Gigih Prayitno
Gigih Prayitno Penulis

Freelance Content Writer| Copy Writer | Blogger | Editor | Email : gigiih89@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apakah Jogja Masih Istimewa?

8 April 2019   20:10 Diperbarui: 8 April 2019   20:14 243 3 1
Apakah Jogja Masih Istimewa?
Abdi Dalem di Keraton Jogjakarta (Kompas)

Jogja sedang menghadapi masa-masa yang cukup rumit, mulai dari gesekan dan benturan berbasis identitas, konflik agraria hingga isu kemiskinan yang melada.

Pada 2016 yang lalu, saya bersama dengan seorang teman, Adit, melakukan perjalanan satu hari, One Day Trip ke Jogjakarta. Sebenarnya perjalanan kesekian kalinya ke Jogja, namun dengan gaya yang berbeda.

Bila biasanya hampir setiap bulan kami pergi untuk camping di kawasan Gunungkidul melepas penat dari lelahnya perkuliahan pantai-pantai di Gunungkidul menjadi pelarian sementara kami.

Namun pada perjalanan One Day Trip ini saya dan Adit dalam satu hari pergi menjelajahi 7 destinasi yakni Candi Ratu Boko, Hutan Pinus Mangunan, Gumuk Pasir Parangkusumo, Pantai Cemoro Sewu, Parangtritis, menyusuri Malioboro hingga berhenti di Titik Nol Kilometer dengan uang tak lebih dari Rp 100 ribu. (Cerita Perjalanan Selengkapnya di Sini)

Tidak hanya menyusuri destinasi tersebut, dari perjalanan One Day Trip itulah saya baru benar-benar merasakan bahwa Jogja begitu istimewa, istimewa orangnya, istimewa negerinya, istimewa penduduknya dan saya percaya bahwa kesan istimewa itu selalu ada untuk mereka yang hadir di kota ini.

Jogjakarta memiliki kesan romantika yang sangat dalam. Bagi mereka yang pernah singgah di Jogja pasti langsung jatuh hati terhadap kota ini. Anies Baswedan pernah mengatakan bahwa "Setiap sudut kota Jogja itu romantis," Selain itu, sastrawan Joko Pinorbo juga pernah mengungkapkan bahwa Jogja itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Pada intinya adalah banyak orang yang jatuh hati dengan kota Jogjakarta.

Hutan Pinus Mangunan
Hutan Pinus Mangunan

Jogja juga menajdi tempat lahir banyak pekerja seni seperti sutradara, pelawak, band, musisi, dan para pekerja hebat lainnya. Sebut saja sutradara Hanung Bramantyo, Garin Nugroho, pelawak Butet Kertaradjasa, penyanyi sekaligus rapper Kill The DJ, band-band seperti Sheila on Seven hingga Endank Soekamti lahir dan tumbuh di kota ini.

Belum lagi, Jogja dianggap sebagai kota pelajar dimana ribuan hingga jutaan orang dari seluruh penjuru nusantara dari Sumatera hingga Papua sana belajar dan menimba ilmu di sini. Beberapa para pemimpin juga pernah hidup di Jogja sebut saja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hingga orang nomor satu di Indonesia itu sendiri Ir. Joko Widodo.

Jogja dengan semua yang pernah hadir, hidup dan bertumbuh menjadikan kota ini begitu istimewa, menjadi bagian dari Indonesia yang memiliki hak khusus tersendiri dengan bentang alam yang menawan dengan gagahnya Gunung Merapi di sisi utaranya dan Parangtritis di sebelah selatannya.

Namun, apakah saat ini Jogja masih Istimewa?

Ini adalah pertanyaan yang hadir karena adanya distorsi-distorsi yang cukup bising dengan apa yang sudah terjadi di Jogjakarta pada akhir-akhir ini.

Gesekan-gesekan berbalut perbedaan identitas yang sebenarnya sebuah keistimewaan luar biasa dari Indonesia terasa menjadi hal yang sangat sensitive. Baru saja terjadi pengrusakan dan pembakaran nisan salib yang terbuat dari kayu di pemakaman RS Bethesda di Jalan Affandi, Kel Mrican, Desa Caturtunggal, Sleman.

Nisan Salib yang Terbakar (Kompas)
Nisan Salib yang Terbakar (Kompas)

Sebelumnya, kita juga dihebohkan dengan berita penolakan sebuah kampung di Pleret terhadap seorang warga yang baru saja mengontrak di kampung tersebut. Penolakan tersebut dikarenakan Slamet Jumiarto berbeda agama dengan warga dusun, tidak secara kebetulan juga Slamet beragama Katolik.

Bila kita ingin menelisik lebih dalam lagi, banyak kasus dan peristiwa serupa terjadi di Jogjakarta. Pada tahun 2016 terdapat sekitar 21 peristiwa terkait kekerasan yang bernuansa identitas di Yogyakarta mulai dari penutupan pesantren Waria, bentrok warga dengan MTA di Wonosari hingga pengepungan Asrama Papua.

Beberapa kasus sudah menemukan titik temu dan sepakat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun luka yang sudah ada tentu akan membekas.,

Konflik Agraria

Selain itu, Jogja juga mengalami beberapa konflik agraria yang cukup masif.

Pada akhir 2017 yang lalu, setidaknya terdapat 20 konflik agrarian yang terjadi di Yogyakarta. Beberapa konflik ini timbul karena adanya kepentingan dari beberapa pihak mulai dari para pebisnis hingga negara sendiri yang saat ini gencar melakukan pembangunan dan modernisasi yang begitu masif.

Deretan Konflik Agraria di Jogja (Twitter/ImmGh)
Deretan Konflik Agraria di Jogja (Twitter/ImmGh)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2