Mohon tunggu...
Gigip Andreas
Gigip Andreas Mohon Tunggu... Narablog

Twitter: @gipsterya | Blog: medium.com/@gipsterya

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Apa yang Lebih Buruk dari Tulisan Buruk?

11 Februari 2019   06:13 Diperbarui: 18 Mei 2019   03:03 0 28 18 Mohon Tunggu...
Apa yang Lebih Buruk dari Tulisan Buruk?
Sumber: pexels.com/@pixabay

Siapa pun yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca tulisan-tulisan saya, berhak mengkritik, tanpa harus bisa membuat tulisan yang lebih bagus dari saya. Maksudnya, jika kamu tidak bisa menulis—katakanlah hanya suka membaca—dan sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya, artinya sama: kamu memiliki kebebasan untuk mengkritik.

Penjelasannya sederhana. Ketika kita barter atau melakukan transaksi dengan orang lain (dengan nilai yang setimpal), salah satu pihak yang merasa dirugikan berhak protes. 

Dalam kasus mengkritik tulisan, korelasinya seperti ini: saya menulis (kamu mendapat bahan bacaan), kamu membaca (saya mendapat apresiasi). Setelahnya, jika menurutmu tulisan saya buruk, kamu berhak mengkritik.

Ketika memberi kritik, kita tentu harus punya tolok ukur untuk dijadikan standar. Kita harus punya patokan jika ingin membandingkan atau menilai sesuatu. Namun, yang kemudian menjadi masalah adalah ketika semua orang punya ukurannya sendiri, ukuran siapa yang harus diikuti?

Di sinilah fungsinya membuat syarat: ukuran yang kita pakai harus bisa dipakai oleh orang lain. Apa itu? Apa pun itu, yang jelas bukan selera. Sebab selera setiap orang bisa berbeda dan memperdebatkan (bukan mendiskusikan) selera hanyalah buang-buang waktu.

Singkatnya, belajarlah untuk tidak menilai sebuah tulisan bagus atau jelek hanya berdasarkan selera. Kita harus punya ukuran yang bisa dilihat, diukur, dan diperdebatkan oleh orang lain—termasuk orang yang tulisannya kita nilai. 

Jika kamu hanya berlandaskan selera, gunakan itu untuk menentukan suka atau tidak, bukan bagus atau jelek. Pahamilah bahwa setiap orang bisa saja menyukai novel yang jelek dan tidak menyukai puisi yang bagus.

Kalau kamu setuju dengan hal-hal yang saya tulis di tiga alinea sebelumnya, mulai sekarang cobalah untuk ragu sebelum memercayai peresensi buku dan/atau mengamini orang-orang yang gemar memberi rekomendasi. Tanyakan ukuran apa yang digunakannya. Sebab, percayalah, banyak dari mereka kerap membaguskan tulisan-tulisan yang mereka sukai.

Kemudian muncul pertanyaan, "Jadi, tulisan yang buruk itu seperti apa?"

Untuk menjawabnya, tentu saja tergantung dari jenis tulisan yang akan diukur: kita tidak bisa bilang puisi A lebih buruk dari isi koran B jika membandingkan secara keseluruhan. Ini sama seperti bertanya lebih bagus mana makan pakai sendok atau garpu? Harus ada kejelasan apa yang ingin dimakan, bihun atau bubur? Jika ada fokus yang disoroti, seperti misalnya metafora, barulah kita bisa bilang sajak C lebih bagus dari cerpen D.

Secara umum, ukuran yang saya pakai untuk menilai sebuah tulisan bagus atau buruk hanya tiga: penulisan, kejelasan tema atau isi, dan penyusunan kalimat yang tidak bertele-tele. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x