Mohon tunggu...
Gigih Prayitno
Gigih Prayitno Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Masih belajar agar dapat menulis dengan baik

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Insiden Ethiopian Airlines, Boeing 737 Max 8, dan Penerbangan di Indonesia

11 Maret 2019   21:56 Diperbarui: 12 Maret 2019   02:41 1184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sc : ethiopiaobserver.com

Sebelum jatuh, Pilot Yared Gatechew sempat meminta kembali ke bandara Bole karena pesawat yang diterbangkan mengalami masalah kendala teknis. Flightradar 24 menunjukkan bahwa Ethiopian Airlines ET-302 memiliki kecepatan vertikal yang tidak stabil setelah lepas landas.

Ethiopian Airlines sendiri merupakan satu maskapai terbesar di Afrika yang bersaing dengan South African Airways, Kenya Airways hingga Egyptair.

Tidak hanya itu, maskapai yang didirikan pada tahun 1945 tersebut pernah dianugerahi oleh Skytrax sebagai Maskapai Penerbangan Terbaik di Afrika pada tahun 2017, setelah sebelumnya predikat tersebut dipegang oleh South African Airways selama 14 tahun berturut-turut.

Pesawat Boeing 737 Max 8 sendiri baru diterima oleh Ethiopian Airlines pada November 2018 lalu, dikemudikan oleh seorang pilot senior dengan lebih dari 8 ribu jam jatuh setelah beberapa menit setelah lepas landas.

Kilas Balik Boeing 737 Max 8 Milik JT-610 Lion Air

Sumber: Tribun Jabar
Sumber: Tribun Jabar
Berdasarkan laporan Aviation Week, pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang pada akhir Oktober 2018 lalu terdapat beberapa masalah yang membuat pesawat sulit untuk dikendalikan.

Masalah dalam Boeing 737 Max 8 pada JT-610 tersebut mengakibatkan pesawat sulit ditangani ketika kecepatannya turun yang memicu bahwa kegagalan aerodinamis dan hilangnya kontrol sehingga bisa berakibat fatal dan menyebabkan kecelakaan.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pada 28 Oktober 2018 lalu merilis laporan awal terkait jatuhnya Lion Air JT-610. KNKT sebelumnya menyebutkan bahwa sensor Angle of Attack (AoA) pada JT-610 bermasalah sejak penerbangan sebelumnya dengan rute Denpasar-Jakarta.

Namun KNKT merevisi hasil rilis tersebut dengan mengatakan bahwa Pesawat Lion Air JT-610 tersebut laik untuk terbang ketika terbang dari Denpasar.

Berdasarkan data dari kotak hitam flight data recorder (FDR) mengungkapkan bahwa Lion Air JT-610 sudah enam kali mengalami gangguan terhitung sejak 26 Oktober 2018 atau 3 hari sebelum jatuh di Tanjung Karawang.

Masalah tersebut berkaitan dengan indikator kecepatan, ketinggian pesawat dan Sensor Angle of Attact yang menunjukkan kemiringan pesawat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun