Mohon tunggu...
Gigip Andreas
Gigip Andreas Mohon Tunggu... Narablog

Twitter: @gipsterya | Blog: medium.com/@gipsterya

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Maharibet Bahasa Tulis dengan Segala Aturannya

19 Maret 2019   15:18 Diperbarui: 21 Maret 2019   17:22 1440 34 18 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Maharibet Bahasa Tulis dengan Segala Aturannya
Sumber: unsplash.com/@videmusart

Semakin mempelajari bahasa tulis, semakin saya merasa bingung. Saya bingung pada orang-orang yang mengaku penulis, tetapi membedakan "di" (kata depan) dengan "di-" (pembentuk kata kerja) saja tidak bisa.

Saya bingung, saya bertanya pada banyak teman yang suka menulis. Kesimpulan dari jawaban mereka: "Ada orang yang menulis karena ingin jadi penulis, ada juga yang menulis karena cuma suka menulis." Tipe kedua, kata orang-orang yang saya tanya, merupakan tipe orang yang tulisannya berantakan dan kita cuma bisa maklum.

"Kalau mereka dituntut untuk belajar bahasa tulis kayak penulis profesional," kata seorang teman, "butuh waktu yang lama. Iya kalau mereka punya waktu. Kalau enggak? Kapan mereka menulisnya? Jadi, maklumi saja."

Wah, enteng betul pemikiran teman saya ini. Bagaimana ceritanya kita memaklumi orang yang tidak bisa membedakan cara penulisan "di" dengan "di-"?

Begini, Bung dan Nona. Bisa membedakan penulisan "di" itu bukan syarat untuk jadi penulis. Itu kemampuan dasar yang harus dikuasai semua orang Indonesia—dan orang luar negeri yang ingin mempelajari bahasa Indonesia. Dibalik dan di balik itu berbeda. Dipenjara, tidak sama dengan di penjara. Spasi itu ada fungsinya, Kak.

Kekeliruan menganggap bisa membedakan "di" hanya untuk para penulis profesional itu berbahaya. Efek teburuknya: kita jadi abai pada aturan-aturan bahasa tulis yang lainnya karena berpikir aturan itu untuk kelompok penulis saja.

Omong-omong, apa, sih, definisi penulis itu? Kalau penulis artinya orang yang menulis, ya, semua orang juga menulis. Kalau artinya orang yang menerbitkan buku? Tetap saja, semua orang harus menguasai bahasa tulis, sekurang-kurangnya aturan dasar penulisan.

Kenapa? Tentu saja untuk mengurangi risiko salah tafsir. Tulisan yang ditulis dengan rapi saja masih ada kemungkinan ambigu, apalagi tulisan yang berantakan. Tidak, saya sedang tidak ingin berdebat soal kata baku. Saya sedang membahas PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Tidak peduli kamu menulis dengan kata baku atau slang, menulis curhatan atau novel, menulis di blog atau platform lainnya, yang jelas kamu perlu tahu PUEBI. Oh, bukan cuma tahu, kamu juga harus mampu mempelajari dan mengaplikasikannya—kecuali kamu menulis puisi dan jenis tulisan lain yang memang boleh melanggar aturan.

Seorang teman pernah bertanya, "Kenapa nulis itu ribet banget? Saya cuma nulis catatan harian, apakah saya harus ikut aturan bahasa tulis juga?"

Jawaban: kalau penulis tidak mau mengikuti aturan yang dianggap ribet itu, kasihan pembacanya. Nanti malah pembaca yang ribet harus berpikir ekstra akibat bingung dengan tulisan si penulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x