Mohon tunggu...
Gigip Andreas
Gigip Andreas Mohon Tunggu... Narablog

Twitter: @gipsterya | Blog: medium.com/@gipsterya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Antara Toleransi dan Kebebasan Berekspresi

31 Desember 2018   15:58 Diperbarui: 18 Mei 2019   03:03 0 31 20 Mohon Tunggu...
Antara Toleransi dan Kebebasan Berekspresi
Sumber: unsplash.com/@gabriellehenderson

Tadi pagi saya membaca satu tulisan menarik ketika sedang menjelajah di Medium. Sebuah tulisan berjudul "Aku Hanya Ingin Menulis" yang ditulis oleh @chocobanana99.

Saya tidak tahu nama aslinya. Jadi, mari kita sebut saja Mbak Choco—karena dia seorang wanita meskipun saya tidak yakin usianya sudah mbak-mbak.

Dia mengawali tulisannya dengan kalimat, "Seharusnya keinginan itu tidak sulit. Namun kenyataannya, mencari tempat yang nyaman untuk menulis ternyata tidak semudah itu." Sangat menarik! Saya langsung penasaran, kesulitan apa yang dialami Mbak Choco dalam menulis sampai dia membuat dua kalimat pertama seperti itu? Terkesan pasrah, ada sedikit optimistis meskipun tetap pesimistis, dan memberi aura suram.

Terkait kalimat pertama, saya percaya bahwa tulisan yang bagus dapat dilihat dari kalimat pertama, atau setidaknya paragraf pertama. Alasan sederhana: orang yang tulisannya ingin dibaca pasti akan merangkai paragraf pertama semenarik mungkin agar tulisannya dibaca. Orang yang tidak bisa membuat paragraf pertama, besar kemungkinan tidak tahu cara membuat paragraf kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya—dan hasilnya akan menjadi tulisan yang jelek.

Oh, ya, kemarin, Windy Ariestanty, salah satu editor profesional Indonesia, membuat twit yang (seharusnya) mewakili perasaan para penulis:

Jasa Mbak Windy sudah banyak di dunia literasi, mohon jangan terlalu sering bikin beliau patah hati.

Mbak Choco melanjutkan tulisannya dengan, "Dulu sekali, ada tempat menulis yang sangat menyenangkan." Membaca kalimat itu membuat saya jadi semakin larut dalam cerita. Oh, sungguh, tempat apa itu? Apa yang membuatnya menyenangkan? Kenapa tempat itu spesial? "Mungkin ada yang pernah mendengar tentang platform menulis bernama Multiply?" lanjutnya pada kalimat kedua di paragraf kedua.

Multiply adalah salah satu platform menulis yang sekarang sudah tutup, dan karena itulah Mbak Choco terpaksa pindah rumah dari Multiply ke platform blog seperti Blogspot atau WordPress. Awalnya dia merasa nyaman, tetapi perasaan itu hanya bertahan sebentar karena beberapa alasan.

"Setelah itu, aku juga mencoba merambah Wattpad untuk menulis cerita, meski belum bisa konsisten sampai saat ini." Dari kalimat ini saya jadi satu hal penting: sebelumnya Mbak Choco menulis sesuatu yang bukan cerita—mungkin semacam diari—dan baru mulai bercerita di Wattpad. Sepengakuannya, Wattpad cukup menyenangkan, tetapi kurang cocok untuk jenis tulisannya yang random.

Ruru, salah satu teman Mbak Choco, di suatu hari memberi tahu sebuah platform baru. Mbak Choco mulai menemukan kesenangan lagi di dunia tulis-menulis karena teman-temannya sangat antusias menulis. Saya belajar satu hal penting lagi: terkadang kita bisa kehilangan selera menulis hanya karena persoalan sepele, seperti, tidak ada teman menulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x