Gigip Andreas
Gigip Andreas Bloger

IG & Twitter: @gipsterya | Blog: gipsterya.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Apa yang Lebih Buruk dari Tulisan Buruk?

11 Februari 2019   06:13 Diperbarui: 12 Februari 2019   14:49 552 28 18
Apa yang Lebih Buruk dari Tulisan Buruk?
Terowongan tulisan | Ilustrasi: Gigip Andreas

Siapa pun yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan saya, berhak mengkritik, tanpa harus bisa membuat tulisan yang lebih bagus dari saya. Maksudnya, jika kamu tidak bisa menulis—katakanlah hanya suka membaca—dan sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya, artinya sama: kamu memiliki kebebasan untuk mengkritik.

Penjelasannya sederhana. Ketika kita barter atau melakukan transaksi dengan orang lain (dengan nilai yang setimpal), salah satu pihak yang merasa dirugikan berhak protes. 

Dalam kasus mengkritik tulisan, korelasinya seperti ini: saya menulis (kamu mendapat bahan bacaan), kamu membaca (saya mendapat apresiasi). Setelahnya, jika menurutmu tulisan saya buruk, kamu berhak mengkritik.

Ketika memberi kritik, kita tentu harus punya tolok ukur untuk dijadikan standar. Kita harus punya patokan jika ingin membandingkan atau menilai sesuatu. Namun, yang kemudian menjadi masalah adalah ketika semua orang punya ukurannya sendiri, ukuran siapa yang harus diikuti?

Di sinilah fungsinya membuat syarat: ukuran yang kita pakai harus bisa dipakai oleh orang lain. Apa itu? Apa pun itu, yang jelas bukan selera. Sebab selera setiap orang bisa berbeda dan memperdebatkan (bukan mendiskusikan) selera hanyalah buang-buang waktu.

Singkatnya, belajarlah untuk tidak menilai sebuah tulisan bagus atau jelek hanya berdasarkan selera. Kita harus punya ukuran yang bisa dilihat, diukur, dan diperdebatkan oleh orang lain—termasuk orang yang tulisannya kita nilai. 

Jika kamu hanya berlandaskan selera, gunakan itu untuk menentukan suka atau tidak, bukan bagus atau jelek. Pahamilah bahwa setiap orang bisa saja menyukai novel yang jelek dan tidak menyukai puisi yang bagus.

Kalau kamu setuju dengan hal-hal yang saya tulis di tiga alinea sebelumnya, mulai sekarang cobalah untuk ragu sebelum memercayai peresensi buku dan/atau mengamini orang-orang yang gemar memberi rekomendasi. Tanyakan ukuran apa yang digunakannya. Sebab, percayalah, banyak dari mereka kerap membaguskan tulisan-tulisan yang mereka sukai.

Kemudian muncul pertanyaan, "Jadi, tulisan yang buruk itu seperti apa?"

Untuk menjawabnya, tentu saja tergantung dari jenis tulisan yang akan diukur: kita tidak bisa bilang puisi A lebih buruk dari isi koran B jika membandingkan secara keseluruhan. Ini sama seperti bertanya lebih bagus mana makan pakai sendok atau garpu. Harus ada kejelasan apa yang ingin dimakan, bihun atau bubur? Jika ada fokus yang disoroti, seperti misalnya metafora, barulah kita bisa bilang sajak C lebih bagus dari cerpen D.

Secara umum, ukuran yang saya pakai untuk menilai sebuah tulisan bagus atau buruk hanya tiga: penulisan, kejelasan tema atau isi, dan penyusunan kalimat yang tidak bertele-tele. 

Poin pertama memakai tolok ukur KBBI dan PUEBI, poin kedua memakai premis tulisan itu sendiri, dan poin ketiga memakai tulisan lain yang sejenis. Artinya, ukuran yang saya pakai bisa kita perdebatkan. Itu untuk menilai secara umum. Kalau secara spesifik, tentu akan lebih detail lagi.

Meskipun begitu, saya pribadi menerapkan pengecualian terhadap beberapa jenis tulisan, seperti misalnya, tulisan yang memakai ragam kasual. Pada jenis tulisan ini saya tidak mempersoalkan KBBI, tetapi tetap menengok PUEBI—tanda baca, misalnya.

Setelah mengetahui perbedaan suka atau tidak dengan bagus atau buruk dan tahu syarat untuk menilainya, mari beralih ke persoalan yang lebih penting, "Kenapa ada banyak tulisan buruk?"

Menurut A.S. Laksana, penyebab kenapa ada banyak tulisan buruk adalah karena banyak orang tidak terampil berbahasa. Kita (pernah) merasa aman hanya karena sudah menguasai bahasa lisan.

Kita merasa, selama bisa bertransaksi, bertukar pikiran, mengobrol, mendapat teman, dengan bahasa lisan, itu sudah cukup dan tidak ada masalah. Kita (pernah) merasa tidak perlu mempelajari bahasa tulis, bahkan saat ingin menulis atau menjadi penulis.

Lalu, apa akibatnya? Tentu saja, kamu tahu, sesuatu yang lebih buruk dari tulisan buruk: penulis yang tidak menyadari dan enggan mengakui bahwa tulisannya memang (atau mungkin sangat) buruk. Masalah lain: ketika kita tetap menulis buruk karena tidak tahu apa itu tulisan buruk.

Aan Mansyur, menurutnya, "Jika mau jadi penulis, kamu tidak bisa melakukannya sendirian. Kamu akan kesulitan mengetahui kapan tulisanmu bagus, buruk, buruk sekali, atau buruk saja belum." Artinya, selain mempelajari bahasa tulis, kamu juga harus mencari orang yang mau dan mampu membantumu.

Barangkali kamu bertanya, apakah untuk bisa membuat tulisan bagus memang sesulit itu? Jawabannya, jika menulis adalah hal yang mudah, kelas-kelas dan buku-buku panduan menulis tidak akan pernah laku. Maksudnya, iya, untuk menciptakan tulisan bagus itu sangat susah. Banyak hal yang kita kira sederhana padahal nyatanya tidak: mencintai dan dicintai, umpamanya.

Omong-omong, ada hal lain yang lebih penting. Kamu harus tahu ingin dikenal sebagai penulis yang seperti apa, berusaha untuk mewujudkannya, dan setelah berhasil, luangkanlah sedikit waktu untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri, "Apakah ini arti dari menjadi penulis?"