Mohon tunggu...
Giens
Giens Mohon Tunggu... Penulis - freelancer

I like reading, thinking, and writing.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Si Kembar yang Mengawali Peradaban

9 April 2020   14:34 Diperbarui: 9 April 2020   14:41 102
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menurut Lamarck ahli biologi, nenek moyang jerapah semula berleher pendek. Oleh karena sering digunakan untuk menggapai dahan tinggi, lama-kelamaan lehernya makin panjang. Ciri fisik leher panjang ini diwariskan pada keturunannya. Mungkin begitu juga dengan hidung manusia. (publicdomainpictures.net)

Ternyata membaca pun memerlukan energi yang besar. Hal ini membuat masyarakat asuhan si Ego mudah lapar. Mereka butuh sering dan banyak makan. Mereka pun rajin bertani dan berburu untuk mencukupi kebutuhan makan mereka sendiri. 

Karena sering dan banyak makannya, tak heran postur tubuh mereka tinggi-tinggi dan besar-besar. Nutrisi yang utamanya untuk menunjang kebutuhan membaca akhirnya berefek juga pada fisik dan kekuatan mereka.

Semangat membaca pada masyarakat asuhan Ego di dunia barat sangat tinggi karena keberhasilan doktrinasi Ego. Siang malam mereka rajin membaca. Jika siang mereka manfaatkan sinar matahari sebagai penerang, jika malam mereka gunakan lampu minyak. 

Lampu minyak menghasilkan jelaga hitam yang kadang tanpa terasa memasuki hidung orang di dekatnya dan menjadikannya risih. Orang itu akan sering mengusap dan memencet-mencet hidungnya sendiri. Lama-kelamaan hidung mereka pun besar dan mancung.

Bagaimana dengan masyarakat dunia timur asuhan si Emo? Emo banyak mengajarkan seni dan spiritual. Emo ajarkan cara menikmati keindahan, menyerap kekuatan alam yang segar dan murni melalui olah pernapasan. Bernapas sehemat mungkin sambil merasakan setiap hembusan.

Emo mengajarkan bahwa siang ditakdirkan untuk terang, artinya itulah saat tepat untuk berkegiatan. Malam ditakdirkan untuk gelap, itulah saatnya beristirahat, tidur dengan napas yang teratur. Karena itulah lambat laun ukuran hidung mereka menyesuaikan peruntukan. Mungil dan tidak mancung karena memang bukan untuk heavy duty.

Masyarakat dunia timur asuhan Emo juga tak sering dan tak banyak makan. Aktivitas fisik seberat apapun jika dilakukan dengan tubuh yang terlatih olah napas tidak menjadikan lelah dan lapar. 

Sangat efisien sekali. Akibatnya, nutrisi yang masuk terbatas, ukuran rata-rata fisik mereka pun menyesuaikan. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar.

Begitulah seterusnya. Dengan segala konsekuensinya, peradaban di dunia barat berkembang dengan dominasi otak kiri, sementara peradaban di dunia timur berkembang dengan dominasi otak kanan. Lalu, apa yang dapat kita simpulkan?

Kalau otak kiri ada di barat, otak kanan ada di timur, berarti secara filosofis; dunia kita, bumi kita memang menghadap ke utara. Dan, menurut ilmu Extended Kejawen yang jarang dipahami orang; arah utara itu adalah simbolisme Tuhan. Utara itu dalam bahasa Jawa disebut LOR. Sebuah adaptasi bunyi dari "LORD". Sederhana sekali. Si Kembar memang penuh inspirasi. Meski ambyar ceritanya, logika tetap dipatuhi.

--

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun