awam dan rendahan seperti saya bisa sulam. Walau buruk dan tidak berbentuk. Tapi itulah spasi-spasi yang ada diantara kata-kata yang dituliskan. Kata-kata yang sangat tegas dan berarti A+B = B. Bukanlah A+B = nihil.

Saya. Saya mati dalam tulisan saya. Setiap kata yang terangkum dan terderet sederhana ini, saya telah mati. Sosok dan keberadaan saya semena-mena digantikan dengan kata-kata yang saya tuliskan sendiri. Saya sesungguhnya telah dilahap mati dalam pembacaan dari tiap orang yang membaca tulisan saya. Saya telah terepresentasi seutuhnya dengan kata-kata yang sederhana ini. Kata-kata yang tertuliskan ini, dijejali makna dan diinjak-injak oleh pembaca. Tulisan ini dirajam dan didera sedemikian pasti oleh pembacaan. Pembacaan yang disertai pemaknaan dari tiap kepala. Penafsiran yang semena-mena dan pemahaman sang pembacalah yang mematikan saya. Kata yang teruntai adalah target kasar dan rigidnya pemaknaan dari pembaca. Sembari membaca, pembaca tersenyum sinis dan angkuh.

Apresiasi pun hanyalah simbolisasi kritik halus. Pujian pun peluruh sosok penulis. Karena yang dipuji adalah tulisannya. Lalu, saya pun masih keberadaan saya sekarat di antara kata-kata yang saya tulis. Saya ada dan bersembunyi di spasi-spasi yang mengalir indah di antara kata. Mengalir bak sungai yang ada dalam suatu tulisan. Saya mencoba bernafas tersengal di antara spasi-spasi itu. Saya ada disana. Karena saya yang memisahkan spasi-spasi itu untuk pembaca. Andai kata-kata itu terangkum tanpa spasi. Pembaca mana yang hendak membaca. Biarkan saya, si penulis mencoba hidup ditipisnya dan sepelenya spasi tulisan saya sendiri.

 

*Menyadur Derrida, Espacement Salam, Solo, 08 Mei 2014 10:30 am

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x