Mohon tunggu...
M. Gilang Riyadi
M. Gilang Riyadi Mohon Tunggu... Penulis - Author

Movie review and fiction specialist | '95 | contact: gilangriy@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

[Review Buku] Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta

13 Januari 2019   18:47 Diperbarui: 23 April 2021   17:32 4220
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
[Review Buku] Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta (image by Tokopedia)

"Jika kita tak pernah jatuh cinta, kita tak akan banyak belajar dari masa lalu. Bagaimana ia mengajari kita untuk tetap kuat ketika hati terserak. Kita tak akan menjadi tangguh"

Begitulah sedikit kutipan di balik buku berjudul Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta. Buku non-fiksi ini sudah rilis di toko buku sejak bulan Desember lalu. Sebelum rilis di toko buku, sang penulis mengadakan pre order bertanda tangan yang dijual di beberapa toko online. Saya pun termasuk salah satunya yang melakukan pre order.

Sang penulis, Alvi Syahrin, sebelumnya sudah menerbitkan 3 buku fiksi di antaranya Dilema (2012) -- Bukune; Swiss (2013) -- Bukune; dan I Love You (2015) -- Gagas Media. Lalu, sejak tahun 2016 dirinya mulai menulis di Instagram melalui postingannya yang memotivasi.

Postingan motivasi penulis (image by Instagram alvisyhrn)
Postingan motivasi penulis (image by Instagram alvisyhrn)
Tulisan Alvi Syahrin sangat cocok untuk orang berusia muda yang masih labil. Topik yang dibahas biasanya mengenai kisah asmara, kehidupan, masa depan, dan lain-lain. 

Setelah kurang lebih dua tahun menulis di Instagram yang dimulai dari followers ratusan hingga ratusan ribu, kali ini sang penulis merangkum permasalahan anak muda tersebut (khususnya tentang cinta) di sebuah buku yang kembali diterbitkan oleh Gagas Media.

Jika Kita Tak Pernah Jatuh Cinta ditulis untuk orang-orang yang mengkhawatirkan dirinya dengan kisah cintanya. Entah itu karena beda agama, jarak jauh, tidak direstui oleh orang tua, atau pun masalah-masalah lain yang berhubungan dengan masalah orang jatuh cinta.

Buku ini akan membuka mata pembaca bahwa cinta bukanlah yang utama, bukan yang paling penting, dan bukan segalanya. Masih ada aspek lain yang akan dibahas secara detail di sini, tentu dengan logika yang masuk akal. Pembaca pun perlahan-lahan akan diberikan saran terbaik untuk segala permasalahan yang ada di setiap bab.

Dari buku ini pun saya belajar bahwa selama ini kita (termasuk saya sendiri) terlalu sering diperbudak oleh cinta. Banyak hal bodoh dilakukan tanpa pikir panjang dengan mengatasnamakan cinta. Terkadang kita tidak menggunakan logika bahkan hingga mengorbankan segalanya. Entah itu waktu, uang, teman, keluarga, dan yang lain.

Lalu setelah cinta berhasil berhasil merusak segalanya, membuat hati kita patah, kehilangan semua yang kita miliki, kemudian kita menyesal. Berharap apa yang dulu hancur bisa kembali seperti semula. Tapi, nasi sudah jadi bubur. Kita terpuruk, menganggap bahwa diri ini adalah orang paling menderita di dunia.

Kita memang tidak bisa kembali ke masa lalu. Tapi ada masa depan yang bisa kita bangun kembali dari awal. Maka, di buku inilah semua jawaban ada. Bagaimana kita harus bisa bangkit, belajar dari kesalahan, serta lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta.

Ada sedikit kutipan di buku ini yang saya suka. Berikut saya tuliskan kembali yang ada di Bab 37 | Jangan-Jangan...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun