Mohon tunggu...
Giffary Sabila
Giffary Sabila Mohon Tunggu... Mahasiswa

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Menyingkap Potret Kolaborasi Peran BI di Tengah Pandemi

22 November 2020   11:04 Diperbarui: 23 November 2020   01:22 93 1 0 Mohon Tunggu...

Awal tahun 2020 dunia digemparkan dengan adanya pandemi Covid 19. Pandemi Covid 19 bermula di Wuhan China dan terus menyebar di berbagai negara salah satunya di Indonesia. Sejak terkonfirmasi pada bulan Maret 2020 kasus Covid 19 terus mengalami peningkatan. Menurut data Kementerian Kesehatan tercatat sebanyak 46.300.7 per tanggal 16 November 2020 jumlah masyarakat Indonesia yang terkena kasus positif Covid 19. Seiring dengan berjalannya waktu kasus Covid 19 terus mengalami peningkatan sehingga pemerintah membuat suatu kebijakan berupa PSBB ( Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan menyarankan masyarakat untuk beraktivitas di rumah seperti bekerja, sekolah, dan aktivitas lainnya yang berubah menjadi serba online. Namun, kebijakan ini juga menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orang menilai bahwa bekerja dari rumah sangat tidak efektif dan dirasa lebih sulit karena membutuhkan penyesuaian dan sisanya menilai bahwa bekerja dari rumah lebih memudahkan untuk berinteraksi dengan keluarga. Setiap kebijakan yang baru saja diterapkan pasti membutuhkan proses pembiasaan dari masyarakat.

 Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah bertujuan untuk meminimalisir adanya penularan Covid 19 dan menumbuhkan kesadaran bagi masyarakat untuk lebih hati-hati dalam beraktifitas. Adanya pandemi Covid 19 memiliki dampak di berbagai sektor seperti sektor pendidikan, kesehatan, pariwisata, dan sektor ekonomi. Pada sektor ekonomi dampak adanya pandemi sangat dirasakan oleh masyarakat terutama para buruh perusahaan yang terkena dampak adanya PHK dari perusahaan tersebut. Kebijakan ini dirasa sangat berat bagi pemilik perusahaan dikarenakan harus memberhentikan para pekerjanya dalam skala yang cukup besar. Hal ini didasari atas upaya perusahaan menyikapi adanya pandemi Covid 19 yang berpengaruh pada turunnya laba perusahaan dan pada akhirnya dengan segala pertimbangan perusahaan memilih untuk mengeluarkan kebijakan pemberhentian bagi para pekerjanya.

Masyarakat yang diberhentikan oleh perusahaanya merasa kebingungan karena tidak adanya pendapatan tetapi pengeluaran akan terus berjalan terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain berdampak pada perusahaan dan juga pekerjanya pandemi ini juga dirasakan oleh para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) padahal UMKM merupakan salah satu kontributor  dalam menyumbang pendapatan nasional. UMKM ini hadir hampir di setiap daerah di Indonesia.  Menurut data Kemenkop total usaha kecil menengah mencapai sekitar 64 juta atau lebih tepatnya sebesar 64.199.606 pada tahun 2018. UMKM sebagai roda penggerak perekonomian, dan mempunyai kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia pada berbagai hal seperti membuka lapangan pekerjaan bagi masyrakat, penyumbang pendapatan nasional, dan juga mempengaruhi ekspor impor bagi suatu negara, UMKM juga sebagai salah satu tempat dalam mengoptimalkan pengelolaan potensi sumber daya alam bagi suatu daerah, selain itu sebagai cara dalam mengentaskan kemiskinan. Hal ini juga sejalan dengan data Kementerian Koperasi dan UMKM yang menyebutkan bahwa sekitar 55,2 juta unit UMKM mampu menyerap 101,7 juta orang. Jadi, selama adanya pademi dampak pada UMKM juga sangat berpengaruh pada roda perekonomian masyarakat.

Permasalahan ekonomi lainnya yaitu menurunnya investasi yang masuk ke dalam negeri dan juga menurunnya tingkat konsumsi masyarakat. Selama adanya pandemi banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Hal ini yang menyebabkan masyarakat mulai berhati-hati dalam melakukan pengeluaran untuk bisa bertahan hidup sampai mendapatkan pekerjaan. Penurunan konsumsi masyarakat bisa mempengaruhi tingkat pertumbuhan negara Indonesia. Berdasarkan data pada BPS ekonomi Indonesia pada triwulan II 2020 terhadap triwulan II 2019 mengalami kontraksi pada setiap komponen pengeluarannya. Pada data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2020 konponen pengeluaran rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto menjadi sumber utama yang menyebabkan terkontraksinya perekonomian Indonesia dan berkontribusi pada kisaran negatif 2,96 persen dan 2,73 persen. Pada pertumbuhan ekonomi komponen lainnya menyumbang sekitar 0,73 persen. Berbagai permasalahan ekonomi terkait adanya pandemi Covid 19 mendasari lahirnya kebijakan baik kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal. Pemerintah dan Bank Indonesia melakukan kolaborasi untuk membentuk kebijakan dalam menyusun strategi pemulihan kondisi perekonomian Indonesia. Pada kebijakan fiskal terdapat beberapa stimulus yang diterapkan seperti stimulus pertama yaitu percepatan belanja pemerintah, perluasan kartu sembako, perluasan subsidi bunga perumahan. Stimulus kedua yaitu adanya relaksasi pajak penghasilan, percepatan proses ekspor dan impor.

Pemerintah juga membuat jaring pengaman sosial dalam memulihkan kondisi perekonomian setelah adanya pandemi Covid 19. Jaring pengaman sosial berupa total tambahan biaya belanja APBN 2020 sebesar 405,1 triliun yang nantinya digunakan untuk program keluarga harapan, program sembako, kartu pra kerja dan program yang lainnya. Adanya peningkatan stimulus fiskal ini diharapkan dapat mengatasi dampak pandemi Covid 19 terutama di sektor ekonomi. Selain adanya kebijakan fiskal peran dari Bank Indonesia dalam menerapkan kebijakan moneter dirasa juga sangat penting dalam upaya penanganan pemulihan perekonomian Indonesia. Kebijakan yang diterapkan pada sisi moneter adalah pemangkasan suku bunga, pembelian surat berharga, intervensi pasar uang dan juga kebijakan lainnya. Kebijakan moneter diterapkan untuk menghadapi tekanan pada pasar uang dan juga dalam rangka mencapai kestabilan harga. Berbagai kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah dari segi fiskal maupun moneter pasti sudah dipertimbangkan dengan baik. Namun, disisi lain kebijakan yang diterapkan pasti memiliki risiko yang harus dihadapi baik dari segi moneter maupun fiskal. Pemulihan perekonomian Indonesia setelah adanya pandemi membutuhkan peran dari berbagai pihak dan juga instansi dalam kolaborasi kebijakan moneter, fiskal, dan makroprudensial selain itu juga peran dari masyarakat dirasa sangat penting dalam upaya pemulihan ekonomi .

REFERENSI

Badan Pusat Statistik. 2020. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2020. Diakses pada

tanggal 21 November 2020. https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/08/05/1737/-ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2020-turun-5-32-persen.html

Bank Indonesia.2020. Perkembangan Terkini Perekonomian dan Langkah BI dalam Hadapi

Covid 19. Diakses pada tanggal 21 November 2020.https://www.bi.go.id/id/ruang-media/info-terbaru/Pages/Perkembangan-Terkini-Perekonomian-dan-Langkah-BI-dalam-Hadapi-COVID-19-6-Mei-2020.aspx

Fahrika, A. I., & Roy, J. (2020). Dampak pandemi covid 19 terhadap perkembangan makro          ekonomi di indonesia dan respon kebijakan yang ditempuh. INOVASI, 16(2), 206-213.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN