Gilang Dejan
Gilang Dejan MAHASISWA

Sepakbola adalah permainan improvisasi terbaik di dunia.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Praktik Pencurian Umur adalah Bukti Bahwa Sportivitas Hanyalah Motto

19 Mei 2017   08:18 Diperbarui: 20 Mei 2017   10:46 345 2 2
Praktik Pencurian Umur adalah Bukti Bahwa Sportivitas Hanyalah Motto
Ilustrasi: Sepak Bola Junior . Sumber dari teibunnews.com | Angkasapura II

Berawal dari sebuah diskusi bersama salah satu pelatih usia dini yang tengah menggarap proyek pendidikan dan pelatihan (diklat) di salah satu daerah Priangan Timur sore itu, saya jadi peduli terhadap masalah klasik yang satu ini, yakni ‘pencurian umur’. Bagaimana tidak, awalnya sebagai stakeholder yang terlibat langsung dalam pembinaan usia dini di salah satu SSB disekitar tempat tinggal, saya sedikit menutup mata akan masalah yang satu ini, toh mereka yang memanipulasi data pemain akan berurusan dengan Tuhannya sendiri, sebuah kebohongan besar yang mencoreng sportivitas yang menjadi motto sepak bola sejak lama.

Terlebih problem pencurian umur ini seolah sudah menjadi persoalan klasik yang berakhir tahu sama tahu di sepak bola akar rumput khususnya. Jadi, tak perlu heran jika tim junior Indonesia bisa berprestasi di level internasional tapi tim seniornya selalu melempem di level regional. Artinya, prestasi di kategori junior tak lepas dari kecurangan. Apa kebanggaannya menjadi yang terbaik dengan cara seperti itu? Seharusnya malu.

Prestasi diraih dengan strategi di luar lapangan yang sekaligus mencederai dalil fair play. Dengan kata lain, strategi kongkalikong memanipulasi data alias pencurian umur sudah menjadi andalan. Usia pemain dikurangi lalu dia bermain melawan anak-anak yang belum sematang dia atau tidak sepadan. Pastilah unggul. Siapa yang patut disalahkan? Orang tua, pelatih, SSB, atau juga oknum pegawai pemerintahan bagian yang mengurusi data warganya?

Kasus ini jika didalami merembet ke beberapa pihak, mata rantainya dimulai dari orang tua, lalu koordinasi kongkalikong dilanjutkan ke meja oknum pegawai pemerintahan. Bagaimana bisa data palsu tersebut mendapat cap asli dari dinas? Lantas, bukankah ini merupakan kasus yang termasuk dalam kategori besar dengan judul pemalsuan dokumen Negara?

Kisah pencurian umur di sepak bola akar rumput ini rasa-rasanya akan selalu ada karena ringannya hukuman yang diberikan kepada si pelanggar, paling banter SSB yang terdeteksi melakukan kecurangan tersebut di sebuah turnamen hanya di W.O (Walk Out). Artinya tidak ada efek jera.

Apa perlu tes MRI (Magnetic Resonance Imaging) di setiap turnamen? Karena dokter yang tersedia pun rasa-rasanya kurang terintegritas ketika memeriksa pemain saat proses screening berlangsung, padahal saya dan pelatih lain pun yang notabene tidak memiliki gelar dokter yang paham betul tulang-belulang manusia bisa membedakan mana pemain yang tidak sesuai dengan kebijakan turnamen.

Bisa dilihat secara kasat mata dari pergerakan, cara berlari, kontur kaki, dan tubuh si pemain itu sendiri. Secara naluriah kami bisa menganalisis bahwa pemain mana saja yang terlibat pencurian umur dalam sebuah turnamen.

Kalau tes MRI merupakan sebuah solusi, siapkah PSSI menganggarkan dana yang tidak sedikit? Ini kembali lagi ke fasilitas, agaknya tes MRI hanya berlaku di tingkat nasional, untuk regional belum bisa dipraktikkan. Artinya hanya pemain tertentu dengan aturan super ketat yang bisa merasakan akuratnya tes MRI secara acak. Contohnya, Timnas U-16 yang sempat menggembor-gemborkan tes MRI beberapa waktu lalu, baru Timnas Junior yang menerapkan MRI. Rasanya pun akan sangat sulit terealisasi jika setiap turnamen harus dilakukan tes MRI secara acak.

Perlu ditekankan bahwa dalam menuntaskan problematika klasik ini PSSI sendiri yang perlu bertindak tegas. Atau jika perlu melibatkan Kemenpora RI agar mengajukan Undang-undang Keolahragaan tentang pencurian umur mengingat masalah serupa sering terjadi di cabang olahraga lain.

Dengan ketegasan ketua umum PSSI yang basic-nya militer rasanya tak sulit menggulirkan aturan ini, kita apresiasi ketegasan komdis beserta jajarannya dalam menindak para pemain yang melakukan hal yang tidak senonoh di GO-JEK Traveloka Liga 1 beberapa waktu silam.

Namun juga kinerja positif itu harus ditingkatkan dengan mulai mempedulikan kasus pencurian umur ini. Jika ada pelatih yang terlibat kongkalikong kasus pencurian umur hukuman yang pas adalah mencabut lisensi kepelatihan dan kalau-lah si pelatih belum punya sertifikat lisensi bisa dijerat dengan hukuman larangan bersentuhan dengan sepakbola seumur hidup.

Bagaimana jika orang tua yang menjadi dalang utama? Bisa dengan melibatkan kepolisian untuk ditindak sebagai pelanggar hukum sebagaimana tukang tipu lainnya. lantas, jika yang melakukannya adalah pihak SSB, panitia turnamen, dan pihak-pihak terkait di luar orang tua dan pelatih? Bisa diberi sanksi untuk tidak ikut campur dengan pembinaan usia dini dengan batas waktu yang ditentukan komdis.

Kalau semua stakeholder terlibat? Agaknya bukan aturan yang mampu menyelesaikannya, melainkan kesadaran dari diri sendiri. kecurangan akan selalu ada dalam setiap permainan, agak sedikit miris mendengar sepakbola terlepas dari kejahatan macam itu. Ada satu film yang mengisahkan mengenai kecurangan ini, walaupun dari sisi lain, artinya bukan dari persoalan pencurian umur, film See You in Montevideo (2104) ini seolah menarasikan bahwa mencederai fair play sudah ada sejak zaman dulu, saat Piala Dunia pertama kali di adakan oleh Presiden FIFA Jules Rimet.

Maka dari itu, bagi siapapun pelatih yang intens mengurusi sepakbola akar rumput, dari lubuk hati peling dalam, mari kita stop pencurian umur, kalau bukan kita yang memulai, mau siapa lagi? Pergerakan kita adalah kunci. Jangan sampai kampanye itu menjadi motto omong kosong belaka.