Mohon tunggu...
Ginar ZsalsabilaHandi
Ginar ZsalsabilaHandi Mohon Tunggu... Mahasiswa Salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung

Tetap semangat untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kegiatan KKNT Pencegahan dan Penanggulangan dampak covid-19 di Bidang Pendidikan:Perubahan Proses Pembelajaran Di SDN Tanjungwangi sebagai Dampak Covid-19 di Bidang Pendidikan

27 Desember 2020   14:09 Diperbarui: 30 Desember 2020   22:32 128 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kegiatan KKNT Pencegahan dan Penanggulangan dampak covid-19 di Bidang Pendidikan:Perubahan Proses Pembelajaran Di SDN Tanjungwangi sebagai Dampak Covid-19 di Bidang Pendidikan
artikel-5fec9d9bd541df6415681ea2.jpeg

img-20200915-084427-5fe836b9d541df19906b6bf6.jpg
img-20200915-084427-5fe836b9d541df19906b6bf6.jpg

           Perubahan sosial merupakan sebuah gejala sosial yang normal dan dinamis, artinya tidak ada masyarakat yang luput dari perubahan sosial. Lalu, apasih definisi perubahan sosial itu? Menurut Selo Soemardjan, perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola perilaku antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Perubahan sosial ini tidak hanya mengakibatkan perubahan disatu sektor, tetapi sifatnya meluas sehingga mengakibatkan perubahan pada sektor-sektor lain dalam kehidupan masyarakat. Seperti pada masa Pandemi COVID-19 ini yang dialami oleh seluruh negara di dunia menimbulkan perubahan yang besar pada bidang sosial, ekonomi, tanpa terkecuali bidang pendidikan. Banyak negara yang merasakan dampak negatif dan kerugian materil maupun non materil. Perubahan sosial yang tidak direncanakan ini mengharuskan pemerintahan disetiap negara mengambil keputusan dan aturan baru terkait aktivitas-aktivitas publik sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan dampak covid-19. Kesulitan tersebut dirasakan oleh individu-individu maupun kelompok dalam berbagai lapisan masyarakat, baik lapisan masyarakat atas terutama masyarakat bawah. Salah satau keputusan pemerintah Indonesia dalam menanggulangi dampak covid-19 di Bidang Pendidikan yaitu dengan memberikan kebijakan penutupan sekolah dari seluruh tingkatan mulai dari Paud hingga perguruan tinggi sebagai upaya untuk mengurangi kontak fisik dan sosial secara langsung. Adanya perubahan dalam proses pembelajaran akibat pandemi akan memengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran. Seperti yang terjadi di SDN Tanjungwangi, Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Provinis Jawa Barat. Terdapat beberapa hal yang perl disoroti terkait proses belajar yang mengalami perubahan sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Dampak Covid-19 Pada Proses Pembelajaran di SDN Tanjungwangi

Sekolah merupakan tempat bagi para peserta didik melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Melalui sekolah, peserta didik difasilitasi untuk  melakukan kegiatan yang menyenangkan dan saling berinteraksi antar peserta didik maupun guru. Tetapi, dimasa pandemi Covid-19 sejauh ini proses pembelajaran ditiap sekolah mengalami perubahan dari sistem konvensional menjadi modern seperti yang biasa disebut pembelajaran dalam jaringan. Di Indonesia sendiri, permasalahan dibidang pendidikan tidak hanya terjadi dimasa pandemi saja, namun sebelum pandemi melanda, banyak terjadi ketimpangan pendidikan mulai dari perbedaan fasilitas hingga keterjangkauan akses menuju sekolah. Lalu, Bagaimana dampak covid-19 bagi proses pembelajaran di SDN Tanjungwangi ini? 

1. Proses Pembelajaran menggunakan Mix Methode antara Daring dan Luring

          Proses Pembelajaran yang dilakukan di SDN Tanjugwangi ini merupakan metode campuran yaitu selain melaksanakan pembelajaran daring, juga melaksanakan pembelajaran luring. Hal itu menjadi keputusan dan kebijakan dari sekolah atas perintah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang. Kepala Sekolah SDN Tanjungwangi yang bernama Juju, mengutarakan bahwa "Pelaksanaan pembelajaran dan PAS dilakukan secara luring dengan memperhatikan protokol kesehatan, dengan sistem belajar kelompok dirumah siswa".  

          Pembelajaran Luring ini bersifat 50% dan daring 50%, yang dilaksanakan selama sekali sampai dua kali dalam seminggu. Artinya pembelajaran luring tetap dilaksanakan dengan menimbang dan memperhatikan protokol kesehatan supaya tidak sering melakukan kontak fisik dan sosial secara langsung.  Dengan adanya kebijakan pembelajaran luring, bukan berarti sekolah memperbolehkan guru dan siswa belajar disekolah. Maka dari itu, belajar dilakukan dirumah siswa dengan cara membagi satu kelas kedalam beberapa kelompok belajar. Sebagai Contoh pembelajaran di kelas 1B oleh guru wali kelas yaitu Ratnasih, S. Pd. dilaksanakan di dua rumah yang berada didaerah Babakan Curug dan Jln. Tanjungwangi. Guru wali kelas tersebut mendatangi masing-masing rumah untuk mengajar dan siswa diinformasikan untuk menerapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, menggunakan masker dan membawa hand sanitizer. 

          Lalu, bagaimana pembelajaran daring dilakukan di SDN Tanjungwangi ? Pembelajaran dalam jaringan dilaksanakan oleh masing-masing guru wali kelas dengan memanfaatkan sosial media whatsapp untuk membuat grup orangtua dan siswa. selama pembelajaran, guru memberikan materi dan tugas melalui sosial media whatsapp tersebut. kemudian berbagai informasi terkait pengumpulan tugas juga bisa dilakukan melalui whatsapp. kesiapan setiap orangtua dan siswa dalam hal pembelajaran daring ini tidaklah sama, dikarenakan terdapat perbedaan kondisi ekonomi dan latar belakang peserta didik.

2. Kemampuan Penguasaan Teknologi dan Informasi

          Pembahasan bagian ini difokuskan pada Subjek siswa kelas 1B SDN Tanjungwangi. pada siswa dan guru kelas 1B ini tidak seluruhnya paham bagaimana pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran dimasa pandemi ini. terkhusus bagi guru-guru yang lahir tahun sebelum 1980-an, karena faktor usia menjadi penghambat dalam penguasaan teknoogi informasi. kurangnya kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi ini menjadi kendala dalam menggunakan media pembelajaran daring, begitu juga dialami oleh siswa kelas 1 yang belum mampu menguasai dan menyerap pembelajaran yang diberikan melalui media daring. kesulitan ini memengaruhi pada keragaman metode pembelajaran yang sangat kurang, media pembelajaran tidak mampu dikuasai maksimal dan berpengaruh pada efektivitas pembelajaran sehari-hari.

3. Perbedaan Fasilitas Sarana Prasarana Pendukung Pembelajaran Daring

         Setiap siswa memiiki perbedaan dibidang ekonomi maupun latar belakangnya. seperti di kelas 1B ini, setelah melalui proses observasi yang dilakukan sekolah terkait kondisi siswa dalam kepemilikan fasilitas pendukung pembelajaran daring yaitu gawai dan internet, ternyata terdapat beberapa siswa yang tidak memiliki gawai sama sekali. menanggapi hal itu, pemerintah juga memberikan upaya bantuan subsidi kuota ke setiap siswa disemua sekolah di Indonesia. tetapi sekolah juga melakukan penyesuaian kembali dan memberikan treatment bagi para siswa yang tidak memiliki gawai dengan saling bekerja sama antar orangtua siswa untuk memberikan bantuan seperti meminjamkan hp ataupun belajar bersama. akses internet dan sarana prasarana yang terbatas jelas menjadi topik yang lazim dalam membahas masalah dalam pembelajaran daring ini, termasuk dialami di SDN Tanjungwangi.

      4. Proses Penilaian 

         Hambatan yang dialami guru dalam hal ini adalah proses penilaian, karena dampak covid-19 pembelajaran tidak bisa dijalankan secara tatap muka dan guru kesulitan untuk menila secara langsung bagaimana sikap dan kemampuan kognitif siswa. Dalam studi kasus di kelas 1B SDN Tanjungwangi, guru wali kelas merasa kesulitan dalam merekap nilai harian, baik tugas-tugas, ulangan harian hingga penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester. Hal itu dikarenakan guru tersebut tidak mendapat informasi penuh dari siswa karena pembelajaran daring bersifat terbatas, pemberian tugas juga disesuaikan dengan kondisi siswa karena ada siswa yang memiliki kuota terbatas dan berhalangan untuk mengumpulkan tugas sehingga nilainya kosong. Kemudian, hambatan dalam memproses nilai PTS dan PAS bersifat kurang efektif karena keduanya dilaksanakan secara luring dengan cara siswa dibimbing mengisi jawaban yang benar oleh guru dan orang tua. Hal itu berarti selama proses PTS dan PAS, siswa menjawab soal tidak dengan kemampuannya sendiri melainkan berdasarkan bimbingan dari guru dan orangtua karena penyampaian materi selama masa pandemi ini kurang efektif dan siswa kesulitan jika tidak mendapatkan bimbingan tersebut, alhasil nilai yang didapatkan siswa hampir serupa dan mendekati nilai sempurna.  Pencapaian kompetensi Dasar pada semua mata pelajaran akhirnya dinilai dengan proses yang alakadarnya, dengan melihat nilai PTS, PAS dan tugas selama pandemi. Namun, solusi dari hal ini adalah guru wali kelas 1B tetap mampu mengamati siswa dari kemampuan kognitifnya, seperti kemamuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan baik sebagai indikator penilaian rapor semester 1 ini.

Kesimpulan

          Dari hasil program wajib kegiatan KKNT Pencegahan dan penanggulangan dampak Covid di Bidang pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, diperoleh bahwa dampak dari covid-19 di SDN Tanjungwangi Kelas 1B ini menimbulkan banyak perubahan sosial khusunya dalam perubahan proses pembelajaran menjadi luring atau biasa disebut dengan belajar di rumah. hal itu menimbulkan dinamika dalam proses pendidikan seperti hambatan dalam pembelajaran luring, keterbatasan kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi sebagai media pembelajaran luring, perbedaan fasilitas sarana dan prasarana penunjang bagi siswa dalam pembelajaran luring  dan efektifitas penilaian kognitif dan psikomotor siswa.  Maka dari itu,  perlu langkah strategis dari pemerintah, Sekolah, guru dan orangtua dalam menanggulangi dampak perubahan sosial tersebut. Seperti menteri pendidikan dan kebudayaan harus sigap dan mampu memberikan kebijakan  yang disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah dan mendukung para guru dan siswa dimasa pandemi. Keseluruhan aspek masyarakat diharuskan mampu beradaptasi, peka terhadap lingkungan sekitar, dan berusaha membantu masyarakat lain yang mengalami kesulitan dimasa pandemi ini. Kemudian, efektifitas pembelajaran di sekolah harus dapat dilaksanakan dan didukung oleh berbagai pihak, karena hal ini diperlukan untuk membangun kembali dan memperbaiki permasalahan-permasalahan akibat pandemi secara bertahap. Harapan baik selalu tercurahkan bagi seluruh masyarakat supaya segera terbebas dari permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan akibat pandemi covid-19. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x