Mohon tunggu...
Giens
Giens Mohon Tunggu... freelancer

I like reading, thinking, and writing.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Lenong Bukan Khas Betawi

4 Agustus 2016   14:01 Diperbarui: 4 Agustus 2016   14:22 250 6 5 Mohon Tunggu...

Menurut portal resmi Provinsi DKI Jakarta (www. jakarta.go.id), lenong merupakan jenis kesenian teater tradisional rakyat Betawi yang bertema kepahlawanan atau kriminal yang dibawakan dalam dialek Betawi. Masih menurut situs tersebut, lenong dibedakan menjadi dua jenis lenong: lenong denes dan lenong preman. Lenong denes (dines) menggunakan bahasa halus dan mengangkat cerita kerajaan dan kaum bangsawan. Lenong preman menggunakan bahasa sehari-hari dengan cerita kehidupan sehari-hari atau cerita tentang jagoan-jagoan Betawi.

Pertunjukan lenong diiringi gambang kromong. Alat-alat musik yang digunakan meliputi gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan. Selain itu dipakai pula pula alat musik tehyan, kongahyan, dan sukong. Tiga alat musik yang disebut terakhir itu ditengarai merupakan alat musik China (Tionghoa).

Di masa kini, pertunjukan lenong denes hampir tak kedengaran gaungnya. Yang lebih populer adalah lenong premannya. Maka lenong identik dengan lenong preman, terutama dari sisi bahasa yang dipergunakannya.

Suara keras dan demonstrasi kekerasan verbal lainnya merupkan bagian yang sering dipertontonkan dalam lenong preman. Makian kasar semacam bego, bajingan, bangsat, ngaco, belagu,nenek luh, pale luh, monyong luh, dan sebangsanya sering terdengar dari mulut para pemain lenong, bahkan dari mulut pemeran protagonis sekalipun. Jadi jangan kaget kalau suatu saat menonton lenong dan menyaksikan "Si Pitung" memaki bajingan atau bangsat dengan mata melotot dan tangan menunjuk-nunjuk muka orang.

Yang jadi pertanyaan sekarang adalah "benarkah lenong itu khas Betawi"? Benarkah Betawi memiliki tokoh pahlawan dan sekaligus "panutan" yang doyan memaki kasar pada musuh-musuhnya seperti dalam lakon lenong preman?

Kalau lenong memang khas Betawi, maka pencitraan pahlawan yang menunjukkan ketegasan dan keberanian membela kebenaran dengan menggunakan makian kasar tentunya sudah disetujui bersama oleh seluruh masyarakat Betawi.

Maka masyarakat Betawi tentunya tak kaget lagi dengan tipe pemimpin yang bersikap keras dan sering memaki kasar pada pihak-pihak yang dianggapnya merugikan masyarakat. Si Pitung ikon kebanggaan mereka. Kalau ketemu maling, perampok, dan pemerkosa; Si Pitung bukan hanya memakinya dengan makian superkasar, tetapi juga akan menghajarnya sampai "modar".

Namun, ada teori sebaliknya. Bahwa masyarakat Betawi lebih menyukai tokoh yang santun, berwibawa, dan lembut penuh cinta meski pada para penjahat, penipu, dan pemerkosa. Dan citraan Si Pitung dalam lenong preman itu merupakan black campaign pada tokoh Betawi yang sebenarnya. Artinya, lenong itu diadakan untuk mendiskreditkan tokoh Betawi dan pastinya bukan khas Betawi, justru khas pihak yang anti.

So, bisa jadi Si Pitung itu aslinya sangat santun dan penyabar. Tidak suka menggunakan kata-kata keji untuk memaki para penjahat, tidak bermulut comberan kalau kata orang sekarang. Si Pitung selalu menggunakan imbauan persuasif supaya para maling dan penjahat genre lain menyadari kesalahan, Si Pitung tidak pernah menggunakan kekerasan. Citra Si Pitung dalam lenong itu "menyesatkan" dan hanya merupakan propaganda dari lawan yang berniat "menjatuhkan".

Tapi, kalau lenong bukan khas Betawi, lalu khas mana? Khas siapa?

Mari ambil poinnya saja. Lenong menggunakan bahasa sehari-hari masyarakat. Tak jarang menggunakan "makian kasar" dan bahkan "kutukan keji" meski secara keseluruhan tontonannya mengandung tuntunan yang mengetuk moral dan nurani. Kalau (secara sadar maupun tidak) masyarakat Betawi tidak mengakui, maka sebelum diklaim negara tetangga, saya usulkan saja menganggap lenong sebagai khas Basuki.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x