Mohon tunggu...
Vensca Virginia
Vensca Virginia Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Aku bukan penulis. Aku hanya butuh kanalisasi untuk mengaktualisasikan diri.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

SMP-SMA Taruna Dharma Timika: Sekolah Gratis untuk Anak Putus Sekolah Suku Kamoro

10 November 2015   16:09 Diperbarui: 10 November 2015   16:20 367
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hari gini sekolah GRATIS? Tentu dong! Sejak 2013, Yayasan Taruna Dharma Timika membuka sekolah untuk anak-anak putus sekolah dari masyarakat adat Suku Kamoro yang mendiami kampung-kampung pesisir di Kabupaten Mimika. Siapa yang tidak pernah dengar Kabupaten Mimika? Atau kota Timika? Tunggu, kita bahas satu per satu yah. Mimika itu nama Kabupaten, dan Timika itu nama Ibu Kota Kabupaten. Sekarang sudah bisa bedakan Mimika dan Timika kan, teman?

Daerah Kabupaten Mimika, daerah terkaya diujung Timur Indonesia. Daerah yang kaya SDA dan Budaya namun miskin SDM. Walau berdiri perusahan tambang raksasa dunia PT. Freeport Indonesia di daerah ini, jaminan memperoleh hidup layak, pendidikan layak dan kerja layak bagi masyarakat asli merupakan sebuah "ejekan". Oke, saya tidak ingin utak-atik mengapa pengembangan SDM masyarakat asli di Kabupaten Mimika tersendat. Atau mengapa banyak masyarakat asli yang tidak bisa hidup layak dan tidak mendapatkan pekerjaan yang layak bagi peningkatan kualitas hidup mereka. Butuh penelitian mendalam untuk ini; karena untuk mempublikasikannya, butuh data akurat agar tidak ada klaim dan serangan balik.

Saya hanya ingin menampilkan, bagaimana cara kerja saya dan tim untuk menyisir rumah-rumah masyarakat adat Suku Kamoro untuk menjemput anak-anak putus sekolah dan mengembalikan mereka ke bangku pendidikan. Awalnya ini merupakan pekerjaan sulit, dan membutuhkan dedikasi yang tinggi bagi kemanusiaan.

Sahabat Kompasianer, artikel ini saya tulis bukan untuk menunjukkan seberapa kuat dan gagahnya kami, tapi sebagai sebuah motivasi bagi sahabat-sahabat kaum muda untuk merayakan "IndonesiaJuara dengan cara mereka sendiri. 

Berapa jumlah anak putus sekolah di Kabupaten Mimika, khususnya masyarakat adat Suku Kamoro maupun Suku Amungme? Tidak ada data akurat dari pemerintah daerah untuk ini. Tidak ada pula data-data dari LSM yang menunjukkan itu. Kami bekerja tanpa data. Dari pandangan mata, kami tahu banyak sekali anak-anak putra daerah butuh bantuan untuk sekolah. Terlihat, begitu banyak mereka yang berkeliaran di jalan-jalan, di pasar, dan diberbagai tempat saat jam sekolah. Jika sudah demikian, apa yang harus dilakukan? Apa akan duduk sambil berharap, semoga di suatu waktu di masa mendatang, akan datang seorang malaikat penyelamat yang mau menolong anak-anak ini untuk bersekolah? Berharap saja tanpa bekerja, ibarat fatamorgana.

2013, ini tahun terberat. Membawa anak-anak yang sudah terbiasa hidup bebas dan "liar" di jalanan serta sungai-sungai dan hutan-hutan bukanlah perkara gampang. Mengubah kebiasaan mereka untuk duduk manis dalam ruang kelas butuh kesabaran tingkat tinggi. Serta membujuk dan meyakinkan orang tua untuk "merelakan" anak-anak mereka kembali ke sekolah bukan seperti membalikkan telapak tangan. Saya rasa pendekatan persuasif yang intensif telah membuat kami "memenangkan" mereka.

SMP-SMA Taruna Dharma Timika, merupakan sekolah semi militer. Kenapa kami membuat sistem pendidikan semi militer? Ini bukan tanpa tujuan. Kami inginkan putra putri Suku Kamoro maupun putra-putri Papua dari suku lain yang bersekolah di sekolah ini memiliki karakter yang kuat, disiplin yang kuat, isi otak yang berkualitas serta menjadikan mereka bangga dengan jati diri sendiri, darimana mereka hidup dan berasal. Untuk mencapai hal tersebut, kami melobi pemda sampai petinggipetinggi militer (TNI/Polri) di Kabupaten Mimika untuk bekerjasama. Hasilnya? Kami telah melakukan penandatanganan MoU dengan petinggi-petinggi TNI/Polri, disaksikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika, dan Lembaga-lembaga Adat Masyarakat Suku Kamoro dan Amungme. Lihat disini - Tandatangan MoU

Sampai 2015 ini, tercatat ada 258 siswa SMP, 71 siswa SMA (baru dibuka tahun ajaran 2015/2016), dan 268 siswa program paket A,B dan C. Pada Mei 2015, kami telah mengikutkan 70 siswa pada ujian paket A dan B. Lalu darimana biaya operasional sekolah? Dimana para siswa mengikuti pelajaran dan seperti apa fasilitas sekolah?

Sahabat, sekolah ini berjalan tanpa ada modal. Tidak ada sejumlah saldo di rekening. Kami yakin, jika kami bekerja untuk kemanusiaan dengan hati yang tulus, maka semesta akan membantu menyiapkan kebutuhan kami. Dan itu terjadi. 3 tahun berjalan, tidak ada donatur tetap. Yang ada adalah dana-dana yang datang seperti mujizat dari surga. Kami menyiapkan seragam dinas mereka, kaos olahraga, kaos lapangan dengan dana minim. Mencicil untuk masing-masing siswa. Hari ini si A dan B, esok C dan D, dan seterusnya. Sampai saat ini pun, belum semua siswa menikmati seragam. Dan ke sekolah hanya dengan gunakan kaos olahraga atau kaos lapangan.

Gedung untuk tempat belajar mengajar yang digunakan adalah gedung aula milik Yayasan Yu-Amako. Gedung ini biasanya digunakan untuk tempat pertemuan dan rapat-rapat adat Suku Kamoro. Kami meminjam, menyekat menjadi ruangan kelas. Tidak ada perpustakaan, tidak ada laboratorium, tidak ada buku-buku pelajaran, dan sebagainya. Tapi kami tetap berusaha dengan sekuat tenaga, agar siswa bisa mendapatkan pendidikan sesuai kurikulum pendidikan nasional. Bagaimana caranya? Download Buku Sekolah Elektronik untuk dibagikan ke guru-guru dari situs Kementrian Pendidikan & Kebudayaan RI.

Bagaimana guru dibayar? Guru-guru kami adalah pekerja-pekerja yang layak diberikan penghargaan, karena mereka tidak menuntut harus dibayar secara berkala setiap bulan. Mereka mengerti kondisi keuangan sekolah. Guru-guru kami dibayar setiap 3 atau 6 bulan sekali, tergantung ada tidaknya uang di bendahara sekolah. Seperti yang saya sebutkan, kami tidak memiliki donatur tetap. Tidak ada pendapatan dari biaya sekolah siswa, karena merupakan sekolah gratis. Bagaimana mungkin kami menagih uang sekolah dari keluarga-keluarga miskin yang untuk biaya makannya saja sulit?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun