Gilang Dejan
Gilang Dejan MENGBALIS

Football is the best improvised game in the world

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Mencari Formula Tim Terbaik dan Hak Bobotoh yang Wajib Dipenuhi Mario Gomez

13 Januari 2018   09:17 Diperbarui: 13 Januari 2018   17:22 746 1 1
Mencari Formula Tim Terbaik dan Hak Bobotoh yang Wajib Dipenuhi Mario Gomez
Sumber: bola.kompas.com

Menuju musim Liga 1 2018, tak ada asumsi panic buying yang diarahkan kepada akitvitas transfer pemain klub Persib Bandung. Tentu, keadaannya jauh berbeda dengan yang terjadi di musim lalu.

Pada musim lalu, manajemen serta staf pelatih Maung Bandung seolah tergesa-gesa dalam perekrutan pemain. Padahal, pemain kelas A hilir mudik untuk seleksi di Bandung. Contoh saja beberapa di antaranya, Willie Overtoom, Minko Livaja, Erick Weeks, Alex Willian Costa. Namun, tidak ada satupun yang mampu menjawab ekspetasi pelatih khususnya dan bobotoh pada umumnya.

Hal tersebut imbas dari lepasnya sebagian target utama yang sudah diincar Persib dijendela transfer. Rodrigo Dos Santos, Rizky Ripora, hingga kegagalan mengembalikan playmaker Makan Konate dari T-Team Malaysia. Pada akhirnya, di penghujung deadline bursa transfer pihak Persib seolah dilanda kepanikan. Solusi yang diberi manajemen soal marquee player akhirnya diterima tim pelatih. Kedatangan Michael Essien dan Carlton Cole menjadi puncak drama panic buying di bursa transfer musim 2017.

Sebelumnya, staff pelatih seolah tergesa dalam pengambilan keputusan pencoretan pemain. Hampir seluruh pemain gembong pelatih Dejan Antonic kecuali Kim Jeffrey Kurniawan dilepas. Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan di bursa transfer, terlalu banyak pemain yang pergi tak diiringi dengan pemain yang datang. Terjadilah kisah CLBK dengan mantan. Supardi Nasir Bujang dan Ahmad Jufriyanto jadi aktor utama dalam kisah bersemi dengan mantan.

Persib U-30

Di bursa transfer kali ini tak hanya In Kyun yang menjadi isu terhangat yang diperbincangkan bobotoh. Jauh hari, sebelum kedatangan pemain Korsel ini. Eka Ramdani dan Airlangga Sucipto sempat dipertanyakan kehadirannya. 

Bukan tanpa alasan, kedua pemain tidak muda lagi dan dianggap sudah melewati masa keemasan dalam karirnya. Apalagi, Eka Ramdani pernah mengakhiri dedikasinya di Persib dengan muram. Ia sempat berselisih paham dengan sebagian fans Persib saat hijrah ke Persisam Putra Samarinda bersama Cristian Gonzales.

Teringat kembali, konon saat itu Eka meminta naik gaji kepada manajemen. Sebuah hal yang mencoreng loyalitasnya yang sudah dibangun bertahun-tahun bersama Maung Bandung. Kisah kelam Eka memang masih bisa diperdebatkan kebenarannya, namun satu hal yang pasti, Eka pergi untuk kembali. Walaupun tidak mudah bagi Eka untuk diterima kembali oleh bobotoh apalagi Ia pulang ke rumah dengan kondisi tidak muda lagi. Sentuhan khasnya mungkin saja sudah luntur seiring berjalannya waktu.

Hal demikian juga menimpa striker mungil Airlangga Sucipto. Jika perekrutan Eka Ramdani masih sedikit diwajarkan mengingat ia bisa dijadikan mentor bagi Gian Zola walaupun akhirnya ada kemungkinan menit bermain Eka tidak akan sebesar yang diterima di Persela Lamongan. Perekrutan pemain yang biasa di sapa Ronggo ini dikaitkan dengan nuansa politis. Mengingat tahun ini merupakan tahun politik disebagian daerah di Jawa Barat. Ia kerap disebut sebagai pemain titipan pejabat daerah.

Isu tersebut semakin meluas ketika Ia menjadi bahan/alat kampanye politik salah satu calon kepala daerah. Terlebih lagi, dalam sebuah pertandingan uji coba ia sempet terekam kerepotan dalam melewati pemain Diklat. Sentuhan dengan bolanya pun terbilang berantakan. Ini jelas menjadi kabar buruk mengingat Airlangga kelak dipersiapkan untuk memback up posisi Ezechiel. Catatan medis menarasikan bahwa Eze rawan cedera.

Fragmen cerita perekrutan pemain di atas 30 tahun ini terus berlanjut tatkala, Bojan Malisic dan Victor Igbonefo diperkenalkan sebagai pemain baru Persib. Topik seputaran Persib U-30 pun merebak luas ke segala penjuru tanah pasundan. Mario Gomez dianggap gemar merekrut pemain dengan usia lanjut. Namun, keputusan merekrut Bojan dan Victor lebih kepada rencana dia sendiri tampa intervensi dari pihak manapun. Jadi tak ada masalah dengan perekrutan kedua pemain ini.

Tinggal bagaimana Ronggo dan Eka menghapus cap pemain titipan dengan pembuktikan di lapangan nanti. Pun dengan In Kyun yang harus sesegera mungkin mengubah statusnya menjadi pemain Grade A. Piala Presiden 2018 menjadi wadah pertarungan ketiga pemain ini.

Kritikan Khas Bobotoh

Jika diibaratkan sebuah negara, Persib Bandung sangat beruntung memiliki rakyat yang peduli dengan negaranya. Aspirasi bobotoh yang selalu mengawal integritas pengurus dan pemain agar lebih baik ke depan tidak pernah putus dalam kondisi apapun. 

Tekanan besar dari fans, membuat seluruh yang bekerja di Persib mengeluarkan kemampuan terbaik. Namun, sebaliknya, tak jarang juga kritikan dari bobotoh berbuah penurunan mental bagi pemain, official, serta pengurus.

Pemain merupakan salah satu yang paling sering ditekan oleh bobotoh. Termasuk ekspetasi tinggi terhadap para pemain rekrutan terbaru. Baru-baru ini, Oh In-Kyun menjadi sasaran kritikan tersrbut.  Imajinasi bobotoh mungkin terlalu liar terhadap pemain asing asia yang kelak direkrut Persib untuk mengarungi Liga 1 2018. Mereka membayangkan pemain yang muda bertenaga, kreatif, dan punya visi yang bagus. 

Dari ekspetasi yang membumbung tinggi itu, jelas saja jika bobotoh dengan entengnya menyematkan cap Grade B kepada mantan pemain Mitra Kukar tersebut. Namun, Gabriel Budi menolak asumsi yang beredar luas dikalangan bobotoh. Dengan menyebut, bahwa Oh In Kyun merupakan pemain Grade A. Sebuah pembelaan yang lazim dilakukan oleh seorang agen pemain. 

In Kyun bukan pemain pertama yang mendapat perlakuan seperti itu. Sebelumnya, ada Carlton Cole, Hermawan, serta Kim Jeffrey Kurniawan sebagai pemain baru yang menjadi fokus kritikan dari para bobotoh. Carlton Cole musim lalu menjanjikan 20 gol untuk Persib, namun pada akhirnya tak ada sebiji gol pun yang dia persembahkan. Justru, legenda West Ham United ini membela diri dengan alasan bahwa menit bermain yang Ia terima sangat minim. Ya, alasan hanyalah alasan. Bobotoh seolah berteriak "This Is Persib!"

Kemudian eks bek PBR juga pernah mengemban kritikan pedas dari bobotoh. Ia dianggap belum layak mengisi pos pertahanan Persib. Pemain yang masuk gembong Dejan Antonic ini akhirnya tak kuasa menahan tekanan yang ada di Persib.

Di balik pemain yang gagal mengatasi tekanan besar bobotoh, ada juga pemain yang malah tertempa mentalnya dengan kritikan-kritikan yang menghampiri dari berbagai sudut stadion. Kim Kurniawan adalah salah satunya. Ia sempat tidak diterima oleh kalangan bobotoh. Namun, pembuktian Kim berbuah manis. Bagaimana Ia membalikan cemoohan menjadi pujian, tidak semudah membalikan telapak tangan memang. Butuh proses dan mental yang kuat.

Semua pemain pernah ditempa oleh kritikan khas Bobotoh. Ada yang down, namun ada juga yang malah bersinar. Semua dikembalikan lagi kepada bagaimana pemain menyikapi hal tersebut.

Bayang-Bayang Makan Konate

Semenjak Konate Makan pergi meninggalkan Persib. Siapapun playmaker yang datang ke Persib tidak pernah bisa lepas dari pemain asal Mali ini. Betapa tidak, Konate sudah memiliki tempat khusus di hati Bobotoh Persib. Ia sempat mengantarkan Maung Bandung merebut kembali takhta tertinggi sepak bola Indonesia. Bukan sekadar meraih trofi, tapi Konate bisa dibilang sebagai aktor utama.

Kehadiran Konate di Bandung awalnya hanya sebagian dari syarat menyelesaikan transfer striker Coulibaly Djibril. Seperti diketahui bersama, Konate tercantum dalam kesepakatan transfer ini. Coulibaly datang sebagai topskor tim Barito Putra. Namun, alih-alih Coulibaly yang bersinar, Konate merebut atensi Bobotoh dengan bermain apik disetiap pertandingan. Sedangkan, Djibril Coulibaly sendiri harus rela duduk dibangku cadangan karena cedera yang terus membungkamnya.

Setelah mengukir kisah manis di tahun 2014 Konate memutuskan untuk hengkang dari Persib. Karena tidak ada kepastian soal kompetisi saat itu. Ia bergabung dengan T-Team Malaysia yang sempat ditukangi pelatih kawakan asal Indonesia, Rahmad Darmawan. Setiap Persib belanja playmaker, selalu ada saja yang menetapkan spesifikasi Konate. Seolah mereka tak layak jika tidak memenuhi standarisasi skillMakan Konate.

Marcos Flores, Robertino Pugliara, dan yang paling baru In Kyun yang menjadi korban bayang-bayang pemain yang saat ini memutuskan membela Sriwijaya FC bersama pelatihnya Rachmad Darmawan. Marcos Flores dari segi umpan tentu saja setara dengan Konate, namun dari pergerakan dan kelincahannya jauh diluar ekspetasi. Pugliara malah berbanding terbalik dengan Flores, segi kelincahan boleh saja nyaris setara dengan Konate namun umpan, pengambilan keputusan, dan skill driblingnya masih dibawah Konate.

Kini, In Kyun yang harus mengemban bayang-bayang Konate. Penulis rasa In Kyun lebih berat daripada Flores dan Pugliara mengingat jika Konate tampil apik bersama Laskar Wong Kito musim ini. Bayangan Konate dipastikan akan semakin tumbuh besar.

Mencari Opsi Kedua Target Man

Meski manajemen mengisyaratkan aktivitas transfer pemain Persib telah usai. Namun, dengan cederanya Ezechiel mungkin saja pelatih Mario Gomez meminta tambahan pemain untuk melapis striker asal Chad ini.

Berbicara kedalaman tim, lini depan rasa-rasanya hampir mendekati kata ideal. Mengacu disana sudah ada Tantan Dzalika dan Airlangga Sucipto. Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa kepercayaan terhadap kualitas keduanya. Persib butuh pemain lokal lain untuk menambal posisi Eze yang ditinggalkan saat cedera. Airlangga pernah menjadi target man, pun dengan Tantan. Namun posisi natural keduanya merupakan penyerang sayap. Terlebih lagi Tantan diusia senjanya mulai rawan terkena cedera.

Keberadaan Patrice Wanggai sempat membuat kita terkejut. Namun, ternyata Mario Gomez tengah menyiapkan opsi kedua target man Persib jika akhirnya Eze sedang mengalami cedera. Sayang, Wanggai memutuskan pergi dengan alasan belum berjodoh. Padahal Ia bisa saja dipoles menjadi target man handal oleh Gomez, mengingat pada usianya yang masih bisa dikembangkan.

Sebelumnya, terdaftar nama Sergio van Dijk yang tersisa. Namun nampaknya SvD tidak masuk dalam rencana Mario Gomez pun dengan Rafa Maitimo. Keduanya, sempat mengemban tugas target man dimusim lalu.

Spaso juga sempat dikaitkan segera kembali ke Persib setelah tidak memperpanjang kontraknya bersama tim jawara Liga 1 musim 2017, Bhayangkara FC. Namun kemudian, pemain naturalisasi ini lebih memilih menggantikan pos yang ditinggal Sylviano Comvalius di Bali United. Ada pertimbangan lain mungkin dari pihak Spaso dan manajemen Persib. Kedua kemungkinan tersebut tidak lain dan tidak bukan soal ketakutan Spaso menjadi pilihan kedua setelah Eze. Mengingat Spaso sangat membutuhkan menit bermain untuk pergi ke Asian Games 2018.

Selain Spaso, pemain yang santer dikabarkan kembali adalah Ferdinand Sinaga. Pemain keturunan batak ini pernah menjadi andalan di lini depan Persib saat meraih juara Liga Indonesia 2014. Ferdinand tidak memperpanjang masa baktinya bersama PSM Makassar untuk musim ini. Alih-alih sesuai prediksi untuk kembali ke klub lama, Ferdinand lebih memilih hijrah ke negeri jiran.

Kekhawatiran soal target man lebih kepada kegelisahan soal mengulang masa lalu. Persib pernah krisis target man saat diasuh oleh Djadjang Nurdjaman. Krisis yang terbilang terlalu berlarut-larut. Masalah dimulai ketika Belencoso tidak sesuai dengan ekspektasi sebagai juru gedor. Lalu, saat Sergio cedera. Kemudian terakhir saat caretaker Herrie Jose Setiawan sampai harus memasang Rafa Maitimo sebagai target man diakhir musim lalu.

Memang peran target man cukup memengaruhi prestasi tim. Lihat saja daftar top skor setiap Liga, mayoritas pemain yang menyumbang banyak gol, efek kepada peringkat klasemen klubnya pun sangat berbanding lurus. Sylviano Comvalius musim lalu memecahkan rekor gol Peri Sandria. Bali United pun kebagian getahnya dengan menduduki runner up dan dimusim ini bisa tampil di Liga Champions Asia.

Siapapun memang berhak dan bisa saja mencetak gol. Achmad Jufriyanto, Michael Essien, Atep Rizal, Febri Haryadi, sah-sah saja menyumbang gol. Karena sepak bola modern tidak selalu target man yang mencetak gol. Namun tim yang baik tentu saja akan memiliki target man. Karena target man itu tak selalu soal menciptakan gol, tapi peluang, dan juga assist bagi pemain lainnya. Target man bisa berfungsi sebagai pemantul bola kedua. Dan, tim manapun membutuhkannya.

The Power Of Bobotoh

Terakhir sekali, pelatih Mario Gomez, Fernando Soler, dan beberapa pemain barunya harus terbiasa dengan bobotoh yang selalu bersuara mengomentari langkah yang diambil Persib secara umum. Bobotoh memiliki kuasa penuh untuk melakukan itu semua. Persib tidak akan jadi tim besar tanpa bobotoh. Sejatinya, bobotoh itu sebutan lawas fans Persib yang kini telah berganti menjadi Viking Persib.

Akan tetapi ada nilai historis tersendiri saat memanggil Viking dengan sebutan Bobotoh. Cukup terasa khasnya. Dulu, bobotoh tak pernah bermusuhan dengan supporter lain seperti oknum Viking sekarang ini. Dan, dulu bobotoh belum memiliki banyak oknum yang berulah.

Seiring bergulirnya waktu, bobotoh semakin dewasa dalam bertindak. Catatan anarkisme bobotoh beberapa tahun kebelakang cenderung menurun. Fans Persib mulai bersikap dewasa. Kecuali jika, timnya tak kunjung menampilkan yang terbaik. Masih segar dalam ingatan, bagaimana musim lalu anarkisme oknum bobotoh kembali menyala. Pemicunya tidak lain adalah performa Persib yang berada di titik paling nadir.

Beberapa pemain sempat dikejar sampai loker room untuk kemudian teriakan bobotoh diarahkan langsung kepada telinga pemain. Aksi-aksi semacam itu akan terlihat tak wajar dari orang baru seperti Mario Gomez, Bojan Malisic, Fernando Soler, In Kyun Oh, Victor Igbonefo. Bahkan, Djadjang Nurdjaman yang merupakan seorang legenda yang paling dihormati di Persib pun sempat naik pitam melalui videonya beredar di dunia maya. Saat Ia menyampaikan pesan dengan nada kesal kepada Bobotoh. "Anda sudah berbuat apa untuk Persib?". 

Bagaimana tidak, seorang Djanur sampai harus sakit hati ketika keluarganya pun dijadikan objek cemoohan. Saat itu, prestasi Persib memang sedang berada di bawah. Namun, Djanur tak kuasa lagi menahan rasa sakitnya bagaimana anak-anaknya melihat sendiri seorang Ayah dicemooh dengan bahasa binatang.

Terbaru, ada tragedi saat Persib tengah melakukan training center di Jogja. Beberapa fans Persib meneriaki "Atep Butut!" dari arah tribun (baca: Atep Jelek). Hingga salah satu official pun harus mengejar kelompok supporter yang berteriak demikian. Ini menjadi sebuah isyarat bagi semua orang baru di Persib musim ini, bahwa ada yang namanya "The Power of Bobotoh".

Jika disikapi, seberapapun beratnya tekanan yang dihadirkan Bobotoh, pemain harus tetap membuktikan jika tempaan kritik tersebut membuat mereka berkembang. Namun, jika sudah melebihi batas, cerita Djanur dan Atep pun dipastikan terulang.

Sejak kedatangannya Mario Gomez lebih memperketat internal tim. Termasuk menegakan aturan baru yang berlaku untuk pemain. Pemain tidak diperbolehkan berbicara ke media selain media resmi yang dimiliki Persib. Selain itu, Gomez juga membuat aturan baru soal latihan. 

Entah ini berhubungan dengan ketakutan Gomez akan tekanan bobotoh atau bagaimana. Yang jelas, latihan Persib menjadi tertutup lebih kepada agar program latihan bisa diserap dengan baik tanpa gangguan penonton yang selalu menyemut disetiap latihan Persib.

Apapun, bobotoh tidak akan peduli itu semua. Mereka hanya ingin Persib berprestasi. Boleh saja mereka sudah terlalu muak dengan pemain besar tapi tidak berguna di tim. Bobotoh hanya ingin memperjuangkan haknya untuk menikmati tim Persib bermain indah, melihat Persib angkat trofi, dan menjadi saksi kejayaan sebuah era. Jika tidak, mereka akan menggunakan kuasanya kembali.