Mohon tunggu...
Gilang Sotya Nugraha
Gilang Sotya Nugraha Mohon Tunggu... Dokter - Interested in medical study, philosophy, and political science

Currently studying at undergraduate program faculty of medicine brawijaya university. Part Of Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

John Lennon dan Cita-Cita Utopia Anarkisme

14 November 2020   15:03 Diperbarui: 14 November 2020   15:06 366
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

John Lennon sudah sejak lama dikenal sebagai seorang musisi multi instrumentalist jenius. Di era 60-an, ia bersama band nya, The Beatles, mencapai puncak kesuksesan dan telah menjadi kiblat bagi para musisi pemula yang ingin menginjakkan kaki di panggung besar musik dunia. Ketenaran John Lennon dan The Beatles pun sampai juga di Indonesia. 

Dimana Presiden Soekarno saat itu dengan lantangnya menyatakan anti terhadap musik ngak-ngik-ngok, yang merujuk pada musik-musik rock karya The Beatles dan Elvis Presley. Hal ini tidak lepas dengan anggapan Bung Karno yang menganggap musik-musik semacam ini adalah representatif dari nekolim, neo-kolonialisme, antek antek amerika dan barat, yang mana kepadanya kita harus anti se anti-antinya. Soekarno menganggap itu merupakan suatu penetrasi kebudayaan yang lambat laun akan menggeser budaya asli Indonesia sendiri.

Kembali kepada sosok John Lennon sendiri. Di awal karir John Lennon sebagai seorang musisi, utamanya saat bersama The Beatles, John sendiri tidak terlalu memperlihatkan aktivitas politik maupun tendensi politik. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan Brian Epstein selaku manajer dari The Beatles yang melarang setiap anggota dari The Beatles berbicara soal politik. 

Namun setelah Epstein meninggal pada tahun 1967, John Lennon mulai memperlihatkan diri sebagai seseorang yang anti perang, anti penindasan, anti kekerasan, dan lebih jauh lagi sebagai seorang yang sayap kiri, yang berbeda dengan kaum far leftist. Lagu revolution adalah awal dari itu semua, dimana dia memprotes bagaimana kaum kiri radikal yang selalu berbicara tentang revolusi tetapi bagaimana cara revolusi diraih adalah harus melalui jalan kekerasan.

Pada 1971, lagu Imagine diciptakan oleh John Lennon. Bagi awam yang tidak mengetahui atau tidak mengikuti tentang filsafat politik tentu saja lagu ini hanya dianggap sebagai sebauh lagu tentang impian perdamaian, lagu tentang mimpi dunia tanpa perang, lagu tentang kemanusiaan. 

Tetapi, jika kita melihat lebih jauh lagi penulisan lirik dari lagu tersebut, kita bisa mengetahui bahwa lagu tersebut membawa cita-cita masyarakat tanpa kelas Marx dan cita-cita masyarakat kolektif tanpa ada batas-batas negara. Cita-cita kolektivisme masyarakat ini adalah suatu cita-cita utama dalam anarkisme. 

Dalam kepenulisan lagu imagine dan revolution, tentu saja kita bisa mengetahui bahwa Lennon jelas adalah seorang anarkis. Dia mengkritisi bagaimana seorang far-leftist menyuarakan ide-ide revolusi, bagaimana cara mereka mencapai ide-ide revolusi tersebut. Jika kita merujuk pada sejarah, tentu kita teringat bagaimana perseteruan ideologi antara Marx dan Bakunin, yang meskipun sama-sama sayap kiri, mempunyai definisi berbeda atas suatu sistem masyarakat tanpa kelas, yang akhirnya memecah sayap kiri menjadi dua dikotomi yang berbeda, golongan kiri bolshevik dan golongan sayap kiri anarkis-sindikalis.

Jika kita merujuk pada paham anarkisme sendiri, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari seorang Mikhail Bakunin sebagai pencetus pertama dari anarkisme sendiri. Anarkisme sendiri bisa dibilang merupakan kritik terbuka Bakunin terhadap konsep proletariat authoritarian yang diajukan oleh kaum bolshevik. 

Jika kita menyebut marxisme sebagai sebuah pemikiran, kita tentu bisa melihat konsep materialisme dialektika Hegel sebagai suatu dasar pemikirannya, dalam artian kita bisa merujuk konsep tesis-antitesis-sintesis sebagai fondasi utama dan pertama dari pemikiran Marx. Marx dalam hal ini menyebut kapitalisme sebagai tesis, sebagai permasalahan utama yang ada di dunia, sebagai sumber perbudakan dan penindasan sehingga harus dilawan. 

Maka dari itu konsep marxisme hadir sebagai antitesis dari kapitalisme itu, dimana Marx menyerukan perlawanan serta cara perlawanan dalam buku Communist manifesto dan mengajukan  konsep-konsep ekonomi tandingan bagi kapitalisme dalam buku Das Kapital. Hal ini kemudian diharapkan dapat membentuk suatu sintesis, yaitu terbentuknya masyarakat tanpa kelas yang hidup secara kolektif tanpa adanya penindasan antara satu lapisan kelas masyarakat dan kelas masyarakat yang lain. 

Namun, kaum bolshevik, termasuk dalam hal ini marx, sebagai pewaris utama dari marxisme mengartikan bahwa suatu kelas masyarakat tanpa kelas baru bisa dicapai dengan adanya para kaum pekerja di puncak pemerintahan sebagai pemilik kapital, hal ini disebut sebagai suatu konsep kediktatoran proletariat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun