Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Verifikasi Biru Akun Kompasiana Adalah Sistem Kasta?

14 Oktober 2014   19:49 Diperbarui: 17 Juni 2015   21:03 0 43 35 Mohon Tunggu...
Verifikasi Biru Akun Kompasiana Adalah Sistem Kasta?
(ilustrasi: kompasiana.com)

[caption id="" align="aligncenter" width="420" caption="(ilustrasi: kompasiana.com)"][/caption] Setelah bersusah peluh payah kesal menjadi akun terverifikasi hijau. Mungkin awal tahun 2014 saya baru bisa terverifikasi. Dalam hal ini, verifikasi hijau yang didapat saya dan Kompasianer adalah validasi kalau akun asli manusia. Karena syarat utama verifikasi hijau adalah scan KTP kita. Membedakan buat orang yang hendak membuat akun kembar atau kloningan. Sehingga, memperkecil gerak orang atau kelompok yang berniat tidak 'baik' di Kompasiana. Dan tentunya, menulis dengan tanda centang verifikasi hijau harus bisa bertanggung jawab atas opini atau artikel yang dibuatnya. Kini Kompasiana hadir dengan verifikasi biru. Verifikasi biru ini sepertinya beraroma kasta. Dimana mereka yang memiliki tanda centang berwarna biru untuk membedakan mereka yang berwarna hijau. Akun Kompasianer yang sudah berwarna biru, menurut admin adalah:

Kompasianer yang mendapatkan tanda Verifikasi Biru adalah mereka yang artikel-artikelnya tidak diragukan lagi isinya. Bukan hanya karena keaktifannya dalam menulis di satu bidang atau tema, tapi juga semangatnya dalam menyuguhkan artikel berkualitas kepada para pembaca.Walhasil, setiap kali si Kompasianer menayangkan artikel baru, pembaca langsung mengingatnya sebagai blogger di bidang tertentu atau orang yang memiliki perhatian khusus kepada satu isu. (Selengkapnya di sini)

Sekilas memang, ada perbedaan antara centang hijau dan biru. Sekilas pun cenderung kastaik (apalah itu). Yang hijau berarti penulis yang administratif baik (1), tapi tidak membidangi satu ranah bidang (2). Dan yang biru, secara administratif baik (1), dan menulis konten spesifik juga baik (2). Kedudukan, verifikasi hijau = (1) oke dan (2) kurang oke. Sedang verifikasi biru = (1) oke dan (2) oke. Jadi, secara sederhana, verifikasi biru lebih 'hebat'. Karena selain administratif baik. Artikelnya secara konten baik dan memang menjadi capnya. Kastaikkah? Dua Cara Pandang; Degenratif dan Apresiatif Teringat sistem 'pangkat' di Kaskus. Dimana cendol hijau (strip hijau) menandakan si empunya akun 'hebat', kadang pula senior atau Donatur. Sedang mereka yang berbata merah (strip merah) adalah akun yang buruk. Namun, apapun beribu niat si empunya akun Kaskus, tidak bisa semena-mena mencap pemilik akun baik atau buruk. Semua saya fikir tetap berniat berbagi sesuatu yang bermanfaat. Baik yang status hijau atau merah, semua punya alasan sendiri-sendiri. Ada yang hanya having fun mengumpulkan bata merah, walau pemiliknya orang baik-baik. Ada pula akun yang mengumpulkan, kadang pula beli banyak cendol hijau untuk menipu pada forum Jual-Beli. Ini pun ada. Lalu bagaimana di Kompasiana sendiri? Mungkin, ada yang menganggap ini degeneratif. Dalam bahasa sederhananya, mengecewakan. Jika selama ini menulis semua hal, ternyata hanya mendapat centang hijau. Alias cukup centang kelengkapan administratif. Padahal ia rajin menulis, hampir semua hal. Ada rasa iri untuk mendapat centang biru. Namun, karena sudah kadung (Jawa, terlanjur) beragam artikel. Ia akhirnya kecewa. Merasa aktif menulis atau bisa Kopdar, ternyata tidak mendapat centang biru yang lebih 'tinggi kastanya'. Mungkin, ia bisa saja malas menulis dan pilih kembali ke rutinitas. Baiknya, Kompasianer berpandangan lebih apresiatif. Bukan cenderung iri atau memaksa diri untuk mendapat veriikasi biru. Saat melihat Kompasianer bercentang biru, malah baiknya belajar dan bertanya. Ternyata artikelnya selama ini sangat spesifik dan berisi hal yang baik. Entah bidang yang kurang difahami, misalnya Agrobisnis. Konten artikel yang ditulis tentunya sangat bermanfaat untuk para penggiat Agrobisnis. Sehingga, dengan semangat apresiatif ini, Kompasianer lain terpacu untuk menulis hal yang dengan baik ia pahami. Menulis banyak hal yang benar-benar dikuasai. Walau tetap bisa memberi warna diri, dengan tulisan yang sedikit berbeda. Baik perspektif degeneratif atau apresiatif, saya yakin terbersit di hati Kompasianer. Sepertinya admin Kompasiana membuat 'kasta' dengan macam verifikasi (tanpa verifikasi, hijau, dan biru). Mungkin beberapa Kompasianer menjadi minder dan 'ngambek'. Namun, dibalik itu semua verifikasi biru sejatinya memicu dan mendorong Kompasianer untuk lebih banyak menulis. Terutama menulis hal yang ia tahu dan fahami benar. Buktinya, sudah banyak Kompasianer pada setiap tulisannya benar-benar mencirikan Kompasianer tersebut.

"All you have to do is write one true sentence. Write the truest sentence that you know." - Ernest Hemingway

Salam, Solo 14 Oktober 2014 12:46 pm

KONTEN MENARIK LAINNYA
x