Mohon tunggu...
Giens
Giens Mohon Tunggu... freelancer

I like reading, thinking, and writing.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sportivitas ala Warok Ponorogo

13 Februari 2021   09:19 Diperbarui: 13 Februari 2021   09:33 77 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sportivitas ala Warok Ponorogo
Warok (machindo.blogspot.com)

Ini cerita almarhum bapak saya tentang kehidupan para warok Ponorogo yang beliau amati dalam cerita-cerita kethoprak. Cerita kethoprak yang dimaksud di sini adalah cerita dalam pertunjukan keliling alias tobong di era 70-an.

Warok adalah jagoan atau pendekar dengan ilmu kanuragan yang linuwih. Warok Ponorogo dicirikan dengan kostum berupa baju hitam dan celana hitam komprang, dengan ikat kepala atau blangkon, serta memiliki senjata andalan berupa ikat pinggang yang dapat berfungsi sebagai cambuk. Ikat pinggang para warok sering disebut dengan "kolor".

Seperti halnya pergaulan masyarakat lainnya, sesama warok pun kadang berselisih paham. Jika perselisihan itu memuncak, kadang diselesaikan dengan duel satu lawan satu. Benar-benar satu lawan satu dan tidak mengajak penonton maupun pengombyong. Duel dilakukan di tempat sepi, baik di hutan, gunung, maupun tempat sunyi lainnya. Mungkin alasannya supaya pihak yang kalah tidak malu mengaku karena tidak perlu menjaga gengsi di hadapan banyak orang. Tak jarang pihak yang kalah akhirnya mengakui pihak yang menang sebagai saudara tua atau bahkan guru. Sebuah akhir yang ideal dalam penyelesaian masalah pribadi.

Dari budaya duel satu lawan satu dan menghindari ekspos massa saja sudah terlihat aura sportivitasnya. Bahkan, bukan cuma itu, dengan menyelesaikan masalah pribadi secara pribadi, pihak lain tidak perlu diseret-seret untuk terlibat sehingga skala permusuhan dapat diminimalkan.

Mungkin cenderung hiperbolis, tetapi budaya sportivitas dalam duel antar-warok ternyata cukup unik diceritakan. Selain penentuan tempat dan waktu duel, kedua warok biasanya sepakat untuk tidak mengabarkan rencana pertarungan mereka. Keduanya bisa saja berjalan bersama menuju suatu tempat sambil mengobrol dengan santai. Dan, pada saatnya berlaga, kedua pihak saling menanyakan kesiapan pihak lawannya. Jika pihak lawan kebelet buang air atau aktivitas mendesak lainnya, si warok akan dengan sabar menunggu siapnya.

Lucunya, selain menanyakan kesiapan lawan, si warok akan berunding dulu mau bertarung dengan cara apa dulu. Misalnya, babak pertama beradu kepala seperti dua ekor domba yang berlaga. Dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah "sudhung-sudhungan". Jika dalam babak ini sudah ada yang mengaku kalah, maka bisa dilanjutkan dengan sesi yang lain lagi, misalnya binthen atau adu gares, mengadu kekerasan tulang kaki. Saking sportifnya, jika salah satu pihak merasa terdesak atau kecapekan, pihak itu boleh mengajukan time out, meminta istirahat. Pihak lawan pun akan mengiyakan. Istirahat itu bukan hanya duduk diam melepas lelah, tapi bisa juga makan, minum, dan merokok. Gilanya lagi, kalau salah satu pihak kebetulan kehabisan rokok, ia bisa meminta rokok pada pihak lawan.

Biasanya, puncak pertarungan kedua warok adalah saat keduanya mengunakan senjata andalannya, sama-sama melepas kolornya. Kolor yang dimaksud di sini buka celana dalam, melainkan ikat pinggang khas warok yang berupa tali besar dan panjang itu. Senjata andalan para warok tersebut umumnya bukan untuk membunuh, hanya sekadar melumpuhkan. Maka jarang terjadi duel antara dua warok semacam itu yang berujung pada kematian.

Dalam kethoprak, duel antar-warok digambarkan secara artistik. Kedua warok berlaga sambil berjoget. Kalau pencak silat biasa ada kembang-kembangnya, maka silat para warok ada joget-jogetnya. Berhasil memukul lawan, joget. Kena pukul lawan tapi masih bisa menahan sakitnya, joget juga. Lucu pokoknya. Sayang kini tontonan menghibur semacam itu sangat langka.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x