Mohon tunggu...
Gigih Prayitno
Gigih Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Menjadi manusia bebas

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Gonjang-ganjing Televisi Masa Kini, Benarkah NET TV Bangkrut?

9 Agustus 2019   15:20 Diperbarui: 10 Agustus 2019   03:59 45062 29 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gonjang-ganjing Televisi Masa Kini, Benarkah NET TV Bangkrut?
NET TV | marketeers.com

Hari ini ramai menjadi perhatian warganet di Twitter, bahkan menjadi trending topic nasional di Twitter.

Laman law-justice.co menyebutkan bahwa NET TV sedang mempersiapkan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara massal. Hal ini dikarenakan NET TV sedang menghadapi masa-masa yang cukup berat dan tidak sanggup bersaing dengan para kompetitornya.

Dalam artikel tersebut tertulis bahwa akan ada pengurangan karyawan besar-besaran, misalnya saja divisi news yang berjumlah 180 orang akan dikurangi menjadi 30 jurnalis saja.

Tidak ada pengurangan jumlah karyawan, durasi jam tayang news pun akan dipangkas juga menjadi satu jam saja.

PHK massal ini dikabarkan tidak hanya dilakukan di divisi news saja, divisi lain seperti camera person, editor, hingga produser juga mengalami pengurangan karyawan.

Apakah NET TV mampu menghadapi krisis yang cukup berat menghadapi raksasa-raksasa media besar lainnya seperti Trans Corp dan MNC Group?

Padahal saat awal perilisannya NET TV dianggap sebagai napas baru dalam dunia pertelevisian yang dinilai membosankan, tidak mendidik, dan penuh drama yang sering ditayangkan banyak televisi lainnya.

Belum lagi orang-orang yang bekerja di NET TV adalah hasil dari "bedol desa" para pegawai Trans Corp yang merasa masih idealis dan tak ingin berhubungan dengan program berkonten "alay".

Pertama kali mengudara, NET TV mengambil tagline "Televisi Masa Kini" dan tidak butuh waktu yang lama untuk menjadi idola banyak penikmat televisi yang mencari hiburan.

Ada banyak acara yang disiarkan NET TV yang mengusung konsep kekinian, elegan, dan tidak lebay. Mulai dari Indonesia Morning Show, Ini Talkshow, Tonight Show, Breakout, WIB, WIT, OK-JEK, NET. 10. NET. 12, Tetangga Masa Gitu, Sarah Sechan, dan masih banyak lagi pilihan yang ditawarkan kepada penontonnya.

Namun pada akhir 2018, beberapa program mulai banyak yang menghilang seperti Waktu Indonesia Timur (WIT), NET. 10, NET. 12, Tetangga Masa Gitu, hingga program talkshow and variety Sarah Sechan dan Pagi Pagi NET tidak lagi tayang.

Bahkan acara musik anak muda Breakout yang biasanya tayang pada sore hari itu harus pamit setelah mengalami beberapa kali perombakan konsep.

Semua program yang hilang tersebut digantikan dengan program NET Classic yang berisi FTV lawas di awal 2000an seperti Suami-Suami Takut Istri dan juga program film kartun yang sudah pernah tayang sebelumnya.

Ditambah dengan beberapa program baru namun mendapat sambutan yang negatif dari para penontonnya karena ada sentuhan "alay"-nya.

Tidak hanya program yang berubah, struktur kepemimpinan di NET juga berubah. Pada tahun ini Wishnutama yang sebelumnya sebagai CEO menjadi Komisaris Utama dari PT Net Visi Media. Dengan berubahnya CEO, berubah juga program-program yang ditawarkan oleh NET TV.

Dari program baru yang dikeluarkan oleh NET TV, tampaknya mereka sedang beradaptasi untuk menjangkau penonton yang baru, hal terlihat dari konten yang ditawarkan mulai dari konten mistis "Merinding", anak muda "IPOP" dan masih beberapa lainnya lagi.

Acara Baru NET TV | IG/dunia_tv
Acara Baru NET TV | IG/dunia_tv

Perubahan program dan masalah yang dialami oleh NET TV ini pun sepertinya mengerucut pada satu permasalahan utama: Uang. Tampaknya mereka kekurangan biaya untuk operasionalnya.

Pada pertengahan 2018 lalu, PT Net Visi Media menjual saham dan obligasi dengan target mencapai Rp 1 triliun.

Bagaimana tidak, untuk membuat program dengan konten yang berkualitas membutuhkan dana yang tidak kecil, belum lagi mereka harus bertarung dengan rating tv dari program-program yang diminati oleh masyarakat menengah ke bawah.

Ketika idealisme bertemu dengan realita, bagaimanapun juga yang namanya perusahaan membutuhkan pemasukan yang ideal. Usaha yang bergerak di bidang media dan pertelevisian akan mempertaruhkan pendapatan mereka pada iklan.

Perusahaan-perusahaan akan menaruhkan iklan media mereka bila media tersebut mendapatkan engagement yang tinggi dari masyarakat. Untuk televisi, salah satu yang menjadi pertimbangan tinggi adalah rating.

Padahal rating televisi tidak menunjukkan kualitas program tersebut, hanya menunjukkan kuantitas dari orang yang menonton.

Konon, sebenarnya iklan di NET TV masih bertumbuh dengan masif. Pada tahun 2018 mereka meraup pendapatan sekitar 110 triliun. Namun kue iklan tersebut didominasi oleh program-program TV ala sinetron seperti yang ditayangkan oleh kompetitornya, bukan konsep yang diusung oleh NET TV lagi.

Jadi sepertinya logis bila NET TV menghilangkan beberapa program "idealisme" karena mendapatkan share rating yang rendah, mau gimanapun juga televisi butuh cuan dari iklan.

Bila melihat fenomena yang sedang terjadi, NET TV sepertinya akan bertoleransi dengan idealisme yang mereka punya dan mulai menurunkan "kualitas" program televisi mereka sesuai dengan minat masyarakat Indonesia pada umumnya.

Jadi jangan kaget bila nantinya NET TV akan menurunkan standarnya dan tidak ada terobosan konten-konten pertelevisian yang istimewa, karena masyarakat yang menginginkan hal itu tidaklah banyak.

Sebagian besar dari mereka lebih memilih sinetron yang tayang setiap hari dan juga gosip-gosip panas para artis, dari drama "ikan asin" hingga pindah agamanya para selebriti.

Bila NET mempunyai konten yang bagus namun tidak mempunyai profit yang mumpuni, bagaimana mereka bisa bertahan?

Apakah NET TV akan kolaps? Semoga saja tidak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x