Mohon tunggu...
Gilang Nugraha
Gilang Nugraha Mohon Tunggu... Jr. Content Writer

Dunia terlalu luas untuk hanya memiliki satu hobi saja

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Trump adalah Thanos di Pilpres Amerika 2020?

10 Desember 2020   07:16 Diperbarui: 10 Desember 2020   07:19 38 4 0 Mohon Tunggu...

Politik Amerika hampir memasuki babak baru dimana beberapa media telah menyatakan bahwa Joe Biden adalah presiden terpilih dari partai demokrat setelah sebelumnya Trump sebagai presiden sebelumnya diprediksi akan membalikan keadaan sebelum akhirnya pemungutan suara di Geogia menyatakan bahwa daerah yang digadang-gadang sebagai daerah yang diprediksi akan memenangkan Trump justru secara mengejutkan memberikan hasil yang membiru dan menutup Pilpres Amerika dan mengeluarkan mantan wakil Barrack Obama sebagai presiden terpilih selanjutnya

Namun pada pemilihan presiden Amerika ke 59 ini memunculkan hal-hal baru seperti misalnya turunnya Barrack Obama sebagai mantan presiden yang "membantu" Joe Biden memenangkan pemilihan presiden 2020 dan hal ini ada juga sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya maka dapat dipastikan dibalik kemenangan ini yang baru diakui Trump melalui Twitternya pada satu hari lalu membutuhkan effort lebih dari partai demokrat.

Pertanyaannya adalah apakah Trump memang sekuat itu ? sampai-sampai kampanye Joe Biden memerlukan sebuah "kerjasama" dari politisi lain di satu partai yang sama yakni Barrcak Obama sendiri dimana terdapat video yang mempertontonkan Barrack Obama menelfon salah satu pemilih dan agar pemilihnya bersedia untuk memilih mantan wakilnya tersebut

Hal ini sangat amat jarang dilakukan sebelumnya bahkan bisa dibilang tidak pernah terjadi di pemilihan Amerika, ya hal ini mungkin dilakukan partai republikan karena melihat kekuatan Trump yang mulai terbentuk pada pemilih konservatif, dimana pemilih konservatif adalah pemilih yang mendukung nilai-nilai tradisional dan hal ini pun bukan hal yang sudah lama dipikirkan namun justru baru disentuh beberapa bulan sebelum pemilihan dilakukan, 

dimana Trump dikenal sebagai seorang yang rasis namun pada pasalnya hal itu hanya dilakukan ketika ia kampanye dihadapan orang-orang tertentu namun karena majunya perkembangan dunia akan teknologi dan media hal ini disebarluaskan dengan kemudian menjadi hal yang dianggap para penonton media tersebut sebagai hal yang berbau rasisme terhadap beberapa kelompok pada kenyataanya hal ini Trump lakukan karena ia berpidato dihadapan beberapa orang yang menyetujui dan mengaccept hal tersebut.

Democrat Assembled

Bagaikan Avengers di praktik pemilihan umum Amerika ini terdapat hal yang sangat-sangat asing dibandingkan pemilihan umum sebelumnya dimana beberapa tokoh di dalam partai demokrat justru bersatu untuk memenangkan Joe Biden yang mungkin dikenal di Indonesia sebagai tim suksesnya tidak main-main, pada proses kampanyenya Barrack Obama pun ikut andil dalam perjuangan mengalahkan Trump yang notabene adalah seorang petahana. 

Hal ini mengingatkan saya dengan adegan dimana Avengers yang menganggap mereka adalah bagian superhero dan dari sudut pandang fans adalah sebagai superhero atau orang baik melawan Thanos dimana ia melakukan pekerjaan "jahat"nya sendiri dan tidak memiliki satu tokoh pun yang bisa menyamai kebesaran nama Barrack Obama dibelakangnya , ya bagaikan Avengers partai Demokrat mungkin menyadari begitu besarnya kekuatan Donald Trump yang ia bentuk sendiri, 

mengetahui hal ini demokrat tidak tinggal diam dan mengumpulkan dan menyusun stategi untuk mengalahkan Thanos tersebut yang disini peran Thanos diambil oleh Donald Trump , timbul pertanyaan bukan apakah Donald Trump memang sekuat Thanos yang dimana di beberapa negara ia dikenal sebagai public enemy  dengan cara khas yang ditonjolkan olehnya di beberapa media, mungkin pada akhirnya Joe Biden dan kekuatan Assembled dari Demokrat berhasil mengalahkan Donald Trump pada eleksi ini namun , apakah Joe Biden adalah seorang Superhero yang benar-benar kita butuhkan? Waktu yang akan menjawabnya

VIDEO PILIHAN