Gigip Andreas
Gigip Andreas Narablog

Twitter: @gipsterya | Blog: medium.com/@gipsterya

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Saya Tidak Ingin Membuat Konten Mendidik

13 Desember 2018   03:20 Diperbarui: 20 Februari 2019   23:42 590 16 15
Saya Tidak Ingin Membuat Konten Mendidik
Seorang sarjana (sumber: unsplash.com/@honeyyanibel)

Saya heran pada orang-orang yang mengeluh di media sosial dengan ucapan senada: "Kok, banyak konten tidak mendidik, sih? Setiap buka media sosial isinya keributan melulu!"

Pertama, media sosial memang cocok untuk ribut. Jika Anda ingin terhindar dari hal ini, ya, jangan main media sosial. Tamasya saja ke gunung, pantai, atau kebun binatang—barangkali Anda lebih terhibur melihat singa dan macan yang terkurung di balik jeruji besi, ketimbang menertawakan orang-orang kurang kerjaan yang gemar membuat sensasi hanya untuk mencari atensi.

Kedua, kita (baca: termasuk saya dan Anda) tidak punya tuntutan untuk mendidik orang lain di media sosial. Apabila Anda ingin konten pendidikan, bukan Twitter dan Instagram yang seharusnya Anda buka, melainkan aplikasi semacam Ruangguru atau Quipper.

Catatan: jika Anda tidak setuju dengan kedua poin di atas, lebih baik berhenti baca sampai sini. Lanjutkan hanya bila setuju agar waktu luang Anda tidak terbuang dengan percuma—ya, terserah, sih, saya sekadar mengingatkan.

Media Sosial Cocok untuk Ribut

Jangan tanya kenapa orang-orang senang ribut karena jawabannya sudah jelas, media sosial adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa dipandang. Saya percaya, bila orang-orang ini punya kegiatan dan/atau kebahagiaan di dunia nyata, mereka tidak akan mencari perhatian di dunia maya.

Saya tidak membenarkan sikap mereka, apalagi meminta Anda untuk memakluminya. Hanya saja, daripada mengeluh, kenapa tidak memilah? Anda bisa menyeleksi konten apa saja yang ingin Anda nikmati di media sosial.

Apabila merasa terganggu oleh kehadiran orang-orang kurang kerjaan, ya, abaikan saja. Saya malah bingung jika Anda sudah tahu tidak menyukai suatu konten, tetapi dengan sengaja dan sadar—tanpa pengaruh alkohol—masih menyimak konten tersebut hanya untuk memaki pembuat kontennya. Anda mabuk apa?

Sama seperti catatan yang saya tulis di awal. Misalnya Anda tidak setuju dan tidak suka dengan kedua poin yang saya sebutkan, kenapa masih membaca tulisan ini, sampai kalimat ini? Seharusnya Anda sudah berhenti sejak diperingatkan.

Oh, ya, barangkali Anda lupa atau memang belum tahu: hampir semua media sosial memiliki tombol blokir. Tombol itu disediakan khusus untuk Anda—sesekali gunakanlah agar tidak mubazir.

Kita Tidak Punya Tuntutan untuk Mendidik Orang Lain di Media Sosial

Bukan berarti tidak boleh. Justru sangat boleh dan disarankan. Namun, hal itu tidak menjadi sebuah tuntutan. Media sosial adalah tempat yang membebaskan penggunanya untuk berekspresi. Selain itu, tidak mendidik bukan berarti tidak bagus: banyak konten-konten menghibur yang nilai pendidikannya sangat kecil, tetapi masih layak untuk dinikmati.

Lagi pula, netizen memang lebih suka dihibur daripada dibuat pintar. Saya pribadi bermain media sosial karena memang ingin mencari hiburan (selain tetap terhubung dengan teman dan keluarga). Kalau saya butuh ilmu, ya, saya sudah tahu ke mana harus mencarinya.

Jika Anda ingin menjadikan media sosial sebagai tempat mencari ilmu, aturlah akun Anda untuk itu: ikuti akun-akun yang memang senang berbagi ilmu. Begitu pun jika ingin menjadi pembuat konten yang mendidik, maka jadikan akun Anda seperti itu, tanpa perlu menuntut orang lain untuk sama.

Pada akhirnya, yang perlu Anda lakukan adalah memilah dan memilih konten, juga bersikap bijak dalam bersosial. Toh, kalau misalnya menemukan konten yang bersifat merusak moral, Anda bisa melapor pada yang berwenang, kan? Ini lebih tepat daripada memaki pembuat kontennya.

Membuat konten mendidik bukanlah sebuah tuntutan, melainkan pilihan. Pertanyaannya, Anda mau pilih yang mana? Sila dijawab dan selamat merenung, terima kasih.